Ekspresi lelaki perindu surau

Published on March 11th, 2014 | by Eveline Ramadhini

1

Lelaki Perindu Surau

“Bunuh saja si lelaki bedebah itu!” Teriak salah seorang di tengah khalayak ramai, membuat orang-orang semakin bernafsu mengeroyoki seorang lelaki yang katanya pencuri itu. Suasana sangat bising tak karuan disebabkan suara baku hantam yang memecah keheningan desa itu. Para warga perempuan pun hanya melihat panik dan mendesis takut tanpa berusaha melerainya, seolah sedang mendapatkan tontonan gratis. Karena tak betah melihat, para perempuan itu mengajak anak-anak mungilnya untuk mengevakuasi diri ke balik bilik-bilik bambu yang mereka diangi. Aktivitas sempat lumpuh sebab keributan itu. Para lelaki sibuk menghantam, sedang para perempuan sibuk mengatur anak-anaknya untuk bersembunyi di rumah.

“Astagfirullah, sudah! Sudah! Apa-apaan kalian ini?” Teriak salah seorang tua memecah kerumunan warga. Suasana hening sesaat disebabkan kedatangannya.

Lelaki berpeci itu menghampiri lelaki yang bengap oleh hantaman-hantaman yang mendarat di sekujur tubuhnya yang kurus kering.

“Apa-apaan kalian ini? Jangan main hakim sendiri, itu tidak baik! Bubar kalian!” Teriak kakek itu sampai terbatuk-batuk. Orang-orang lantas pergi dengan mendesis keheranan. Mereka tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun, sebab merasa bahwa lelaki pencuri itu memang pantas dihabisi. Belum usai mereka bubar, tiba-tiba seorang provokator berteriak,

“Hei, Pak Tua! Orang asing ini adalah pencuri, seharusnya lelaki itu pantas untuk mati!” Suasana hening seketika.

“Apa kalian tidak tahu bahwa lelaki ini gila? Dia memapahkan kaki dari desa ke desa hanya untuk sekedar mencari makan. Lihatlah wajahnya yang lusuh dan bajunya yang compang-camping. Apakah kalian tidak menyadarinya? He?” Kakek itu sengaja berkata bohong demi melindungi lelaki bengap itu. Warga yang sempat memukuli lelaki pencuri itu pun membiarkan kakek tua itu membopong tubuh lelaki bengap yang tubuhnya penuh luka.

***

 “Burhan, kau sudah bangun, Nak?” Ucap kakek itu cemas. Burhan terbangun dan agak kaget serta bertanya dalam benaknya tentang di mana keberadaanya saat ini. Kepalanya terasa pusing dan baru setengah sadar. Setelah kesadarannya penuh dari semaputnya yang tujuh jam, ia mencoba duduk dan kakek tua itu membantunya.

“Kau siapa? Aku di mana? Mengapa kau tahu namaku?” Burhan mencanangkan bertubi- tubi pertanyaan.

“Aku adalah seorang lelaki renta yang mencoba menolongmu dari orang-orang yang memukulimu,”

Kepala Burhan pening mendengarnya. Ia coba mengingat-ingat kejadian kemarin sore yang menyebabkan nyeri di sekujur tubuhnya yang kurus kering tak berdaging. Akhirnya sedikit demi sedikit, Burhan ingat tentang kejadian kemarin sore. Burhan terdiam, lama sekali. Suasana sangat hening sampai kakek tua itu membuyarkan lamunan Burhan.

“Kau belum makan, nak… Ayo makan dulu!” Tawarnya sambil menyodorkan bungkusan nasi berisi lauk seadanya. Burhan pun makan dengan lahapnya, karena sudah seharian penuh Burhan tidak mengisi makanan ke perut kempesnya. Mulutnya terus memaksa mengunyah meski sebenarnya wajahnya yang bengap itu agak susah mencerna makanan akibat luka-luka yang dideritanya.

***

Seminggu sudah Burhan bertempat tinggal di rumah kakek tua itu. Burhan mulai terbiasa memanggilnya dengan sebutan Abah. Luka-luka yang berdiang di tubuh Burhan sudah mulai mengering karena jasa Abah yang dengan tabah mengobati Burhan dengan ramuan yang ditumbuknya sendiri, sehingga berangsur-angsur keadaan Burhan mulai pulih.

Burhan mulai heran, seringkali Abah pergi entah ke mana. Burhan sering bertanya-tanya dalam hatinya. Demi menjawab pertanyaan yang semakin membludak, Burhan suatu kali mengikuti Abah. Usut punya usut, Abah pergi ke sebuah surau kecil yang melewati jalan setapak di pesawahan. Burhan kini tak heran, karena biasanya Abah memang sering memakai sarung dan peci hitamnya yang mulai luntur. Tetapi yang diherankan Burhan adalah suara adzan yang dilantunkan oleh Abah. Suara merdu itu terdengar begitu mengusik telinganya yang tuli akan kebaikan. Saking merdunya, suara itu meresap sampai ke hati terdalam Burhan yang sekeras baja akibat dosa-dosa yang  bagi Burhan seluas lautan lepas—sungguh tak terhingga. Tiba-tiba muncul ingatan tentang masa lalu—masa remajanya yang bagi Burhan bukan masa-masa paling indah seperti kebanyakan remaja lainnya.

***

Bruk! Burhan kecil tersungkur ke tembok. Badannya serasa remuk semua, entah sudah keberapa kalinya Burhan merasakan pukulan dari bapaknya.

“Burhan, kau ini mau jadi apa? He?” Bentaknya keras.

“Shalat kau tidak pernah, mengaji pun kau membolos? Sebenarnya mau kau apa, he?” Logat bataknya kental memenuhi telinga Burhan. Burhan kecil hanya menangis menahan sakit, baik sakit di badannya maupun sakit di hatinya.

“Mamak… Mamak…” Ucapnya tersedu-sedu memanggil nama mamaknya yang amat dirindukan. Mamaknya sudah amat jauh pergi meninggalkan Burhan. Burhan kecil sudah tak kuat dengan segala kelakuan bapak. Mamaknya pergi untuk selamanya karena bapak. Ya, suatu kali Burhan mendapati bapaknya sedang berzinah dengan pelacur lampu merah. Karena kesal, Burhan pun memberitahukan kepada Mamak. Sesampainya di sana, Mamak memergoki bapak yang tengah melakukan perbuatan keji itu. Tertangkap basah, bapak malah marah-marah pada mamak. Seharusnya mamak-lah yang pantas marah-marah pada bapak. Pertengkaran hebat pun terjadi. Dari adu mulut yang tersulut menjadi adu jotos. Tak membutuhkan waktu lama, tentu bapak yang lebih kuat-lah yang menang. Bapak menampar keras mamak sampai mamak tersungkur ke tanah. Darah segar mengalir dari telinga mamak Burhan. Burhan kecil yang menyaksikannya hanya bisa menangis lagi sejadi-jadinya. Bapak hanya berdiri sambil memandang tangan bekas menampar mamak dengan wajah tak percaya.

Burhan berteriak keras “Mamaak….!”

Burhan kecil pingsan di dada mamaknya yang sudah tak bernyawa. Orang-orang menghampiri, tak lama kemudian datang polisi memborgol tangan bapak.

Burhan tak sadarkan diri selama hampir tiga jam. Setelah bangun dari semaputnya, Burhan terkaget-kaget melihat banyaknya orang-orang dan para tetangga yang sedang mengaji Yaasiin. Di tengah-tengahnya terdapat seseorang yang terbaring dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya.

“Mamaak….!” Lagi-lagi tangis memecah lagi dari pelupuk mata Burhan. Nama mamaknya disebut berulang-ulang. Burhan kecil sungguh tak percaya dengan kejadian ini. Di umurnya yang menginjak 12 tahun, sesungguhnya belum pantas merasakan derita berkepanjangan ini. Sebatang kara. Itulah kata yang tepat untuk Burhan.

***

Itulah awal kehidupan baru Burhan kecil yang kelam. Ibu meninggal, bapak masuk penjara. Lengkap sudah penderitaan bagi Burhan kecil. Burhan yang putus asa dan sebatang kara akhirnya hidup di jalanan. Dari mulai mengamen, mengemis sampai mencopet pernah dilakoninya hanya demi mengisi keroncong perutnya. Tidur di emperan took adalah kesehariannya. Pakaiannya lusuh, wajahnya kumal tak pernah mandi dan sikat gigi. Resmilah kini ia sebagai bagian dari jalanan kota. Maka ia mengerti, mengapa ia digebuki dan dianggap orang gila oleh Abah yang sudah berbaik hati mau mengangkatnya dari lembah hitam bernama jalanan. Mengenang masa kecilnya hanya membuat hatinya sakit dan perih; hanya mengorek luka yang sudah menganga. Tinta hitam di kehidupannya di masa kecil ingin ia buang jauh-jauh di dasar hatinya.

***

 Kini Burhan dewasa mulai terlihat gemuk kekar. Jenggot dan jambangnya sudah dicukur. Kini Burhan dewasa menjelma seorang lelaki tampan. Semua itu berkat Abah yang mau menariknya dari kelamnya lembah kehidupan. Kerja sehari-harinya kini bukan lagi mencopet, mengamen maupun mengemis. Ia mencangkul sawah milik Abah. Meski hanya seluas 3 x 3 meter, tapi Burhan amat bahagia dengan keadaannya yang sekarang. Sampai tiba suatu peristiwa yang tak pernah diduganya.

***

Setelah Burhan letih menggarap sawah seharian, mentari yang meninggi mengajak Burhan untuk membersihkan diri dari lumpur-lumpur sawah. Demi bersiap-siap menunaikan shalat dzuhur bersama Abah, meski surat al-fatihah pun sudah lupa-lupa ingat, Abah dengan sabar menuntunnya sampai benar-benar hafal. Jamaah kini sepi, hanya tinggal mereka berdua, Abah dan Burhan. Empat mata mereka duduk berhadapan. Semilir angin menduduki wajah mereka berdua. Seperti biasa Burhan mencium punggung tangan Abah, layaknya orang tua dan anak. Suasana hening seketika. Sesekali hanya ada senandung burung gereja. Akhirnya Abah memulai pembicaraan, memecah keheningan.

“Nak, sebenarnya Abah berat mengakui hal ini. Tapi ini harus diungkapkan,” Ungkap Abah sambil menatap wajah Burhan. Matanya mulai berkaca-kaca seolah menahan sesuatu.

“Iya, Abah, ungkapkan saja, tak usah sungkan-sungkan,” Ucapnya lembut.

“Tapi Abah takut engkau marah dan tak terima,”

“Tak apa, Abah, Burhan takkan marah,” Burhan mulai penasaran.

“Sebenarnya, Abah adalah bapakmu yang dulu selalu kasar padamu. Kau tak ingat wajahku, nak?”

“Apa?!” Burhan sungguh terkejut. Ia benar-benar tak percaya. Bapaknya yang dulu adalah lelaki keji, kini menjadi lelaki perindu surau yang suara adzannya mampu meruntuhkan tembok-tembok hati yang keras. Air mata kini tak dapat dibendungnya lagi oleh Burhan. Setelah dua puluh tahun lamanya tak bersua, mereka berpeluk di heningnya surau. Sedu-sedan kini yang jadi pemecah hening, suara burung gereja pun hanya terdengar samar akibat tangis mereka berdua.

Tags: ,


About the Author

Eveline Ramadhini

Seorang mahasiswi Sosiologi angkatan 2013. Pemerhati tatanan masyarakat maya. Tertarik pada isu sosial makro dan Sastra Indonesia. Twitter: @EvelinRmdhn.



One Response to Lelaki Perindu Surau

  1. Kaylan says:

    Imvrsseipe brain power at work! Great answer!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑