Kajian twitter-bird-black-silhouette

Published on August 16th, 2017 | by Lutfi Kurniawan

1

Konstruksi Identitas dan Ragam Polemik di Media Sosial Twitter pada Era 2009-2010

oleh Lutfi Kurniawan

Halo, followback ya! Salam kenal!

“@… Followback yaa, thanks before!”

“@… Followeed. Siapa di manaa?”

“@.. Gue (nama), dr Jakartaa. Lo sendiri drmn?”

“At PIM. Anyone?”

“#FollowFriday @username @username @username

“#infolimit @username lg limit nih RT yaa

Kira-kira begitulah potret kecil mengenai media sosial yang satu ini di era tahun yang menjadi judul tulisan ini – ya, di era 2009 dan 2010. Hal-hal yang memang seyogianya dan sepantasnya seperti apa sebuah media sosial itu digunakan, yakni mencari teman dan relasi baru, terjadi dengan intens dan leluasa kala itu. Meskipun pada era tersebut ada beberapa media sosial yang juga berdampingan dan seakan-akan “bersaing” dengan media sosial yang satu ini; seperti Facebook, Friendster, Plurk, dan lain sebagainya, media sosial ini tetap menjadi trend tersendiri bagi para penggunanya yang sudah aktif pada era itu. Layaknya media sosial yang dijadikan tempat “hijrah”, Twitter, di era tersebut, memiliki pengguna yang sangat banyak, khususnya di negara kita tercinta, Indonesia.

Jika ingin dibuat komparasi (perbandingan), saat ini pun banyak sekali media sosial yang dijadikan tempat “hijrah” bagi para penggunanya. Seperti yang kita tahu saat ini media sosial pun makin berkembang pesat. Ada Instagram, Snapchat, Path, dan sebagainya. Media sosial yang saya jadikan komparasi dengan Twitter untuk era sekarang ini yang semakin milenial adalah Instagram.

Tak bisa dipungkiri lagi, Instagram sekarang tak luput dari perhatian saya, dikarenakan sejak kemunculannya hingga kini, Instagram nampaknya telah menjadi media sosial yang fenomenal dan mendampingi Twitter untuk saya jadikan komparasi – ya, Instagram adalah sebuah media sosial yang juga dijadikan tempat “hijrah”. Twitter di kala itu mulai dijadikan media sosial tempat “hijrah” dikarenakan media sosial yang juga sedang happening dan nge-trend di era itu, yakni Facebook, telah dihuni oleh segerombol, bahkan bukan lagi segerombol, banyak sekali penggunanya yang dianggap sebagai “alay”. Oleh karena itulah, banyak sekali pengguna Twitter yang menjadikan Twitter ini sebagai tempat “hijrah”, untuk menghindari mereka yang telah di label sebagai “alay” tersebut. Berbeda dengan Instagram, alasan media sosial ini dijadikan tempat “hijrah” pada generasi milenial masa kini adalah dikarenakan ada satu fitur yang sebelumnya dimiliki oleh media sosial lainnya yakni Snapchat, sudah dimiliki oleh Instagram yakni instastory.

Namun, saya tidak akan membahas lebih dalam mengenai fenomena perpindahan atau hijrahnya pengguna-pengguna media sosial tersebut dari media sosial satu ke media sosial yang lainnya. Saya akan membahas salah satu fenomena tak kasat mata yang mungkin – ketika saya sudah menginjakkan kaki di tahun kedua menjelang tahun ketiga mengenyam pendidikan tinggi guna mendapatkan gelar strata satu di jurusan Sosiologi – baru saya sadari. Yakni, ada satu aspek yang penting kala itu, yang sangat terkait dengan pengguna-pengguna Twitter di era 2009-2010, yakni identitas. Ya, identitas yang dimiliki oleh para penggunanya, ternyata, dapat dibentuk atau dikonstruksikan jika dilihat dari kacamata sosiologi.

Twitter adalah media sosial yang mengharuskan penggunanya memiliki nama pendek atau sejenis ID (dalam Bahasa Inggris), yang acapkali disebut sebagai username. Satu hal yang menurut saya unik dan masih ada sampai sekarang (tidak hanya penggunaan username pada media sosial Twitter saya, tetapi juga merambah ke penggunaan username pada media-media sosial yang lain oleh para penggunanya) adalah memilih username di media sosial Twitter dengan penghilangan huruf vokal yang melekat pada nama asli pengguna Twitter yang bersangkutan. Saya sendiri merupakan pengguna Twitter yang turut menerapkan cara ini. Saya pun belum menemukan faktor yang dapat diidentifikasi secara ilmiah mengapa pemilihan nama pengguna atau username Twitter dengan menghilangkan huruf vokal yang melekat pada nama asli penggunanya dapat menjadi suatu trend tersendiri kala itu bahkan hingga sekarang. Akan tetapi, satu hal yang harus diketahui adalah, di era tersebut – yakni Twitter pada rentang 2009-2010 – penggunaan username dengan menghilangkan huruf vokal si empunya akun, bukanlah tanpa sebab adanya.

Saya adalah pengguna aktif Twitter di era 2009-2010, ada dinamika tersendiri yang saya rasa ketika menggunakan media sosial ini kala itu. Saya berkenalan dengan banyak orang yang bahkan belum pernah saya temui sebelumnya di kehidupan saya. Setiap hari, jam, waktu, sebelum adanya berbagai media sosial berbasis chatting yang membumi (kala itu hanya ada MSN Messenger dan Yahoo! Messenger yang sudah membumi, akan tetapi pada penerapannya media sosial berbasis chatting ini belum terlalu efektif karena tidak terlalu banyak diketahui dan tidak dianggap sebagai media sosial berbasis chatting yang mobile – dapat digunakan oleh penggunanya kapanpun dan dimanapun) saya selalu sempatkan untuk online di Twitter. Username demi username tiap harinya saya lihat dengan pandangan saya, dan ternyata, setelah saya perhatikan dengan lebih lanjut, banyak sekali teman-teman yang telah berkenalan dengan saya melalui Twitter menggunakan username yang menghilangkan huruf vokal dari nama asli mereka.

Penggunaan username dengan menghilangkan huruf vokal si empunya akun ini ternyata setelah saya amati, dapat membuat para pengguna Twitter yang lain mengingat dengan mudah siapa-siapa saja orang yang telah berinteraksi dengan cara berkenalan atau saling follow akun Twitter mereka. Bagi saya pribadi, yang juga menggunakan username dengan menghilangkan huruf vokal si empunya tersebut tidak hanya membentuk memori akan siapa-siapa saja yang telah dikenal melalui Twitter yang sifatnya dunia maya, saya merasakan sendiri bahwa ternyata penggunaan username dengan menghilangkan huruf vokal ini, berlaku pada identitas saya dalam interaksi di kehidupan nyata saya sehari-hari.

Username Twitter saya dahulu adalah @ltfkrn. Dahulu, saya sudah sering sekali bermunculan di media sosial ini, bahkan sebelum banyaknya orang-orang yang menganggap Facebook telah menjadi “kubangan” orang-orang “alay” yang menyebabkan akhirnya banyak pengguna Facebook beralih ke Twitter. Alasan yang acapkali saya dengar kala itu, mengapa banyak orang-orang yang belum “bercengkrama” dengan media sosial Twitter dan masih menggunakan Facebook adalah karena Twitter tidak memiliki fitur chatting online layaknya Facebook, dan banyak yang hanya menjawab dengan “tidak mengerti” bagaimana menggunakan media sosial yang satu ini. Alhasil, karena saya sudah aktif lebih dulu, saya juga bersyukur dapat memiliki banyak teman dari berbagai daerah yang ada di seluruh penjuru Indonesia. Namun, karena keaktifan saya di media sosial Twitter ini, akhirnya teman-teman saya dan senior-senior saya (yang ada di sekolah – saya waktu itu sudah mulai aktif dalam media sosial Twitter sejak kelas 1 SMP), mulai “memanggil” saya dengan username Twitter saya yang sudah banyak dikenal tersebut.

Ketika ada orang yang mencari atau membutuhkan keberadaan saya dan menanyakan saya ke orang lain, semisal

“Ada yang kenal sama Lutfi gak?”

“Lutfi yang mana?”

“Lutfi Kurniawan, di kelas 8 RSBI 3” (saya dulu bersekolah di SMPN 2 Bandar Lampung yang sempat menyandang sekolah RSBI)

“Ooh, Lutfi si anak Twitter”

“Ooh, si @ltfkrn ituu (dengan pelafalan username Twitter saya yakni el te ef ka er en)”

“Ooh, yang suka muncul di Twitter itu”

… dan berbagai “ooh” yang diiringi dengan jawaban-jawaban berkaitan dengan akun Twitter yang saya miliki. Semenjak inilah, saya merasa bahwa ternyata identitas diri saya di kehidupan nyata pun terbentuk karena akun Twitter yang saya miliki. Hal ini tentunya menimbulkan dampak tersendiri bagi kehidupan nyata yang saya miliki, bukan hanya di kehidupan per-Twitteran saya.

Secara sosiologis, identitas adalah sesuatu yang melekat pada diri masing-masing individu dan dapat mempengaruhi individu atau sekelompok masyarakat dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari, dan juga, identitas adalah sesuatu yang terkonstruksi atau dalam kata lain, identitas adalah sesuatu yang terbentuk karena pandangan-pandangan atau asumsi-asumsi juga cara pandang-cara pandang yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok terhadap orang lain atau kelompok lainnya. Di sini yang dapat dikaitkan adalah, dahulu, ketika saya sering sekali online di media sosial Twitter, ternyata telah membuat orang lain dan membantu orang lain untuk mengkonstruksikan atau membentuk identitas saya baik di dunia maya per-Twitter-anmaupun di dunia nyata saya terutama ketika saya berinteraksi dengan teman-teman di sekolah dan senior-senior saya di sekolah. Hal yang terkonstruksi atau terbentuk karena aktifnya saya di media sosial Twitter saya ini adalah nama saya sendiri, yang mana nama adalah suatu komponen paling utama dalam identitas yang dimiliki oleh seseorang.

Media sosial ini – yang telah membuat identitas saya terkonstruksi atau terbentuk juga memberikan dampak sosiologis lainnya bagi kehidupan saya. Dikarenakan pada awalnya saya tidak terlalu suka mendapatkan julukan-julukan seperti “si anak Twitter” dan sebagainya yang berkaitan dengan akun Twitter saya, saya menjadi tak acuh terhadap julukan-julukan tersebut dan akhirnya saya semakin giat dan aktif dalam media sosial ini. Kadang, saya pun acapkali lupa waktu kala itu – ketika telah terjerembap dalam dunia maya per-Twitter-an – yang saya miliki – dan seringkali melalaikan beberapa hal-hal yang seharusnya lebih penting untuk saya kerjakan. Hal ini ternyata memiliki kaitannya dengan konsep sederhana sosiologi yang ada yakni labelling theory oleh Robert K. Merton.

Merton, menjelaskan bahwa berbagai penyimpangan sosial yang ada dilakukan oleh para penyimpang (deviants) dikarenakan ada berbagai “cap” atau asumsi dan pandangan orang lain terhadap orang yang melakukan penyimpangan tersebut. Ketika orang tersebut telah mendapatkan “cap” atau “label” tersendiri yang menjadi ciri kuat orang lain untuk mengidentifikasi dirinya, maka orang tersebut akan cenderung lebih kuat untuk melakukan berbagai penyimpangan sosial. Hal ini, setelah saya sadari, telah terjadi dalam diri saya sendiri. Berbagai waktu berharga telah banyak terbuang oleh diri saya sendiri dikarenakan saya dahulu menghabiskannya sangat banyak untuk kehidupan saya di dunia maya per-Twitter-an; karena saya berpikir saya sudah mendapatkan banyak “cap” dan “label” bahwa saya adalah pribadi yang aktif bersosial media, tanpa memperdulikan lagi kehidupan nyata yang saya miliki. Hal ini lah yang menjadi bukti otentik teori ini ternyata berlaku pada masyarakat, dan masyarakat itu adalah saya sendiri, karena saya adalah bagian dari masyarakat. Tindakan ini saya konsiderasi sebagai tindakan menyimpang karena saya membuang banyak waktu hanya untuk bermain sosial media yang memiliki lambang burung ini. Juga, saya jadi cenderung mengabaikan kehidupan nyata yang seharusnya saya jalani, kala itu.

Namun, kini segalanya telah berubah, dan ternyata kehidupan perkuliahan di Sosiologi dapat membuka cakrawala pengetahuan saya mengenai apa yang telah saya alami di masa lalu dan dapat menjadikannya pelajaran.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua, dan ingat, bijaklah dalam menggunakan media sosial. Karena ia tak ubahnya adalah bumerang bagi para penggunanya.

Kalau username Twitter para pembaca apa, nih?

Referensi:

Burke, Peter J., and Jan E. Stets. 2009. Identity theory. New York: Oxford Univ. Press.

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi, Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. (Bab Konformitas dan Penyimpangan)


About the Author

Lutfi Kurniawan

Mahasiswa Sosiologi UI 2015. Penyuka binatang, terkhusus pada kucing. Mahasiswa Sosiologi yang tidak terlalu sosiologis.



One Response to Konstruksi Identitas dan Ragam Polemik di Media Sosial Twitter pada Era 2009-2010

  1. Andhea says:

    Mantap Kak Upi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑