Opini image_jokowi_metal

Published on April 20th, 2012 | by Redaksi Sociozine

7

Citra Sana, Citra Sini

Gimana citranya?

Jokowi beli kemeja? Bukan baju koko dan kopiah? Tanah Abang pula. Apalah, pencitraan itu.

Dahlan Iskan membuka pintu tol dan turut menjual tiket e-toll. Biar birokrat keliatan ngabdi itu.

Abraham Samad cengengesan. Kan ketua KPK masa cengengesan? Tegas dong.

Kantung mata SBY sangat layu. Tanda dia kerja keras itu mikirin negara.

Dan banyak kontroversi pencitraan politik lainnya. Pencitraan!

Image

Pencitraan dilakukan agar menarik hati masyarakat dengan cara membentuk image diri menjadi gambaran yang ia inginkan dengan peranannya pada kegiatan politik, sosial, budaya, dan lainnya. Pencitraan juga sebagai bentuk permainan kesan yang dilakukan oleh aktor politik agar masyarakat melihatnya seperti yang diharapkan oleh pemberian kesan tersebut. Adalah Sosiolog kesukaan saya, Erving Goffman, yang menjelaskan konsep Dramaturgi dimana pertunjukan yang terjadi di masyarakat adalah untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi dari diri adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut.

Tapi apa benar aktor-aktor tersebut ber-dramaturgi? Apa benar Jokowi dan lainnya memainkan kesan? Memainkan citranya agar masyarakat simpatik?

Sepengetahuan saya, Tanah Abang dikenal sebagai pusat grosir rakyat: Jakarta bahkan dunia. Jokowi sebagai aktor politik dicitrakan out of the box, merakyat, ketika ia memutuskan membeli kemeja (juga bukan baju koko) disana. Disini yang melakukan tindakan adalah Jokowi, aktor baru dalam perebutan kuasa serta legitimasinya atas Jakarta. Ia adalah calon gubernur DKI Jakarta, yang sampai tulisan ini dibuat masih menjabat sebagai Walikota Solo. Desas-desusnya, ia sekalipun tidak pernah mengambil jatah gajinya. Citranya sungguh baik, sekaligus dinanti-nanti kesungguhannya.

Tidak bermaksud untuk membela Jokowi, Dahlan Iskan dan nama-nama yang dikatakan pencitraan oleh media (bahkan masyarakat), tapi apakah perbuatannya memang pencitraan? Bagaimana media bisa mengkonstruksikan tindakannya sebagai pencitraan? Jokowi memang mengakui beberapa tindakannya adalah pencitraannya, tetapi pengakuannya itu bukankah termasuk bagian dari strateginya agar seakan-akan tindakannya adalah pencitraan, yang tidak lain agar ia dapat diekspose luas media?

Kelihatannya, kehidupan sosial masyarakat Indonesia (khususnya Jakarta), yang letih akan pencitraan politik telah bergeser perlahan dengan bentuk sikap -hampir- skeptis total. Artinya, sebagian masyarakat Indonesia seakan tidak memberikan kesempatan bagi aktor politik seperti dirinya untuk berbuat agak merakyat, agak baik, dan agak heroik sedikit saja. Seakan segala perbuatannya semata-mata gambaran pencitraan dirinya. Saya khawatir, berbagai versi sikap kritis dan curiga yang berlebihan ini menjadi pandangan khalayak umum, yang mungkin saja akan mengantarkan pada kematian nilai humanis aktor politik. Tindak-tanduk aktor politik hampir selalu diartikan sebagai aksi meraih simpati rakyat, yang berarti permainan kesan atas pribadi yang bukan dirinya. Bahwa kenyataannya Jokowi juga pergi melalui kereta Jabotabek, ia dianggap palsu. Bahwa Alex Noerdin berjanji untuk menggratiskan sekolah sampai SMA adalah bohong: janji yang sayangnya berdiri sendiri dan terpisah dari sosoknya. Alex, terpisah justru dari janji yang mengangkat namanya di masyarakat. Dan aktor politik lainnya yang merakyat, Pencitraan!

Namun, saya akui saya galau. Galau pencitraan. Darimana masyarakat luas Jakarta tahu sosok Jokowi dan Alex tanpa pencitraan pro rakyatnya? Begitu juga sebaliknya, bagaimana Jokowi dan Alex mampu dikenal masyarakat tanpa pencitraan politiknya?

Dan satu lagi, darimana juga masyarakat bisa tahu bahwa tindakan mereka tersebut adalah pencitraan?

Pencitraan mempengaruhi pandangan masyarakat. Sosialisasi media massa yang heboh dan tajam, kicauan komentator yang terus meramaikan timeline Twitter, dan obrolan santai dalam interaksi sehari-hari tentang pencitraan sedikit banyak mempengaruhi persepsi masyarakat: skeptis sekaligus terkecoh. Artinya, sifat skeptis itu bisa mengecoh masyarakat yang dapat tidak mempercayai dan dapat pula mempercayai apa yang dikonstruksikan media secara buta. Masyarakat dapat menganggap Jokowi sepenuhnya pencitraan, “biar dikata” pro rakyat-lah ibaratnya. Masyarakat juga heran serta datar menanggapi tegasnya Dahlan Iskan di tengah keringnya negarawan sepertinya. Dan lebih parah lagi, menganggap Presidennya sendiri, SBY, cari perhatian (Walaupun secara empiris memang semakin tebal kantung matanya).

Namun, masyarakat juga dapat percaya dan menelan mentah-mentah pencitraan yang ditunjukkan oleh aktor politik dan disosialisasikan media.

Yang melihat sepintas dari media mungkin berkata:

“Jokowi itu merakyat banget! Pantas lah dia buat Jakarta”

“Mantap Dahlan Iskan! Maju terus BUMN!”

Atau, “Kasihan itu SBY, dia pasti kecapean ngurus masalah Hedonesia!”

Yang sudah letih, skeptik akan tetap sikapnya:

“Halah, pencitraaaan!” “Impression management!” “Front stage” dan “Akting!”

Sampai saat ini, saya justru tertarik dengan “cengengesan-nya” Abraham Samad suatu waktu. Ia adalah korban situasional (untuk tega mengatakannya) dimana masyarakat Indonesia punya citra ideal tentang ketua KPK untuk tegas memberantas korupsi. Citranya yang cengengesan mempunyai makna dalam kehidupan masyarakat Indonesia ketika cengengesan berarti tidak serius. Bahkan, dipertanyakan nyalinya (menurut Gede Pasak Suardika). Padahal, mungkin ia apa adanya. Ia cengengesan karena ia memang menghidupi dirinya seperti itu. Dalam arena politik yang dekat dan lekat dengan konteks sosial-budaya, masyarakat mungkin mengartikan cengengesannya sebagai pencitraan. Ia mungkin saja mencoba menampilkan KPK yang lebih santai namun pasti. Namun, masyarakat menilai dan memilih bahwa cengengesan yang –sepertinya- asli dia bukanlah tipe ideal, tapi yang berwibawa -dengan pencitraan dan kepalsuan- mungkin.

Kenyataan tentang pencitraan politisi yang dikonstruksikan media dalam situasi sosial tertentu memang membingungkan. Citra aktor yang asli, backstagenya, seakan out there, di luar sana, yang tidak terjangkau masyarakat. Orang awam seperti saya ini akan sangat sulit mengenali dan mengidentifikasi citra aslinya secara langsung, kalau hanya mengandalkan media massa. Ya lewat mana lagi?

Saya tidak melihat masalah berarti dengan pencitraan, tapi juga tidak percaya sepenuhnya aktor politik begitu adanya dengan pencitraan. Yang menjadi masalah (mungkin cuma bagi saya, mungkin) adalah ketika pencitraan mampu membentuk suatu kesadaran bersama bahwa apa pun yang merakyat, heroik dan sederhana dalam diri politisi, bukan-lah jati dirinya yang sesungguhnya. Konstruksi media yang teramat kuat dan intensif dalam memberikan informasi nyatanya mampu membutakan: sulitnya mengakui kejujuran dan sikap apa adanya dari manusia berkepentingan politis tersebut. Mereka dikonstruksikan selalu dalam kondisi front stage, mereka menampilkan pertunjukkan agar menghasilkan tujuan yang mereka inginkan. Dan mungkin saja bagi beberapa, mereka tidak memiliki hati nurani, tidak memiliki niat baik, dianggap iblis yang siap merusak hati masyarakat yang terlanjur termakan janji. Kemanusiaan, kejujuran dan kedharmaan beberapa aktor politik telah mati digerogoti skeptiknya masyarakat.

Toh, pencitraan sah saja dilakukan aktor politik. Membeli kemeja di tanah abang dan menaiki kereta Jabotabek merupakan pencitraan Jokowi bagi masyarakat, walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa ia nyatanya menyukai kemeja Tanah Abang dan kereta Jabotabek dengan dasar keinginan pribadi, tanpa motif politis lainnya. Pun begitu dengan pembukaan pintu tol Dahlan Iskan. Sebagai aktor yang memiliki power di BUMN, ia jengah dengan sikap bawahannya. Ia mungkin juga hanya dianggap sekedar menaikkan pamor birokrat yang terus turun akibat parahnya kasus korupsi. Juga Alex Noerdin yang berani-beraninya mengumbar janji menggratiskan sekolah sampai SMA. Tidak ada yang salah dengan pencitraan seperti di atas. Salah satu cara aktor tersebut dikenal masyarakat luas adalah cara kotor namun bersih – bersih namun kotor: permainan kesan dan pencitraan yang masyarakat jaga, hidupi, walaupun tahu –hampir- pasti dikhianati.

Ah, pencitraan politik bukan urusan saya. Urusan saya kan pencitraan dengan tulisan ini. Citra sana, citra sini.

__________________

Ganggas Wibisono, Sosiologi UI 2010

Tags: ,


About the Author

Redaksi Sociozine



7 Responses to Citra Sana, Citra Sini

  1. Yosafat Timothy says:

    Pencitraan menurut saya adalah bagaimana kita bisa menguatkan personal/karakter yang sudah kita miliki sebelumnya, dan semoga mereka seperti apa yang kita harapkan..

  2. asik ni tulisan.

    salut buat gangnam, eh ganggas.

    anon.

  3. alaikazam says:

    Yaa pencitraan amat perlu buat akting di panggung biar bikin orang orang heran…

  4. andi says:

    Kan ada tuh lagunye “dunia ini memang sandiwara…..” namanya juga kyk panggung gas klo pencitraannye biasa 2x aje org ogah liatnye… Cayoo terus ganggas..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑