Info n

Published on April 18th, 2015 | by Redaksi Sociozine

2

Pemutaran dan diskusi film Samin vs Semen: Solidaritas mahasiswa Universitas Indonesia untuk masyarakat Rembang

Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed

-Mahatma Gandhi

Tidak hanya di perkotaan saja kasus perusakan lingkungan melalui tangan-tangan yang tak bertanggung jawab dan oknum-oknum tertentu dilakukan. Ternyata, kondisi ini terjadi hingga ke daerah-daerah di Indonesia. Perbedaannya di daerah kecil, perusakan lingkungan besar-besaran sering kali dilakukan oleh pihak-pihak yang mementingkan kepentingan sendiri, dan tidak memedulikan hak-hak penduduknya. Meskipun, penduduk sangat ingin menjaga lingkungan tempat mereka tinggal, dan dari lingkungan itu lah mereka dapat bertahan hidup.

Kasus pembangunan pabrik Semen Indonesia di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, merupakan salah satu kasus perusakan lingkungan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki otoritas leb. Pembangunan pabrik ini mendapatkan respon negatif dari warga Rembang, karena pembangunan pabrik ditakutkan akan berdampak pada lingkungan, terutama pada ekosistem tanah, dan akan menghilangkan resapan air.

Gerakan masyarakat dalam menolak pembangunan dan kegiatan pabrik Semen Indonesia di Rembang pun tidak semata-mata dilakukan oleh masyarakat Rembang saja. Kepedulian muncul dari banyak pihak dalam mendukung hak-hak warga Rembang.

S__14581772

Kamis, 16 April 2015 malam, sekelompok organisasi mahasiswa di Universitas Indonesia menyelenggarakan pemutaran dan diskusi film “Samin VS Semen”, sebagai suatu bentuk kepedulian atas hak-hak warga Rembang yang perlu diperjuangkan. Film karya Dandhy Laksono ini, menggambarkan perlawanan masyarakat pegunungan Kendeng melawan perusahaan Semen Indonesia yang hendak mengeruk ratusan hektar sawah mereka demi pembangunan pabrik semen.

“Tujuan dari kegiatan ini, kami pengen memberikan suatu simpati, walaupun kami jauh Rembang – Depok, tapi kami care akan saudara kita yang sedang ditindas oleh korporasi negara. Kami pengen masyarakat aware bahwa penindasan sedang terjadi”, ucap Putut, salah satu pelaksana kegiatan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh sekelompok organisasi mahasiswa, antara lain,  SEMAR UI,  Garda Sastra FIB UI, Siaga FISIP UI, KAPA FT UI, BEM FIB UI, dan BEM FISIP UI. Film ini diputar di pelataran stasiun UI dan dimulai pukul 19.15 WIB dengan disambut antusiasme penonton yang memadati pelataran stasiun.

 S__14581776

Pemutaran film dokumenter diakhiri dengan tepuk tangan meriah sebagai bentuk dukungan terhadap warga Rembang, dan dilanjutkan dengan acara diskusi bersama happy wheels demo empat orang pembicara, yaitu Perdana Putri (Mahasiswi FIB UI, anggota Semar UI dan Komune Rakapare), M. Andri Gunawan Wibisana (Dosen Hukum Lingkungan FH UI), Saras Dewi (Kepala Program Studi Filsafat FIB UI), dan Hendro Sangkoyo (School of Democratic Economics).

 S__14581778

“Ini merupakan gejala neo-stratifikasi” ujar Hendro Sangkoyo ketika menjelaskan eksploitasi sumber daya alam secara brutal. Menurut Hendro, pembangunan kini telah menjadi rezim yang saling berjejaring. “Misalnya pembangunan real estate yang menggusur warga Karawang, itu-pun memiliki kaitan dengan pembangunan pabrik semen yang kini menggusur warga Rembang.”

Sedangkan bila dilihat dari kacamata hukum lingkungan, Andri Gunawan menjelaskan bagaimana AMDAL (Analisis Masalah dan Dampak Lingkungan) justru menjadi justifikasi bagi perusakan lingkungan itu sendiri. Andri menjelaskan pula mengenai gugatan PTUN yang telah kadaluwarsa. Selain itu, beliau menjelaskan bahwa terdapat jalur hukum lain yang dapat ditempuh dalam kasus ini, misalnya class action atau individu.

“Perusahaan terlihat sangat arogan ketika mengatakan bahwa sumber daya yang ada harus bisa dikuasai. Sementara ibu-ibu Rembang memandang alam sebagai sesuatu yang metabahasa” papar Saras Dewi. Saras, yang juga turut mengawal kasus Rembang, mengaku kecewa dengan sikap akademisi yang melacurkan ilmu pengetahuan pada perusahaan.

Pemaparan Saras didukung dengan pengalaman Perdana Putri yang komunitasnya dilarang masuk kedalam kelas Studium Generale (SG) oleh PT. SI di ITB pekan lalu. Perdana memaparkan bagaimana aksi solidaritas mahasiswa terus dilawan melalui kelas-kelas SG yang digelar oleh PT. SI di beberapa universitas besar di Jawa. Meski hal ini, menurut Perdana, tidak menyurutkan semangat dalam menyuarakan keadilan bagi warga Rembang.

“Kasus Rembang ini hanya kasus kecil saja, di luar itu banyak ratusan konflik agraria yang terjadi di Indonesia dan kebanyakan merugikan warga, dan hampir korporasi yang menang.” Ujar Putut.

Oleh karena itu, apa kita akan berdiam diri saja melihat penindasan ini terus terjadi?

Tags: , , , , , , , , , , , , 1


About the Author

Redaksi Sociozine



2 Responses to Pemutaran dan diskusi film Samin vs Semen: Solidaritas mahasiswa Universitas Indonesia untuk masyarakat Rembang

  1. Pingback: Apa Jadinya Ya Kalau Kelas-kelas Ini Dibuka di SIAK-NG? - anakUI.com

  2. Keren., seandainya bisa diputar diseluruh kampus di Indonesia pasti bagus sekali.,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑