Kajian media-sosial

Published on September 25th, 2017 | by Redaksi Sociozine

0

Kampanye via Media Sosial: Terobosan di Era Millennial?

oleh

Ahmad Syah Rafsanjani

Divisi Kajian dan Keilmuan

Himpunan Mahasiswa Sosiologi

2017

Perkembangan zaman dan teknologi tidak dapat dihindari lagi. Berbagai perubahan dapat dirasakan seiring berkembangnya zaman. Perkembangan zaman tidak hanya memperlihatkan perubahan yang dapat dilihat secara fisik, namun juga mempengaruhi kehidupan sosial. Salah satunya adalah penggunaan internet yang semakin masif. Berdasarkan data yang diambil dari kominfo.go.id pada tahun 2013, pengguna internet di Indonesia mencapai angka 63 juta jiwa.[1] Tindakan-tindakan yang umumnya dilakukan secara konvensional, kini mulai terdigitalisasi. Contohnya seperti berbincang di grup chat media sosial sebagai substitusi berkumpul langsung dengan teman-teman di suatu tempat yang mungkin disebabkan berbeda kota, sibuk karena urusan masing-masing,  menjadi hal yang umum. Tidak hanya itu, gerakan sosial, seperti kampanye untuk kemanusiaan kini memanfaatkan internet dan media sosial sebagai ‘wadah’ perjuangan.

Menurut Macionis (2012). gerakan sosial adalah suatu gerakan yang mengusahakan atau mencegah perubahan, dan umumnya memberikan pengaruh yang tahan lama pada masyarakat. Gerakan sosial melalui media sosial merupakan bagian dari New Social Movements (Gerakan Sosial Baru) pada masyarakat postmodern dengan mencakup skala global dan berfokus kepada isu terkait kualitas hidup (Macionis, 2012).  Masyarakat postmodern tercipta karena revolusi informasi yang membentuk karakteristik pola sosial yang baru (Macionis, 2012). Media sosial adalah media yang membiarkan seseorang untuk bersosialisasi secara online dengan berbagi konten seperti berita, foto, video, dan sebagainya dengan orang lain (Taprial dan Kanwar,  2012). Menurut Taprial & Kanwar (2012), media sosial dapat memberdayakan orang untuk mengekspresikan opini dan pemikiran serta membagikannya kepada banyak orang, sehingga cocok dijadikan sebagai kanal perjuangan dari gerakan sosial.

Selanjutnya, media sosial mulai berkembang pada generasi millennial. Menurut Howe dan Strauss dalam Keeling (2003), generasi millennial dimulai sejak generasi yang lahir pada tahun 1982, yang seperti dilindungi oleh orang tua dan masyarakat mereka, karena mereka didorong untuk memperbaiki dunia di sekitar mereka, berdasarkan kebajikan mereka serta dinilai sebagai generasi yang optimistis, kooperatif, taat peraturan, serta terdiri atas beragam ras dan etnis. Ciri-ciri lain generasi Millennial menurut Hoke (2004) adalah cepat berpikir, mudah beradaptasi, dan berkembang mengikuti perubahan. Definisi lain dari generasi millennial adalah seseorang yang lahir sekitar milenium (periode 1000 tahun), yaitu sekitar tahun 2000.[2]

Isu mengenai kemanusiaan yang diangkat oleh gerakan sosial baru adalah seperti kampanye kemanusiaan untuk Rohingya, Myanmar yang digagas oleh walikota Bandung, Ridwan Kamil sejak 5 September 2017 melalui situs kitabisa.com. Kampanye yang digencarkan juga dipromosikan melalui akun instagram pribadi milik Ridwan Kamil yang berisi ajakan untuk mendonasikan dana dengan target sebesar Rp1.000.000.000 (satu milyar rupiah) dalam seminggu, untuk membantu meringankan penderitaan warga etnis Rohingya yang mengalami kekerasan serta genosida yang dilancarkan oleh aparat militer dan mendapatkan dukungan dari pemerintah Myanmar.

Selain itu, kampanye melalui media sosial juga dapat dilihat pada petisi online yang digagas oleh Dewi Anggraeni yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo terkait permohonan agar tidak memberikan remisi bagi koruptor. Petisi tersebut mendapatkan lebih dari 11.000 tanda tangan online. Akhirnya, Presiden Jokowi menolak draf revisi PP Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

Melihat berbagai gerakan sosial yang berwujud kampanye di media sosial tersebut, muncul sebuah pertanyaan, sejauh manakah efektivitas kampanye gerakan sosial melalui media sosial dalam mengubah suatu keadaan sehingga bisa benar-benar disebut sebagai sebuah gerakan sosial? Bahkan sampai terdapat istilah yang skeptis terhadap hal ini menyebut mereka yang berpartisipasi melalui media sosialnya sebagai keyboard warrior, yaitu mengacu kepada seseorang yang keras dalam berbicara dan beropini secara online, namun tidak pernah mewujudkan hal tersebut dalam sebuah aksi di dunia nyata (Desborough, 2017) sehingga pertanyaan selanjutnya adalah apakah orang-orang yang berpartisipasi dalam suatu kampanye online benar-benar beraksi secara nyata?

Media sosial yang mulai muncul pada abad ke-21, bertepatan dengan hadirnya generasi millennial membawa perubahan sosial yang salah satunya adalah perubahan bentuk gerakan sosial. Gerakan sosial baru yang mulai ada sejak beralihnya masyarakat modern menjadi masyarakat postmodern bertujuan untuk peningkatan kualitas hidup. Isu-isu kemanusiaan yang diusung dalam gerakan sosial baru melalui kampanye media sosial menjadi sebuah cara baru untuk beraksi secara maya. Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah dengan pembentukan opini di dunia maya dan aksi sekadar menekan tombol di gawai benar-benar dapat menyelesaikan masalah yang terjadi di dunia nyata? 

Editor: Hanza Bachtiar 

Daftar Pustaka

Buku:

Desborough, James. 2017. Inside Gamergate: A Social History of the Gamer Revolt. Andover: Postmortem Studios.

Macionis, John J. 2012. Sociology.Boston: Pearson.

Taprial, Varinder; Kanwar, Priya. 2012. Understanding Social Media. Copenhagen: Ventush Publishing ApS.

Jurnal:

Hoke, Lee. (2004). The Millennial Generation and Strategic Opportunities for Your Club. Club Management, 83, 4, 20-24.

Keeling, Sarah. (2003). Advising The Millennial Generation. NACADA Journal, 23, 30-36.

Website:

Bintang. (2013, November 7). Kominfo : Pengguna Internet di Indonesia 63 Juta Orang. Retrieved September 7, 2017, from kominfo.go.id: https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker

Ihsanuddin. (2016, December 22). 6 Kemenangan Petisi “Online” Sepanjang 2016. Retrieved September 16, 2017, from Kompas.com: http://nasional.kompas.com/read/2016/12/22/14053731/6.kemenangan.petisi.online.sepanjang.2016

Ridwan Kamil untuk Rohingya. (2017, September 5). Retrieved September 7, 2017, from kitabisa.com: https://kitabisa.com/bersamabanturohingya

https://www.instagram.com/p/BYvBZWTDYzl/?hl=en&taken-by=ridwankamil Diakses pada tanggal 7 September 2017 pada pukul 22.00 WIB.

http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/millennial Diakses pada tanggal 16 September 2017 pukul 21.36 WIB

[1] https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker Diakses pada tanggal 7 September 2017 pukul 20.18 WIB

[2] http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/millennial Diakses pada tanggal 16 September 201 pukul 21.36 WIB


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑