Opini Mie Instan

Published on September 24th, 2016 | by Agus Hendro Setiawan

0

Bagaimana Mie Instan Mengubah Sistem Kehidupan Kita?

Apa pilihan makanan terbaik bagi mahasiswa rantau berkantong cekak seperti saya di akhir bulan? Jawaban terbaik mungkin ada pada mie instan. Selain terjangkau secara ekonomi dan porsi yang lumayan sebagai pengganjal lapar, varian rasa yang ditawarkan pun beragam. Dengan mengeluarkan uang Rp. 5000 saja, lebih dari cukup bagi kita untuk mendapatkan sebungkus mie instan.

Untuk menyeduhnya pun tak perlu repot-repot. Siapkan air secukupnya, masak hingga mendidih. Sembari menunggu air mendidih, siapkan bumbu-bumbu kedalam piring. Masukkan mie pada air yang telah mendidih, tunggu 3 menit, angkat, tiriskan dan hidangkan. Praktis bukan? Jika ingin variasi yang lebih istimewa, bisa Anda tambahkan sendiri kerupuk bawang dan telur spesial diatasnya.

 

Pelajaran Penting

Dari sini kita bisa mengambil hikmah bahwa hanya 5 menit saja waktu yang diperlukan untuk mengganjal perut yang lapar itu. Jika dengan 5 menit saja perut sudah terisi, apa alasan terbaik untuk berlama-lama memasak sesuatu yang (mungkin) belum tentu rasanya cocok di lidah?

Tanpa kita sadari kebiasaan mengonsumsi mie instan -dan produk-produk serba instan lainnya- dapat mengubah pola hidup dan kehidupan kita. Berdasarkan laporan Asosiasi Mie Instan Dunia (Worlds Instant Noodle Association), masyarakat Indonesia mengonsumsi 13,2 milliar bungkus mie instan pada tahun 2015 (IDNTimes, 19/5). Dengan jumlah masyarakat Indonesia, berdasarkan data worldometers.info, terhitung Mei 2016 mencapai lebih dari 260 juta orang. Maka dengan 13,2 miliar bungkus per tahun, setiap orang Indonesia rata-rata mengonsumsi 51 sajian mie instan setahun (IDNTimes, 19/05). Jumlah yang demikian belum menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat konsumsi mie instan terbesar di dunia. Adalah Cina, negara pengonsumsi mie instan terbesar di dunia dengan tingkat konsumsi sebesar 40,3 milliar bungkus pertahun. Baru kemudian Indonesia pada posisi kedua. Disusul Jepang dan Vietnam pada posisi ketiga dan keempat dengan jumlah masing-masing lebih dari 4 milliar bungkus pertahun.

Sistem kapitalisme indutrial melalui komoditi yang ditawarkan, berambisi untuk menciptakan sebuah agenda “massifikasi konsumsi”. Massifikasi konsumsi disini bermakna bahwa penciptaan komoditi konsumsi dilakukan secara massal sekaligus mengaburkan masyarakat dari batas-batas tradisionalnya. Dari sanalah kita akan jarang sekali menemukan keberagaman varian objek konsumsi. Apa yang saya makan dan pakai disini, pastilah sama dengan apa yang orang makan dan pakai diluar sana. Kira-kira logikanya demikian.

Konsekuensi logis dari massifikasi konsumsi tidak hanya berimbas pada penyeragaman (generalized) bentuk dari komoditi konsumsi, tapi juga pada penyeragaman rasa komoditi. Mie instan kini bukanlah sesuatu yang baru bagi jutaan lidah masyarakat di dunia. Penyeragaman tidak hanya ada pada indera pengecap, tapi juga pada indera-indera yang lain. Jadi ada penyeragaman pada level estetis, level pengalaman inderawi (St. Sunardi dalam Strinati, 2016: XV). Semuanya berada diluar kontrol kesadaran kita. Indomie rasa soto yang saya seduh di Jember pastilah sama rasanya dengan Indomie rasa soto di Maluku sana. Karena pada dasarnya kapitalisme mempunyai prinsip everything is global.

Massifikasi konsumsi secara mekanistik (menggunakan mesin-mesin) pada hakikatnya merupakan wujud degradasi nilai kerja secara ontologis akibat kehendak kapital. Istilah kerja (work) dalam definisi Marx berarti:

Produksi adalah kehidupan-spesies (species-life) manusia yang aktif. Melalui proses ini akan tampak sebagai karya dan realitas manusia. Objek kerja dengan demikian adalah objektivikasi terhadap kehidupan-spesies manusia: Manusia tidak hanya memproduksi dirinya sendiri secara intelektual, dalam kesadarannya, namun secara aktif dan aktual, dan dengan demikian dia merenungkan dirinya di dunia yang dia ciptakan sendiri (Marx, 1975: 329 dalam Martin J. Lee, 2015: 7).

Kerja dibawah kehendak kapital memaksa ‘kerja’ bukan lagi sebagai kebutuhan alamiah: ekspresi akan objektivikasi kehendak subjek terhadap objek, namun lebih sebagai usaha penciptaan benda abstrak yang dipertukarkan dengan upah. Logika kapital membuat aktivitas memasak (cooking) hanya sebagai aktivitas praktis dalam pemenuhan hasrat lapar dan dahaga semata.

Kebiasaan dalam mengonsumsi mie instan dan produk-produk instan lainnya, membuat aktivitas konsumsi kini berubah wujud menjadi aktivitas konsumsi yang rendah-waktu (timeless). Instanisasi konsumsi -begitulah istilah yang saya pakai- membuat orang-orang menjadi semakin tidak sabar dalam proses penciptaan komoditi konsumsi. Orang-orang kini menjadi semakin serba-praktis dengan dalih logika efektifitas dan efisiensi. Padahal, sebenarnya mereka telah mematikan nalar kreativitas, eksperimentasi dan inisiasi diri mereka sendiri. Hadirnya narasi tentang saran penyajian (serving suggestions) yang tertera dalam kemasan, secara logis mengondisikan subjek berada dalam kepatuhan kapital. Praktis, disanalah eksperimentasi rasa terhenti.

Dengan demikian, maka jangan heran jika saat ini kita jarang sekali menemukan diskusi soal rasa makanan di meja makan. Tidak ada lagi komentar bahwa “masakan ini terlalu asin”. Mie instan dan produk-produk instan lainnya berhasil mengondisikan aktivitas konsumsi sebagai aktivitas yang praktis, statis dan kurang bermakna.

Begitulah kekuatan kapital yang termanifestasi dalam mie instan untuk mengubah hidup dan kehidupan sosial kita dewasa ini. Untuk menutup tulisan ini, ijinkanlah saya menyampaikan kerinduan yang teramat dalam dengan sambal goreng buatan si mbok. Tekstur sambalnya yang agak basah, tidak terlalu pedas bagi ukuran saya dan biasanya saya bisa imbuh hingga dua kali

 

 

 

Referensi:

Khusuma, E. (2016, Mei 19). Masyarakat Indonesia Santap 132 Miliar Bungkus Mie Instan per-Tahun. Retrieved from idntimes.com: https://news.idntimes.com/indonesia/erwanto/masyarakat-indonesia-santap-132-miliar-bungkus-mie-instan-per-tahun

Lee, M. J. (2015). Kebudayaan, Konsumsi & Komoditas: Sebuah Kajian Politik Budaya Konsumen. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Strinati, D. (2016). Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta: Penerbit Narasi bekerjasama dengan Pustaka Promethea.

 

Tags: , , , ,


About the Author

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Sosiologi sekaligus Koordinator Divisi Ilmu dan Wacana Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Jember. Penggiat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jember Komisariat FISIPOL.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑