Opini instagram

Published on August 8th, 2015 | by Abid A. Adonis

0

“Cek Instagram Kita, Sist!”

Di Indonesia pengguna Instagram, menurut Global Web Index, mengalami kenaikan sebesar 215%. Angka ini merefleksikan bahwa Instagram telah mulai merebut hati netizen Indonesia sebagai sosial media utama. Instagram sudah bertransformasi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki akses terhadap teknologi ponsel layar sentuh dan internet. Pamor Twitter yang memudar tidak diikuti dengan memudarnya trend pengguna Instagram. Justru sebaliknya, pengguna aktif Instagram bahkan sudah melebihi Twitter dengan mencapai angka 300 juta log in pengguna tiap harinya. Keunggulan yang dimiliki Instagram disebabkan tampilan visual yang semakin hari semakin baik mengalahkan tampilan Twitter yang lebih berupa kata-kata. Selain itu, pesatnya penggunaan Instagram berkaitan kegemaran baru masyarakat Indonesia dalam berswafoto. Selfie menjadi keseharian, dan perilaku ini mendapat saluran hasrat yang tepat melalui adanya Instagram. Tak hanya soal selfie, para netizen juga menyukai berbagi foto kesehariannya, mulai dari memotret makanan hingga memamerkan posisi ketinggiannya di pegunungan.

Di sisi lain, ledakan pertumbuhan pengguna internet dan sosial diiringi oleh menjamurnya transaksi perdagangan online. Menjual dagangan melalui internet dinilai lebih efisien ketimbang bertransaksi secara konvensional. Pedagang tak perlu keluar biaya menyewa lapak ataupun repot-repot mengurus izin usaha. Pedagang juga punya sarana yang lebih luas untuk mengeksplorasi usahanya. Bagi pembeli, berbelanja lewat internet terasa sangat mudah dan memiliki berbagai keuntungan. Melalui situs atau akun sosial media, konsumen tinggal mencari barang yang diinginkan melalui beberapa patah kata kunci dan bisa memilih bermacam-macam barang tanpa perlu bepergian. Pedagang diuntungkan, pembeli dimanjakan.

Ada berapa banyak dari kita yang menjumpai iklan berlanggam “Cek IG kita sist, ada banyak dress lucu yang cocok loh” ? Saya sih merasa jengkel sebab selain karena saya laki-laki yang dipanggil sist juga karena iklan-iklan seperti itu kini makin meraja di notifikasi akun saya. Apalagi di akun-akun berfollower ribuan dan jutaan, komentar-komentar iklan seperti itu semakin mudah kita jumpai. Dan uniknya, sepanjang pengetahuan saya bersosial media, iklan-iklan sejenis kebanyakan muncul dari akun-akun asal Indonesia. Jarang saya menjumpai iklan “Cek IG kita sist” di akun seleb Instagram luar negeri, semisal katakanlah, Justin Bieber daripada di akun seleb dalam negeri Chelsea Islan yang cantik itu. Tentu ini menarik bila kita cermati mengingat fenomena ini tidak datang begitu saja. Ada faktor sosiologis yang menggiring akun-akun online shop itu menjajakan dagangannya dengan menumpang ruang publik berupa kolom komentar.

Kedua fenomena itu berkembang dan beririsan di Instagram. Pertumbuhan pengguna Instagram berarti pertumbuhan bakal calon pelanggan di mata pemilik online shop, dan tentu saja, kesempatan emas untuk meraup untung sejadi-jadinya. Apalagi Instagram juga memudahkan penjual untuk menjajakan dagangannya hanya dengan memfoto, mengunggah dan tinggal bikinkan saja caption dan tagarng menggoda selera. Selanjutnya, tinggal pintar-pintar mengelola konten dan memasarkan komoditasnya. Pemasaran ini lah yang menjadi persoalan. Sebenarnya ini hal yang natural ketika para pedagang online membombardir akun-akun Instagram dengan iklannya. Logika pasar berjalan dengan melihat kerumunansebagai kesempatan. Menurut konsep Le Bon tentang kerumunan, Instagram dapat dimasukkan kategori kerumunan mengingat terdapat anonimitas, konvergensi, contagion, dan suggestibility i dalamnya. Le Bon menjelaskan karena kebersamannya dengan banyak orang lain, seorang individu memperoleh kekuatan yang mendorongnya untuk tunduk pada dorongan naluri dalam suatu kerumunan yang mana setiap perasaan dan tindakan bersifat menular dan dalam kerumunan individu mudah dipengaruhi. Pada akun-akun berpengikut banyak, tiap-tiap foto yang diunggah dapat memunculkan kerumunan virtual. Baik sebagai viewer yang melihat foto beserta komentarnya ataupun komentator yang menyerbu pada kolom yang tersedia. Ini dipandang sebagai kesempatan emas untuk memasarkan dagangan secara murah meriah. Maka, fenomena “Cek IG kita sist” ini pun lahir melalui proses yang sesederhana itu.

Sebenarnya fenomena ini bisa dibilang wajar melihat proses terjadinya. Namun persoalan ini muncul ketika ruang publik dan ruang privat dibombardir sedemikian rupa hingga menjadi spam dan tentu saja, mengganggu. Sebab tak hanya akun-akun terkenal saja yang menjadi sasaran, akun “biasa-biasa” saja juga dihantam oleh serangan iklan seperti ini. Persoalan lebih pelik ketika dalam Instagram, dan internet, batas-batas ruang privat dan ruang publik mengabur. Privasi dalam arti konvensional berbeda maknanya pada dunia virtual. Akun pribadi dapat dilihat dan dikomentari oleh siapa saja, selama tak digembok. Ruang privat pun dipublikkan. Norma-norma baru terbentuk dan akibatnya, siapa bisa melakukan apa saja terhadap siapapun juga. Begitu pun dengan spam iklan. Mengatasi persoalan ini tidak sesederhana dengan menggembok akun dan memilah-milah follower yang diterima, atau sekedar melaporkan sebagai spam. Sebab, itu juga tak menghentikan laju perilaku ini. Mereka cukup membuat akun baru atau menunjuk target akun lainnya. Untuk itu, menurut saya, perlu adanya kesadaran berinternet yang baik. Kesadaran ini harus dibangun oleh para netizen dan dibudayakan. Kesadaran moral berinternet ini akan perlahan-lahan mengikis perilaku ini setidaknya mulai dari diri kita sendiri. Kekuatan moral lah yang mampu menghancurkan perilaku menyimpang di dunia maya perlahan-lahan. Memang tak ada jaminan ini akan berhasil, apalagi mengharapkan solusi secara cepat. Namun, ini dirasa akan mampu memunculkan norma baru yang menjadi konsensus para netizen. Kemunculan norma baru dalam kerumunan ini sangat memungkinkan menyelesaikan masalah.

Teori emergent-norm theory milik Turner dan Killian menjelaskan bahwa perilaku dalam kerumunan dapat berubah dengan kemunculan norma baru. Kita bisa membayangkan apabila norma baru terbentuk, namun perilaku spam iklan ini berlanjut, para pelaku akan mendapat cercaan, “bully-an” dan hukuman virtual lainnya. Perilaku spam itupun akan terkikis tahap demi tahap. Ini adalah jalan yang panjang untuk menyelesaikan persoalan ini. Memang terlihah sepele, namun apabila ini berlanjut bukan tidak mungkin dalam individu ataupun masyarakat akan timbul potensi konflik ketika terjadi pengaburan terhadap ruang publik dan ruang privat dari masing-masing pihak. Untuk itu, mari kita menggunakan akun sosial media kita dengan baik, benar, dan tepat dimulai dari diri sendiri, sebagaimana kita hidup dalam dunia nyata. Bila tidak, apa tidak capek notifikasi kalian dipenuhi oleh ”Cek Instagram kita, Sist!”?

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


About the Author

Abid A. Adonis

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Indonesia angkatan 2014. Menyukai Sosiologi dan menggemari karya Gramsci serta Isyana Sarasvati



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑