Opini image_bem_ui

Published on April 3rd, 2012 | by Fazar Sargani

0

BEM dan Gender

Saat mata kuliah Pengantar Ilmu Politik, Eva, teman saya, duduk sebelah saya. Secara tidak sengaja saya melihat ada pin salah satu kandidat ketua BEM Universitas saya. Ada dua calon ketua BEM di Universitas saya, no 1 seorang pria dan yang kedua seorang wanita.

Kebetulan pin yang menempel di tas Eva itu mengacu ke kandidat pria. Saya pun bertanya kenapa ia lebih memilih seorang pria padahal dia sendiri seorang wanita. Jawab dia simple, “Wanita itu lebih ke perasaan . . .” Sekejap saya langsung ingat dengan materi sosiologi gender.

Banyak teori mengenai gender ini dan asal muasalnya. Sekilas akan saya jelaskan bagi kita yang masih awam dengan perbedaan antara konsep jenis dan gender. “Sex refers to the biological difference between men and women, the result of difference in the chromosomes of the embryo” (Sinclair, 1995:117). Sedangkan “gender refers to personal traits and social positions that member of a society attach to being female or male” (Macionis, 2008:330). Jadi jelaslah jenis kelamin dan gender itu berbeda. Jenis kelamin mengacu pada perbedaan yang bersifat biologis sedangkan gender mengacu pada tingkah atau ciri dan posisi sosial seseorang sebagai wanita atau pria. (Kata ‘men’ dan ‘women’ dalam bahasa Inggris lebih mengacu pada jenis kelamin, sedangkan ‘male’ dan ‘female’ lebih ke gender).

Gender menghasilkan stratifikasi dan fungsi yang berbeda dan sifat yang berbeda antara pria (maskulin) dan wanita (feminin). Hal ini kita lihat di kebanyakan negara di dunia walaupun ada beberapa penelitian yang menunjukan tak selamanya pria itu maskulin dan tak selamanya pula wanita itu feminin.

Apabila kita melihat sifatnya, gender tidaklah bersifat biologis tetapi dikonstruksikan secara sosial. Disebut gender socialization. Seperti halnya sosialisasi biasa, sosialisasi genderpun pertama dan yang utama terjadi di keluarga. Keluarga memberikan sorang bayi pelajaran mengenai gender dan pemahaman mengenai peran gendernya tersebut. Karena adanya perbedaan sifat feminin dan maskulin ini, maka terdapat pula pola asuh yang berbeda dalam membesarkan anak laki-laki dan perempuan. Ada sebuah sebuah penelitian yang menunjukan bahwa cara mengasuh perempuan lebih lembut, sering dipeluk, dan elusan-elusan dari ibu atau ayahnya. Sedangkan membesarkan anak laki-laki biasanya lebih kasar dengan mengangkat mereka tinggi-tinggi ke udara atau memaikan mereka di lutut orangtuanya.

Hal inilah yang mungkin secara tidak sadar menjadi alasan mengapa Eva berkata seperti di atas. Namun, setelah saya pikirkan, apakah adil jika seorang pemimpin hanya berdasarkan pada sisi ke-maskulin-annya saja? Apakah kita tidak butuh pemimpin yang juga mempunyai sisi sensitifitas tinggi layaknya seorang wanita?

Tentu saja bagi kaum feminis saya akan dicecar habis-habisan kalau saja saya menjawab ‘tidak’. Kita lihat Uni Soviet pada masa Stalin. Tak heran mengapa ia disebut tangan besi ya karena seseorang yang hatinya lembut akan sangat merasa sangat sulit atau mungkin tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang Stalin lakukan di kamp konsentrasi Karlag. Itu juga yang menjadi alasan kenapa ada kuota anggota legislatif yang harus wanita. Dan jumlahnya di berbagai negara berbeda, di kebanyakan negara Skandinavia jumlah wanita dalam parlemen sangat besar jika dibandingkan dengan negara Indonesia. Intinya kita butuh pemimpin yang juga memiliki sisi feminin terlepas dia wanita atau pria.

Apabila kita berkesimpulan seperti di atas, maka kita menyetujui jikalau dikatakan bahwa diperlukan pria yang memiliki sisi feminin yang cukup atau diperlukan wanita yang memiliki sisi maskulin yang cukup. Terlepas dari indikator maskulin dan feminin yang berbeda di berbagai masyarakat. Yang pasti, maskulin tidak dimiliki kebanyakan wanita di masyarakat kita dan sebaliknya.

Dari uraian di atas perlu elaborasi yang lebih lanjut, seperti apa saja yang menjadi ukuran agar seorang pria bisa dikatakan memiliki sisi feminin yang cukup agar mereka mengerti juga layaknya (meskipun tak sepenuhnya) seperti wanita dan mereka memimpin dengan ‘hati’ wanita. Pertanyaan ini saya juga ajukan kepada Eva yang kemudian ia menjawab “Dari penilaian orang dan pengalaman yang saya lihat….” Kalimatnya berkesan sderhana, tetapi jika kita pikirkan lebih lanjut maka ada nilai yang tersirat dari perkataannya tersebut. Untuk menilai seseorang memilki sisi feminin yang cukup untuk memimipin atau dengan kata lain untuk mengetahui apakah seseorang baik jika dijadikan pemimpin, maka kita harus mengetahui berbagai informasi mengenai si calon juga berdasarkan peniaian kita sendiri yang rasional.

Seperti itulah seharusnya kita dalam memilih seorang pemimpin. Kita harus tahu benar siapa yang kita percayai untuk memimpin kita. Jadikanlah suara kita mahal, hanya bagi orang-orang yang memang pantas mendapatkan suara kita. Tentu saja kita akan mengetahui seseorang pantas atau tidak jadi pemimpin jika kita terlebih dahulu mencari informasi dan kemudian menentukannya.

________________

Fazar R. Sargani, Sosiologi UI 2011

Tags:


About the Author

Fazar Sargani

Mahasiswa Sosiologi UI 2011. Pecinta buku dan teori sosiologi serta filsafat. Menaruh minat pada isu agama.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑