Info aDSC_0245

Published on April 23rd, 2016 | by Redaksi Sociozine

0

Lysistrata: Sebuah Lakon Perjuangan Wanita

aDSC_0245

Senin (18/04), Malam itu, area sekitar Graha Bhakti Budaya di Kompleks Taman Ismail Marzuki tampak ramai dipadati oleh muda-mudi penikmat seni. Rintik hujan tak menyurutkan antusiasme mereka untuk menyaksikan sebuah pementasan teater yang dijadwalkan pentas pukul 18.30 WIB. Hal ini tidak mengherankan, mengingat bahwa pementasan teater tersebut merupakan hasil karya Teater Paradoks FISIP UI yang juga merupakan pentas tunggal pertama komunitas teater ini di kancah luar kampus. Disutradarai oleh Dhuha Ramadhani, pementasan ini mengadaptasi sebuah naskah purba berjudul Lysistrata oleh Aristhopanes yang kemudian ditulis ulang oleh W.S Rendra.

Pementasan Lysistrata berkisah tentang perjuangan kaum perempuan bangsa Athena dan Sparta dalam upaya perdamaian dan pencegahan perang oleh kaum laki-laki antara kedua bangsa tersebut. Lysistrata—yang merupakan nama tokoh utama dalam pementasan ini—adalah sosok pelopor yang mengidam-idamkan perdamaian serta menghapuskan subordinasi perempuan akan laki-laki. Statusnya sebagai perempuan bangsa Athena tak menghalangi Lysistrata untuk mengajak kaum perempuan bangsa Sparta untuk ikut serta dalam merobohkan jurang antara kaum laki-laki dan perempuan, dan juga mencegah ancaman perang antara bangsa Athena dan Sparta. Berbagai siasat pun dilakukan oleh Lysistrata demi membujuk kawan-kawan seperjuangannya agar mau mengikuti gagasannya—seperti misalnya melakukan aksi “mogok” berhubungan suami-istri. Siasat-siasat ini tentu saja tidak luput dari aral melintang, seperti misalnya keengganan perempuan-perempuan lain dalam mengikuti aksi mogok tersebut, serta hadirnya Kaum Lelaki yang beberapa kali datang menggoda.

aDSC_0018

Dibuka dengan monolog Lysistrata di atas panggung, penonton diajak menyelami karakter Lysistrata sebagai perempuan yang berani, percaya diri dan idealis. Tokoh-tokoh perempuan lain dalam pementasan inipun tidak kalah menonjol, sebab yang ditekankan adalah bagaimana perempuan—baik sebagai individu maupun suatu kaum—dapat menjadi diri mereka sendiri, tanpa dibayang-bayangi otoritas kaum lelaki. Lakon perjuangan Lysistrata beserta kaum perempuan bangsa Athena dan Sparta yang berdurasi sekitar 120 menit ini mampu membuahkan gelak tawa dari penonton. Tema yang cukup berat dan merupakan isu besar dalam sejarah peradaban manusia, yaitu kesetaraan gender, disajikan dalam pementasan Lysistrata secara jenaka dengan selipan lelucon-lelucon nakal yang masih layak didengar sehingga menarik dan tidak membosankan. Penggunaan bahasa yang telah dilebur ke dalam

Dijumpai seusai pementasan, Larasati yang berperan sebagai Mirina—karakter perempuan tidak mau kalah—dalam pementasan Lysistrata mengatakan, “Bagiku Lysistrata berarti perjuangan perempuan untuk meminta kesetaraan hak. Awalnya kita ngambil jalan yang keliru—lewat mogok asmara, tapi akhirnya kita tahu kalau itu salah dan memilih untuk diskusi.” Tak berbeda dengan Larasati, Genta yang datang untuk menonton pementasan ini dengan teman-temannya pun mengatakan hal yang serupa. “[Pementasan Lysistrata] Seru banget. Ceritanya juga keren, karena tentang empowering women,” ucapnya.

aDSC_0285

Pementasan Teater Lysistrata oleh Teater Paradoks FISIP UI sangatlah pantas diapresiasi. Sebab, pada akhirnya, Lysistrata merupakan sebuah simbol bagi perjuangan perempuan dan semangat feminisme—yang pada dasarnya adalah perjuangan menuntut kesetaraan, bukan penindasan terhadap kaum lelaki dan bukan pula asumsi konyol perihal “perempuan itu lemah, jadi laki-laki harus kuat”. Lysistrata ada dalam diri, menunggu untuk disulut api—sama halnya dengan semangat tokoh nasional, Ibu Kita Kartini.

Tags: , , , ,


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑