Opini image_jokowi

Published on November 9th, 2012 | by Muhammad Alfisyahrin

0

Efek Jokowi, Media-Darling, dan Transparansi Kinerja

Kemenangan Jokowi dalam Pilgub Jakarta kemarin adalah kemenangan besar. Bukan karena selisih suaranya dengan Foke yang memang tipis, tetapi karena dampaknya pada konstelasi politik tanah air. Eep Saefulloh Fatah, konsultan politik Jokowi-Basuki, mengistilahkannya sebagai Jokowi’s Effect. Kali ini saya akan membahas salah satu efek Jokowi yang mempunyai dua fungsi, yakni menjadi penentu ‘keberhasilan’ Jokowi dalam memimpin Jakarta dan juga peluang solusi untuk memperbaiki relasi sosial antara Pejabat dan Rakyatnya.

Meraba Peluang ‘Keberhasilan’ Jokowi dalam Memimpin Jakarta

Ada yang mengatakan bahwa salah satu faktor kemenangan Jokowi adalah karakternya yang merakyat. Dia memilih untuk menjadi pemimpin lapangan. “Saya paling cuma satu jam dua jam di kantor,” janji Jokowi dalam memimpin Jakarta yang sudah dipraktekkan di Solo, “selebihnya saya di lapangan.” Tidak salah sih, tetapi faktor yang tidak boleh kita lupakan adalah keberpihakan media kepada Jokowi yang bah

kan masing jelas terlihat sampai sekarang. Agak mirip seperti Dahlan Iskan, Jokowi hampir selalu jadi news maker. Pencitraan yang luar biasa dan memang harus begitu jika ingin menang, seperti yang dibahas Ganggas di sosiozine beberapa waktu lalu.

Survei LSI dan Tempo menunjukkan bahwa masyarakat kelas menengah ke atas yang menjadikan media sebagai sumber informasi primer cenderung memilih Jokowi-Basuki. Lihat! Dengan adanya peliputan media yang intensif, aksi turun lapangan ala Jokowi ini tidak hanya menarik simpati masyarakat yang dikunjunginya, tetapi juga para konsumen media. Seperti kita. Apalagi konten pemberitaan media tentang Jokowi tersebut hampir selalu bernada positif. Inilah kemesraan yang dulu juga sempat terjadi pada SBY: media-darling.

15 Oktober 2012, Jokowi-Basuki resmi dilantik. Hingga tulisan ini dibuat (18 Oktober 2012), nampaknya kemesraan itu masih terus terjalin. Dalam liputan khusus bertajuk “100 Hari JOKOWI-BASUKI”, kompas.com merillis lebih dari 90 berita. Di detik.com, berita yang menjadi most popular adalah berita tentang Jokowi dan yang most commented adalah berita tentang Basuki. Di viva.co.id, dari 10 berita terpopuler, 6 di antaranya adalah berita tentang Jokowi dan Basuki. Sama seperti saat berkampanye, hampir semua pemberitaan itu pun bernada positif. Kini, media yang sebenarnya punya fungsi kontrol telah berubah menjadi humas yang dengan setia menampilkan citra yang diinginkan kliennya.

Namun, berapa lamakah kemesraan itu akan terjalin? Bagi saya, jawaban dari pertanyaan inilah yang akan menjadi penentu dari ‘berhasil’ atau tidaknya Jokowi dalam memimpin Jakarta 5 tahun ke depan. Saya beri tanda petik, karena memang bagi kelas menengah seperti kita, ‘keberhasilan’ kinerja pejabat itu sebenarnya lebih sering bermakna yang dianggap/dikonstruksikan ‘berhasil’ oleh media.

Peluang Solusi demi Transparansi Kinerja

Terlepas dari adanya analisis konspiratif dan mazhab su’uzhonism terhadap efek Jokowi ini, dalam kerangka yang lebih optimis, saya justru melihat adanya peluang solusi perbaikan terhadap relasi sosial pejabat dan rakyat.

Bagi saya, distrust rakyat terhadap pejabat dan apatisme politik yang sedang menggejala ini sebenarnya disebabkan oleh media yang lebih suka memberitakan sisi buruk mereka dibanding sisi baik mereka. Media terkesan lebih suka memberitakan anggota DPR yang korupsi dibanding yang berprestasi (rajin hadir, argumentatif, dekat dengan konstituen, bahkan juga sederhana). Begitu pun dengan penggambaran SBY yang terkesan belum melakukan apa-apa untuk Indonesia, padahal kantung matanya telah begitu hitam & besar. Kalau kata pakar komunikasi-media, “ini soal framing saja bung.” Potongan realita mana yang mau ditangkap kamera?

Tanpa mengurangi fungsi kontrol media untuk bersikap kritis, saya pikir sudah saatnya media bersikap lebih apresiatif terhadap berbagai prestasi pejabat-pejabat kita. Sama seperti yang dilakukan terhadap Jokowi, sesekali jadilah humas mereka. Karena dengan ini, rakyat pun tahu apa saja yang dilakukan oleh pejabat-pejabat itu. Lewat hal inilah, transparansi kinerja dapat berlangsung lebih alamiah. Tanpa kecurigaan. Dalam jangka panjang nanti, rakyat pun jadi semakin tahu mana pejabat yang prestatif dan mana yang koruptif. Artinya, distrust itu tidak lagi ditujukan pada sistem dan lembaga, tetapi pada individu pejabat. Relasi sosial pun akan semakin baik dengan tumbuhnya trust rakyat dengan sistem demokrasi, lembaga politik, dan para pejabat prestatif. Pertanyaannya… Maukah media bermesraan dengan pejabat-pejabat prestatif dan memikat lainnya?

Nah, untuk para pejabat-pejabat prestatif lainnya, efek Jokowi ini sebenarnya membawa pesan sederhana bahwa berprestasi saja tidak cukup. Tetapi juga harus dianggap/dikonstruksikan berprestasi oleh media. Ya! pencitraan itu penting. Asal tetap jujur, ini prinsip.

Rabu, 17 Oktober 2012, okezone.com merilis sebuah berita berjudul “Wartawan pun Mulai Kewalahan Ikuti Jokowi Keliling Jakarta.” Jika saya bertemu dengan wartawan tersebut, saya akan berpesan padanya, “Mas, liput figur prestatif dan memikat lain dong…”

Muhammad Alfisyahrin (@bang_alfi) - Sosiologi UI 2010

Tags:


About the Author

Muhammad Alfisyahrin

Mahasiswa Sosiologi 2010. Kini menjabat sebagai KorBid Sosial Politik BEM UI.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑