Ekspresi ekspresi skripshit (2)

Published on November 10th, 2014 | by Redaksi Sociozine

0

Kisah Pilu Seorang Pejuang Bersama Map Kuningnya

Sebuah karya curahan hati, yang kutujukan kepada para ‘kaum pengajar’ yang terhormat. Tanpa ada unsur SARA, menjelekkan pihak tertentu, apalagi sampai menyinggung. Ini hanya celotehan dari seorang yang sedang dalam proses penyelesaian studinya, yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan, yang banyak kekurangannya. Mohon segala kritik dan sarannya demi menunjang terciptanya masyarakat yang aman, damai, sejahtera, dan bisa tidur dengan nyenyak bersama seluruh tugas akhirnya. Selamat menikmati bagi yang menghargai, dan selamat sakit hati bagi yang tidak paham makna ini. Hehe

(Somewhere in this earth, 26 Oct ’14 ; 11pm)
SenandungSenja~

 


Hari ini, ternyata masih sama seperti hari kemarin. Langkahku masih gontai, masih malas rasanya menjejakkan kaki ini ke tanah. Pemandangan indah di kiri dan kanan diri pun seolah tak menarik buatku. Padahal begitu banyak keindahan yang cukup bisa membuatku tersenyum simpul, atau sekedar membuat mataku segar.

Masih jelas terbayang, dua hari yang lalu semangatku begitu berapi-api menyelesaikan ini. Dengan sejumlah dopping (roti, kerupuk beras, kopi susu, teh hangat, serta semangkuk mie instant), mata ini tak lepas dari layar laptop kreditanku. Konsentrasi begitu penuh rasanya kutuangkan saat aku melakukan ini. Sesekali kulirik BB dan handphone senterku, apakah ada pesan penyemangat dari orang terdekatku. Ya, karena selain doa dan semangat dari orangtuaku, support dari sang pacar juga menjadi salah satu hal yang paling berpengaruh dalam proses ini.

“Latar belakang, Rumusan masalah, Kajian teori, blablabla…” Oke, selesai. Tinggal diajukan saja esok. Ah, rasanya begitu tidak sabar menunggu hari esok. Menunggu keputusan dari hasil jerih payahku.

Apapun hasil keputusannya, mentalku sudah harus siap menerimanya. Revisian judul sudah jadi ‘kunyahan’, penggunaan teori yang diluruskan sudah jadi ‘cemilan’, dan data yang lengkap juga mutlak harus jadi ‘main course’ didalam proses penyakralan benda ini.

Hari yang ditunggu tiba. Dengan kemeja biru, jeans panjang, dan sepatu ketsku, aku terlihat percaya diri. Ditambah lagi dengan ‘Map Kuning’ yang kupeluk. Kuakui, langkahku sedikit gemetarsaat menyusuri anak tangga fakultas. Ditambah lagi keringat dingin yang sudah mulai bercucuran saat kubuka pintu ruangan jurusanku.

“Permisi..”  ujarku.

“Eh iya, silakan masuk,” sahut ‘Petinggiku’

“Ini tugas saya. Sudah saya revisi sesuai arahan. Mohon bimbingannya,” ujarku lagi.

“Oke kamu tinggalkan saja dulu disini, nanti saya baca. Karena saya sekarang sedang ada urusan jadi mungkin tidak bisa saya periksa sekarang,” tegasnya dengan wajah yang flat dan acuh tak acuh.

…..

“Oh, baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak. Saya permisi dulu,” kataku dengan intonasi kecewa yang tak bisa lagi kututupi.

Akupun keluar ruangan dengan wajah yang tertunduk lemas, bak habis digantungkan perasaannya oleh manusia yang dicintainya.

Dua hari telah berlalu, aku kembali ke gedung megah ber-genre Negeri yang bermacam ragam pemandangan disekelilingku. Sesekali aku tersenyum kepada teman-temanku, dan kembali memasang wajah flat sekaligus bimbang karena masih shock akibat tragedi eksekusi ‘map kuning’ku…

Tok..tok..tok..

Kembali kuketuk pintu ruangan ‘suci’ itu.

“Permisi, saya mau bertanya. Tugas saya yang tempo hari bagaimana ya kelanjutannya? Apakah sudah dibaca lalu dikoreksi?” tanyaku pada salah satu petugas jurusanku.

“Tugas yang mana ya? Atas nama siapa? Kamu? Emang yakin tugas punya kamu bakalan dibaca? Yakin kamu bakalan lulus?” jawab petugas tersebut sembari melempar senyum sinis.

Jlebb!!

Seolah ada kapak 212-nya Wiro Sableng yang menancap direlung dada ini. Nyerinya Tuhan!!!!Kali ini aku dibuat speechless.Lagi.

“Hehehe, ya yakin dong. Ini kan sedang dalam proses menuju kelulusan. Pelan-pelan dong biar hasilnya maksimal. Ya kalaupun saya ndak lulus, urusan saya sama hidup saya dan Tuhan, toh?!” ujarku sembari menahan kesal.

“Hahaha, baiklah. Oh ini punyamu. Belum dibaca kelihatannya. Beliau sedang banyak kerjaan. Jadi kamu mesti sabar ya,” kata si petugas sembari memilah-milah ‘map kuning’ yang berbaris panjang dalam laci filling cabinet-nya.

“Baik. Terimakasih banyak,” ujarku sambil membuka pintu lalu keluar dari ruangan.

Rasanya cepat sekali satu minggu berlalu. Dengan tak bosan-bosannya, aku kembali lagi ke tempat bersejarah ini.

Tok..tok..tok..

Kuketuk lagi pintu ruangan itu.

“Permisi, saya balik lagi nih. Gimana, sudah ada perkembangan dari tugas saya? Sudah hampir 2 minggu saya tinggalkan soalnya,” tanyaku pada petugas yang sama tempo hari.

“Oh, kamu lagi. Sebentar saya cek,” jawabnya sambil mengobrak abrik isi dalam tumpukan ‘map kuning’ yang berjejer diatas mejanya.

Berjejer, ya bertumpuk juga lebih tepatnya. Aku curiga, jangan-jangan malah ada yang sampai berdebu atau bersarang laba-laba.

“Ini punyamu. Sudah diperiksa, sudah diberi pembimbing tetap juga, dan sudah ada revisiannya lagi ya. Hahaha,” ujarnya sambil kembali duduk ke meja.

Alhamdulillah, setidaknya mulai ada titik terang dari ini semua. Ya, paling tidak melihat coretannya saja aku sudah bahagia. Apalagi jika kulihat tanda tangannya yang meng-acc untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Bisa sujud syukur aku di atas atap gedungku.

Se-excited itu kah? YA!!!

Singkat cerita, hari sakral itu akan segera tiba.Rekan-rekan seperjuanganku telah lebih dulu menjadi A Lucky Person. Sudah mulai persiapan fitting kebaya, membeli jas, menyewa toga, dan hal-hal yang membuatku menangis di pojokan kamar. Aku lihat ada rona bahagia diwajah mereka. Aku pikir, mereka adalah rekan ‘Satu Ibu’ku. Rupanya tidak, mereka adalah anak ‘Ibu sebelah’. Setelah kutelisik, anak-anak ‘Satu Ibu’ku, yang menyewa kebaya dan jas, bisa dihitung menggunakan jari jumlahnya, dan dari ‘Bapak’ yang berbeda pula.

Semiris itukah?! YA!!!

“Belum barengan kita tahun ini?!” teriak satu rekanku disaat H-2 menuju prosesi ‘penyakralan’ mereka.

“Belum nih. Masih proses penyelesaian,” jawabku sembari menggenggam erat ‘Map Kuning’ku.

“Oh oke deh. Eike duluan lah ya cyiiinn,” ujarnya sambil tertawa girang riang gembira ala Mak Lampir.

Aku tak menjawab.Aku teruskan langkahkumenuju tangga gedung sambil terus mengepit dan memandang miris ‘map kuning’ku.

“Heh!Kamu ngapain disini?! Belum sama mereka disana?!” Kata seorang ‘Petinggi’ yang baru kulihat sepatunya dan belum kulihat wajahnya.

“Eh anu… itu… belum sekarang!!!” teriakku kencang dengan nada terkejut hingga terjatuhlah ‘Map Kuning’ yang bagai nyawa keduaku itu…

Bersambung…

Penulis :  Irma Sari mahasiswa Sosiologi Semester 9 FISP Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau.

Tags: , , ,


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑