Opini barbie3n-6-web

Published on August 19th, 2014 | by Siti Noviandini

0

Barbie dan Kontroversinya

Boneka Barbie adalah boneka yang paling banyak digemari oleh anak perempuan di seluruh dunia, bahkan para ibu dan kolektor pun banyak menggemari boneka ini.“Barbie” berasal dari sebuah nama yaitu Barbara,anak perempuan dari pemilik perusahaan mainan di Amerika yaitu Inc Mattel. Barbie dibuat berawal dari keprihatinan Ruth Handler melihat interaksi Barbara ketika ia bermain dengan boneka kertas dan memperlakukan boneka kertas tersebut seperti orang dewasa. Ketika Ruth sedang berlibur di Jerman, dia melihat bahwa ada boneka yang sangat populer bernama Bild Lilli.Akhirnya Ruth Handler beserta suaminya, Elliot, membeli hak cipta dan memasarkan boneka Bild Lilli versi mereka yang bernama “Barbie” untuk pasar Amerika Serikat.Disini saya tidak ingin membahas tentang bagaimana Barbie ini berkembang di pasar global. Namun saya ingin fokus pada beberapa hal yang menjadi kontroversi boneka Barbie di bidang sosial.

Pada tahun 1960, boneka Barbie mendapatkan kecaman dan kritik mengenai wujud Barbie yang menampilkan “bentuk tubuh impian kaum wanita” karena mendorong wanita pada masa itu agar memiliki bentuk tubuh seperti Barbie. Hal ini mengakibatkan meningkatnya pula penderita Anorexia. Anorexia nervosa merupakan gangguan makan yang diderita oleh mereka yang terobsesi menurunkan berat badan. Penyakit ini juga berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang. Para penderita Anorexia beranggapan bahwa dengan memiliki tubuh yang ideal layaknya Barbie, mereka akan mencapai kebahagiaan. Hal tersebut terkait dengan kritik para pemikir kritis dari Mahzab Frankfurt yang mengkritik mengenai “budaya”. Para pemikir kritis ini mengatakan bahwa “karena dikendalikan oleh industri budaya dan menghasilkan budaya massa, maka sebenarnya itu bukan budaya asli atau budaya orginal yang ada di masyarakat”. Industri budaya merupakan struktur-struktur yang rasional dan birokratis yang mengontrol masyarakat modern. Pada kasus ini, industri budaya yang dimaksud adalah Perusahaan Mainan Mattel. Sedangkan budaya massa adalah budaya yang bersifat dikendalikan oleh industri budaya tersebut dan sifatnya tidaklah nyata (artifisial) atau palsu. Budaya massa membodohkan manusia. Pada kasus ini yang termasuk ke dalam budaya massa adalah boneka Barbie itu sendiri. Mengapa? Karena boneka Barbie memiliki sifat yang tidak nyata bahkan sebenarnya palsu dan dikendalikan oleh Perusahaan Mainan Mattel. Barbie juga membodohkan para wanita yang terobsesi menjadi Barbie Doll. Mereka lupa bahwa itu merugikan mereka sendiri (penyakit Anorexia). Padahal sebenarnya kita sudah tahu bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang memiliki ukuran lingkaran leher dengan ukuran lingkaran pinggang yang sama.

Kontroversi kedua adalah saat Perusahaan Inc Mattel merilis produk Barbie bernama “Heart Family Midge” pada tahun 1985, yaitu boneka Barbie yang perutnya dapat dibuka. Menurut Perusahaan Inc Mattel, tujuan dari produk BarbieHeart Family Midge” ini adalah untuk menjadi alat sosialisasi dan edukasi dalam menjelaskan proses melahirkan bayi. Produk Barbie ini mendapat kecaman dan kritik dari para orang tua.Mereka merasa bahwa produk ini tidak layak karena belum tepat waktunya untuk menjelaskan proses melahirkan bayi kepada anak berusia 5 tahun. Produk tersebut dapat disalahgunakan dan berdampak buruk bagi anak tersebut karena mensosialisasikan suatu budaya yang harusnya mereka dapatkan ketika mereka sudah dewasa.Proses sosialisasi yang buruk tentunya memiliki dampak, yaitu tindakan penyimpangan.

barbie

Ketiga, lagi-lagi, pada tahun 1992 Perusahaan Inc Mattel memproduksi boneka Barbie remaja bernama “Teen Talk Barbie” dimana masing-masing Barbie dapat berbicara beberapa kalimat, misalnya “Math Class is tough”. Lagi-lagi hal ini terkait dengan proses sosialisasi yang salah dan akan berdampak pada tindakan menyimpang. Produk Barbie tersebut dapat mengajak anak-anak perempuan untuk tidak suka dan benci terhadap pelajaran matematika, atau bisa saja anak-anak perempuan terinternalisasi dengan anggapan buruk mengenai pelajaran matematika. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang sangat penting.

Keempat, pada film “Barbie and The Dream House”  terdapat tokoh utama yang bernama Barbie dan kekasihnya yang bernama Ken. Ketika Ken selalu membantu Barbie di setiap kesulitan yang Barbie alami, maka Barbie mengucapkan rasa terima kasihnya dengan mencium Ken.Adegan tersebut tentu berakibat buruk ketika anak-anak perempuan yang menonton film tersebut menirunya.. Oleh karenanya, jika anak-anak perempuan ingin menonton film ini perlu di dampingi oleh orang tua. Tidak hanya film Barbie tetapi film kartun lainnya tidak seluruhnya baik.Menonton film kartun pun tidak sepenuhnya mendidik. Dengan didampingi oleh orang tua, orang tua dapat menjelaskan mana perilaku yang boleh ditiru dan mana yang tidak bolehserta alasannya.

Konklusi dari saya dalam melihat kontroversi dan perkembangan Barbie sendiri dalam dunia modern, secara tidak langsung barbie telah berkembang sebagai role model artifisial yang telah menjadi budaya massa sehingga telah menginternalisasi pikiran serta pola perilaku bukan hanya kolektor dan fansnya namun juga telah menjadi budaya dan produk global. Sehingga mau tidak mau fenomena “Barbie Syndrome” ini tidak dapat dihindarkan oleh masyarakat global.Namun sebagai masyarakat global juga kita harus mempunyai “kesadaran”secara individu untuk memilih mana yang secara rasional dapat menjadi role yang bisa ditiru dan mana role yang tidak boleh ditiru. Hal-hal tersebut lalu dapat kita internalisasikan kepada anak-anak atau adik-adik kita supaya mereka paham dan dapat memilih mana yang sesuai dengan masyarakat mana yang tidak.

Tags: , , , ,


About the Author

Siti Noviandini



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑