Info dekann

Published on May 30th, 2015 | by Redaksi Sociozine

0

Gerakan FISIP bersuara, 28 Mei 2015

Keluh kesah mahasiswa FISIP UI (Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Indonesia) terhadap kebijakan-kebijakan kontroversial kini mendapatkan angin segar. Dekan FISIP UI, Dr. Arie Setiabudi Soesilo, MS.c setelah beberapa kali dimintai berdialog dengan mahasiswa terkait kebijakan-kebijakan di FISIP UI, kini mau bertemu dengan mahasiswa pada hari Kamis, 28 Mei 2015 di Plasa FISIP UI.

Dialog yang dijadwalkan mulai pukul 17.00 WIB, baru dimulai setengah jam setelahnya karena keterlambatan dekan. Dialog dimulai dengan sambutan hangat yel-yel FISIP seluruh mahasiswa yang hadir.

Beberapa hal yang hendak dipertanyakan kepada dekan adalah, mengenai kebijakan yang dirasa satu arah dan tidak melibatkan seluruh keluarga FISIP UI termasuk mahasiswa. Beberapa kebijakannya antara lain mengenai jam operasional, kawasan tanpa rokok, aturan berpakaian, dibebas tugaskannya satpam, dan lain sebagainya.

 dddd

Untuk jam operasional sendiri, bedampak pada acara himpunan, BEM, atau lembaga dan komunitas mahasiswa lainnya yang tidak dapat berjalan sesuai dengan harapan atau yang sudah dijadwalkan. Oleh karenanya, acara menjadi kurang optimal. Mantan ketua BEM FISIP UI, Bara (Kriminologi 2011), menyatakan bahwa adanya jam operasional mengurangi ruang-ruang kreatifitas mahasiswa di luar jam kuliah.

Selain itu, jam operasional kantin Yong Ma (Takor) pun terbatas hingga pukul 20.00 WIB saja. Menurut tuturan beberapa mahasiswa saat dialog sedang berlangsung, terbatasnya jam operasional kantin Yong Ma ini merugikan mahasiswa dan juga pedagang. Mahasiswa yang berkegiatan hingga malam dan merasa lapar, akan sulit mencari makanan di kampus FISIP UI. Begitupun dengan para pedagang yang mungkin dengan adanya kebijakan tersebut mengurangi keuntungan mereka. Dekan menganggap bahwa, jam operasional itu perlu dan ia mencemaskan kegiatan-kegiatan hingga malam yang mendapatkan protes dari orangtua mahasiswa, ditambah kegiatan malam yang mengganggu kegiatan kuliah yang diadakan malam hari.

Lalu, kawasan tanpa rokok yang belum mendapatkan kepastian. Banyaknya poster atau banner larangan merokok di FISIP mungkin sudah berjalan. Tetapi, mahasiswa menuntut bahwa kawasan rokok terlalu jauh dan kebijakan tidak dirundingkan dengan para perokok di FISIP itu sendiri. Padahal, perokok bisa memberikan beberapa saran terkait wilayah-wilayah mana yang mungkin bisa dijadikan kawasan rokok. Atau aturan seperti apa yang layak dijalankan.

Aturan berpakaian pun demikian, stand banner sudah dipasang dan disebar di beberapa gedung di FISIP dengan contoh berpakaian yang baik, tanpa ada rundingan terlebih dahulu. Menurut dekan, hal ini terjadi kesalahan dari timnya sendiri. Contoh berpakaian yang tertera di stand banner mendapatkan interpretasi bermacam-macam dari mahasiswa FISIP karena berupa gambar atau model berpakaian yang benar dan salah tanpa ada deskripsi aturan berpakaian.

Terakhir, dibebas tugaskannya satpam lama FISIP UI dan digantikan dengan satpam baru. Menurut bapak dekan, satpam di FISIP dibebas tugaskan untuk mendapatkan pelatihan hingga akhirnya akan ditugaskan kembali. Akan tetapi, menurut mahasiswa dan satpam sendiri, dibebas tugaskan satpam FISIP tidak dirundingkan dan diinformasikan terlebih dahulu.

Dialog yang berlangsung kurang lebih satu jam, belum mendapatkan suatu kesimpulan. Dikarenakan keterbatasan waktu, dan jawaban dekan yang tidak langsung ke permasalahan. Menurut moderator, Hafizh Nuur (Ilmu Politik 2012), “pernyataan dari dekan ga langsung straight to the point gitu. Pernyataan dari dekan itu, kalau gue sendiri menyimpulkan, terlalu banyak berputar-putar. Tadi, gue berulang kali berusaha untuk motong pernyataan dari dekan supaya balik ke substansi dari penyataan, tapi toh dia malah kebanyakan curhat disini.” Banyak pertanyaan-pertanyaan kritis dari mahasiswa yang tidak terjawab, seperti pertanyaan mengenai izin kegiatan mahasiswa malam hari yang dibatasi karena mengganggu kuliah, tetapi kegiatan komersial di lingkungan FISIP yang diadakan siang hari dan menggunakan sound system yang keras diperbolehkan; dan pertanyaan mengenai proses pengambilan keputusan hingga kebijakan dijalankan pun tidak terjawab.

Kritik-kritik yang bermunculan merupakan salah satu bentuk evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan yang dijalankan. Kurang berjalannya kebijakan dekan, bisa dikarenakan kurangnya penerimaan aspirasi dari warga FISIP, ataupun perencanaan yang kurang matang dari dekan. “Pada dasarnya, sebetulnya, semua kebijakan gak masalah diterapkan asal sebelumnya melalui proses diskusi. Jadi, itu sih point utamanya. Kalau misalnya kebijakan mau diterapkan, jangan pake asumsi dari elitis aja, tapi juga pake diskusi dulu kira-kira anak FISIP-nya maunya gimana dan masukan dari anak FISIP apa” ucap Hafizh Nuur.

Untuk keberlanjutan dialog akan diadakan pada Kamis, 11 Juni 2015. Tanggal tersebut dihasilkan dari hasil rundingan mahasiswa dengan dekan, diikuti desakan dari seluruh mahasiswa yang belum puas dengan dialog sore itu.

#FisipBersuara

Info lebih lanjut, add Line official FISIP Bersuara: bit.ly/FISIPBersuara

Tags: , , , ,


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑