Opini g

Published on September 25th, 2015 | by Ruth Olivia

1

Go-Jek sebagai Misi Sosial

Macet, sesak, padat merayap, belum lagi kondisi lalu lintas yang tidak menentu adalah sedikit dari banyaknya keluhan tentang kondisi transportasi ibu kota yang setiap harinya dihadapi oleh warga Jakarta. Transportasi sebagai faktor terpenting dalam mendukung mobilisasi masyarakat dalam menjalankan roda perekonomian masih menjadi masalah sakral di beberapa daerah di Indonesia, khususnya Jakarta. Masalah kemacetan, jumlah kendaraan, hingga keamanan, menurut saya adalah tiga masalah transportasi yang paling fundamental untuk sesegera mungkin dibenahi. Kondisi ini memengaruhi rasionalitas masyarakat dalam memilih moda transportasi yang cepat, aman, dan nyaman. Banyaknya pilihan moda transportasi yang ada di Jakarta, salah satu yang sering saya gunakan untuk sampai ke tujuan dengan cepat adalah ojek.

Beberapa waktu yang lalu media sosial diramaikan dengan pembicaraan mengenai aplikasi Go-Jek. Layanan yang sebenarnya sudah ada sejak 2011 ini baru meluncurkan Go-Jek Mobile App pada 10 Februari lalu dan langsung menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Go-Jek sendiri hadir dengan empat jasa layanan yaitu: Instant Courier, Transport, Shopping, dan Corporate (kerjasama dengan perusahaan untuk jasa kurir), yang menekankan pada kecepatan, transparansi, dan akses yang mudah bagi konsumen. Hal ini menurut saya adalah hal baru yang sangat inovatif dan sesuai dengan kondisi pasar konsumen di era teknologi seperti sekarang ini. Merasa tertarik, saya pun mulai mencari berbagai informasi mengenai Go-Jek di Internet dan juga bertanya ke beberapa teman yang sudah pernah menggunakannya. Berbagai respon positif yang saya dapatkan membuat saya sedikit penasaran untuk mencoba menggunakan layanan ojek ini.

Akhirnya seminggu yang lalu saya memesan ojek melalui aplikasi Go-Jek yang telah saya download sebelumnya. Setelah memesan, nama driver beserta posisinya kemudian muncul dalam notifikasi saya beserta narahubung si pengemudi. Tidak lama, hanya dalam lima menit saja pengemudi langsung menguhubungi saya bahwa beliau sudah sampai di sekitar tempat saya memesan. Setelah bertemu dengan pengemudi, saya diberi helm lengkap dengan masker dan head cap untuk perlengkapan berkendara saya. Hal ini membuat saya cukup mengapresiasi tingkat keamanan dan higienisitas pada layanan Go-Jek. Pengemudi juga sangat ramah dan sopan, serta mengemudi dengan aman.

Selama berkendara saya sempat melakukan perbincangan dengan pengemudi saya yang bernama Nurhasim, sekedar mencari tahu mekanisme dan sistem manajerial dalam perusahaan Go-Jek. Dalam segi finansial, Nurhasim mengaku pendapatannya lebih tinggi dibandingkan pekerjaannya dahulu sebagai ojek pangkalan yang hanya menunggu penumpang yang tidak tentu jumlahnya. Berbeda dengan Go-Jek yang tidak menunggu penumpang tetapi menjemput penumpang. Nurhasim berkata penghasilannya bisa mencapai 7,5 – 9 juta/bulan sejak bergabung bersama Go-Jek. Untuk mendapatkan penghasilan besar, pengemudi Go-Jek berlomba mengantarkan penumpang sebanyak-banyaknya dan tidak dibatasi waktu dan tempat. Nurhasim juga mengaku sangat diuntungkan dengan adanya promo Ceban Ramadhan yang sangat berdampak besar pada penghasilannya. Perusahaan tetap membayarkan gaji sesuai dengan tarif normal, dengan pembagian hasil 20% untuk perusahaan dan 80% untuk pengemudi.

Beralih dari perbincangan singkat saya dengan Nurhasim, saya pernah membaca sebuah artikel yang memuat profil Nadiem Makariem, lulusan S2 Harvard yang merupakan pencetus beberapa perusahaan seperti Go-Jek, Zalora, dan Top Tier Academy, di mana beliau mengatakan bahwa bisnis tidak selalu cari untung. Adapun dalam portal berita Metrotv News Nadiem Makarim menyatakan: “Kami punya misi sosial buat mereka yang tadinya kerja 14 jam duduk nunggu customer cuma dapat narik empat kali sehari. Sekarang mereka bias dapat 15 kali penumpang dalam sehari.” Selain menguntungkan penumpang, Go-Jek juga membantu memajukan kesejahteraan pengemudinya. Kita tentu mengetahui keberadaan ojek pangkalan yang menghiasi sudut-sudut jalan dan perumahan tempat kita tinggal. Ojek pangkalan tidak memiliki penghasilan yang tetap dan seringkali kalah saing dengan transportasi lain seperti angkot. Dengan kondisi yang memprihatinkan ini, menurut saya Go-Jek ikut berkontribusi dalam menyokong ekonomi lemah dengan membantu mempertemukan ojek dengan penumpangnya melalui inovasi teknologi smartphone application. Sesederhana itu saja, namun besar dampaknya.

Marx dengan perspektif konfliknya, memandang bahwa masyarakat, baik struktur, institusi, maupun kelompok-kelompok hanya bisa mengalami perubahan sosial yang transformatif jika terjadi konflik antar kelas sosial, yang menghasilkan struktur sosial masyarakat yang lebih adil. Demikian halnya sebuah hal baru tidak serta merta diterima begitu saja oleh semua kalangan sekali pun tujuannya untuk mengubah perekonomian masyarakat menjadi lebih baik. Beberapa kali saya menjumpai berita yang memuat tentang perselisihan Go-Jek dengan ojek pangkalan yang diwarnai kekerasan akibat ojek pangkalan merasa tersaingi dan dirugikan dengan keberadaan Go-Jek. Ojek pangkalan merasa keberadaan Go-Jek mengurangi jumlah penumpang mereka yang tadinya sepuluh orang perhari menjadi empat atau lima orang saja. Pihak Go-Jek sendiri merespon melalui akun twitter resmi Go-Jek Indonesia bahwa perusahaannya tidak bermaksud berkompetisi justru mereka ingin agar ojek berkembang. Selain mempertemukan ojek dengan pelanggan melalui teknologi, Go-Jek juga membekali para pengemudinya dengan asuransi kesehatan dan santunan kecelakaan sebagai bentuk pensejahteraan yang dilakukan perusahaan untuk pengemudi. Dalam respon tersebut, Go-Jek juga mengajak semua ojek pangkalan untuk bergabung dengan Go-Jek untuk menikmati keuntungan-keuntungan menjadi pengendara Go-Jek sebagai solusi mengatasi konflik tersebut.

Berdasarkan pengalaman ini saya kembali berpikir bahwa segala kemudahan dan kemajuan teknologi sekarang ini dapat membawa dampak yang besar bagi kemajuan segala bidang . Hanya dengan bermodalkan aplikasi, Go-Jek telah membantu mendukung kemajuan ekonomi lemah seperti ojek pangkalan yang sering kali terabaikan oleh kita. Jika dikatakan Go-Jek adalah bentuk kapitalisme terhadap ojek-ojek yang ada, mungkin benar adanya. Namun,kapitalisme tidak selalu berwajah buruk rupa dengan upaya eksploitasi dan pemberdayaan yang semena-mena. Saya lebih setuju jika Go-Jek dikatakan sebagai bentuk misi sosial, hadir dengan konsep yang tepat sasaran, dengan misi mengembangkan ekonomi kecil melalui inovasi ide yang sederhana.

Tags: , , , , , ,


About the Author

Ruth Olivia

Sophomore in Sociology Departement - University of Indonesia, loves philosophy, literatures and an art enthusiast



One Response to Go-Jek sebagai Misi Sosial

  1. Wooclip says:

    aplikasi ini sangat membantu

Leave a Reply to Wooclip Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑