Opini your choice

Published on August 8th, 2014 | by Redaksi Sociozine

0

Your Choice

Gue percaya semua orang pasti punya impian yang tentu ingin diwujudkannya. Lo juga punyakan? Tapi ya…Realistis aja sih.Didunia ini nggak semua impian bisa kita wujudkan. Lho! Kok gitu sih?Jawabannya cuma tertuju pada satu hal. Semua tergantung pada pilihan-pilihan yang lo putuskan untuk dikerjakan dalam proses mencapai impian tersebut.

Proses pemilihan ini bahkan dimulai sejak kita “hanya berniat” untuk mewujudkan impian tersebut. Setiap orang didunia ini nggak ada yang sendiri.Meskipun kita merasa kesepian, tetap saja kita pasti merupakan bagian dari suatu kelompok masyarakat. Semua yang kita lakukan, secara tidak langsung akan berdampak untuk orang lain. Termasuk bermimpi.

Pernah ngerasa nggak sih mimpi lo sendiri aja diatur oleh “mereka”? Atau bahkan pernah sesekali lo dilarang untuk bermimpi? Disinilah perjalanan dimulai! Lebih bersedia untuk mengikuti mereka atau secara “egois” mengikuti kata hati? Sebenarnya kedua hal tersebut nggak bisa kita hitam-putihkan banget seperti itu sih. Inget deh yang dikatakan oleh Parsons. Dalam melakukan suatu hal, seorang individu cenderung mempertimbangkan tujuan pencapaian pribadinya sekaligus orang-orang di sekitarnya.

Gue akui, melawan mayoritas memang sulit. Melawan “mereka” yang boleh dibilang sebagai “fakta sosial” ala Durkheim. “Mereka”, kemauan masyarakat yang menekan dan menyetir pilihan-pilihan hidup lo. Tapi menurut gue, selama impian kita positif, bolehlah sesekali kita mematikan indera kita dan nggak perlu mengalah terhadap mereka yang membuat kita pesimis meraih impian. Kita berhak lho menggunakan free-will ataukehendak bebas yang kita miliki. Gue juga pernah ngerasain apa yang namanya berjuang untuk mendapatkan suatu hal. Apa yang gue mau, terkadang atau bahkan sangat sering bertentangan dengan pendapat orang lain. Menjalani hal tersebut memang nggak mudah. Perlu diketahui, halangan yang akan kita dapatkan pasti banyak banget. Selama ngerasain itu, mungkin nggak keitung berapa tetesan air mata yang harus dikeluarin.Bener-bener ngerasain gimana rasanya ada di titik terendah, titik dimana kita bisa berpikir “ah gue akan gagal”, “kayaknya gue nggak akan di terima”, “ kata orang gue nggak rasional, buat apa gue terusin”, hingga disuatu titik, mungkin kita akan merasa dunia beserta isinya pun turut serta menghukum kita.

Kata orang, menangis itu wajar.Wajar untuk melepaskan semua keluh kesah lo. Disisi lain, banyak juga yang bilang kalau menangis nggak akan menyelesaikan masalah. Tapi menurut gue itu akan membuat lo jauh lebih baik dengan menangis karena perlahan beban lo akan hilang. Percaya nggak percaya, orang yang bisa ngungkapin perasaan apalagi sampe nangis bisa jauh lebih baik daripada cuma dipendam, cobain aja. Tapi inget ya jangan mengeluh sama ngedumel terus-terusan juga loh. Manusia memang aneh, kita sering mempunyai dua—bahkan lebih—pandangan yang saling bertolak belakang namun nyatanya saling melengkapi, sekarang pintar-pintar kita ajalah melihat “keromantisan” mereka.

Balik lagi ketopik. Jatuh, sedih, sakit, ya.. Itu pasti terjadi dan bisa dirasakan oleh semua orang. Tapi gue percaya, setiap orang punya sisi positif dimana kita bisa bangkit dan bertahan dengan semua keadaan itu sampai dia bisa berdiri. Pasti banyak kan yang sering putus asa dengan sikap dan pilihan kita yang “mungkin” menurut orang lain  nggak rasional. Nah ini nih, terkait dengan yang namanya konsep rasionalitas. Weber menjabarkan kalau setiap orang pasti punya rasionalitasnya masing-masing. Apa yang kita pilih menurut kita mungkin aja rasional, tapi nothing di mata orang lain.

Menurut lo tulisan ini munafik? Apa saat membaca tulisan ini lo berkometar, “paling juga ntar gagal” atau “yah sok berambisi lo!” ? Wajar sih kalau banyak orang yang meremehkan kita disaat memilih suatu hal. Sorry—bukannya gue berpikir negatif tentang lo—gue cuma mau ngegambarin, terkadang komentar pahit itulah yang sebenarnya bikin kita sulit melangkah yakin dengan keputusan kita.

Harusnya sih ya, kita memulai untuk tidak melihat orang dari luarnya aja. Coba yuk, kita melihatnya dari kacamata sosiologi, khususnya dari sarannya Weber. Kita harus bisa melihat pilihan orang lain melalui cara pandang yang dikenal sebagai verstehen. Jadi, intinya kita nggak cuma melihat orang lain dari kulit luarnya, apa yang dia pilih dan sejenisnya. Tapi harus paham juga dengan kenapa sih dia memilih begitu, apa sih motif orang itu hingga bisa berpikir sejauh itu. Dengan demikian, kita bisa paham arti rasionalitas yang sesungguhnya.

Contohnya, saat seseorang mengambil keputusan, jangan di judge duluan.Mungkin aja dia punya alasan untuk melakukan hal itu dan setidaknya dengan tidak men-judge dirinya, lo jadi paham dengan keputusan dia.

Saran gue sih, meskipun kita harus malu duluan, dapet ejekan—tapi semoga kita bisa berhasil dengan mencapai apa yang kita pilih untuk diimpikan. Disini kita juga harus garis bawahi, kalo kita akan konsisten dan nggak main-main dengan pilihan kita. Karena ingat! Kita punya hak untuk mengunakan free-will.Impian kita adalah milik kita, niat kita, bukan milik mereka. Dan kalo lo berhasil dengan pilihan lo, mungkin juga lo masih akan dijadikan bahan ejekan oleh orang lain. Jadi menurut gue emang “the show must go on” berhasil atau tidaknya kita, “terkadang” mereka akan tetap seperti itu kan? Jadi lebih baik kalau kita berusaha untuk mencoba dan berhasil bukan? Tetap semangat ya dengan pilihannya, karena rasionalitas bisa berbeda beda bagi setiap orang. :)

Tags: , , ,


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑