Opini image_manchester_city

Published on August 30th, 2012 | by Redaksi Sociozine

0

Gumaman Lapangan Hijau

Minggu, 13 Mei 2012 sekilas seperti minggu-minggu malam biasanya, penghuni kos-kosan Pondok Jingga berkumpul di depan televisi menyaksikan pertandingan antara Manchester City vs Queens Park Ranger, sebuah laga yang sebenarnya menurut saya sama seperti pertandingan di Liga Inggris lainnya, karena di stasiun tv lain juga sedang menyiarkan laga antara Manchester United vs Sunderland. Saya yang tidak begitu mengikuti tren pembicaraan seputar sepakbola pun baru menyadari betapa pentingnya laga Man City vs QPR ini, karena dalam laga ini dapat dikatakan sebagai sebuah penentuan siapakah juara musim 2011/2012 Barclays Premier League, itupun setelah teman sekosan yang mengklaim dirinya sebagai Citizen (sebutan penggemar ManCity) menjelaskan kondisi tabel klasemen, perolehan poin dan perbedaan gol antara pemuncak dengan posisi kedua.

Saya tidak akan menceritakan detil klasemen, namun yang perlu digarisbawahi adalah laga antara ManCity vs QPR menjadi penting bagi 3 orang teman sekosan, seorang penggemar Liverpool namun bertaruh sejumlah uang untuk kemenangan ManCity, seorang menyukai Real Madrid namun mendukung ManCity malam ini dan terakhir adalah ia yang memang Citizen tadi yang berharap agar tim kesayangannya bisa menjadi juara Inggris yang ketiga kalinya. Sekali lagi, saya yang tidak menggilai bola, dan tidak up to date untuk masalah seputarannya; transfer pemain, pemain yang cedera, apalagi bila berkenaan dengan gosip-gosip masalah pribadi pemain dan orang-orang di sekitarnya, tidak memiliki kapabilitas untuk berbicara perihal tersebut namun saya kemudian tergelitik untuk membuat tulisan ringan ini.

Dalam sebuah permainan sepakbola, yang bagi sebagian orang adalah agama, sebagian merupakan identitas sosio-kultural dan sebagian lagi merupakan mata pencahariannya. Pemain dan sejumlah official mendapatkan gaji dari bergulirnya si kulit bundar, sponsor dan pemilik hak siar televisi mendapatkan royalti, sementara bandar dan para penjudi mencoba peruntungan dari statistika akan setiap bulir keringat pemain yang jatuh demi memanen akumulasi modal yang ditanam sebelumnya. Dengan begitu kompleksitas yang terkandung dalam 2 x 45 menit bukan hanya sekedar kelihaian mengolah bola, melatih dan menganalisa permainan ala Ricky Jo atau Ronny Pangemanan, tetapi juga kombinasi antara aspek sosio-kultural-ekonomi bahkan tidak jarang sarat akan wacana politik identitas bagi mereka yang meyakininya.

Sebagai contoh, kembali kepada cerita saya tentang kemenangan Man City ketika membantai QPR di menit-menit akhir setelah sampai menit ke 90 masih kalah 1-2 akhirnya dapat membalikkan keadaan dengan skor 3-2 setelah Dzeko dan ‘Kun’ Aguerro yang dengan gigih menjebol pertahanan QPR yang dikunci rapat, setelah Barton dikartu merahkan oleh wasit (karena ini bukan artikel maupun ulasan Liga Inggris saya tidak akan berlama-lama membahas pertandingan). Hal yang menjadi menarik adalah reaksi 3 orang tadi ketika menyaksikan peluang-peluang ataupun kejadian ketika pertandingan berlangsung, layaknya nobar di ruang publik pada umumnya, penuh dengan teriakan, umpatan, ataupun juga sederetan ekspresi spontan lainnya. Maaf saja para tetangga yang sudah ingin tidur, kos-kosan kami memang tidak jauh berbeda seperti pos ronda ataupun cafe untuk nobar dengan fasilitas yang oke punya, sama berisiknya ketika menonton bola, bukankah justru aneh ketika menonton bola hanya duduk diam menganggukkan dan menggelengkan kepala sebagai respon terhadap setiap kejadian di pertandingan? Apalagi pertandingan malam ini terbilang cukup dramatis, terbukti oleh statistik yang mencatat perolehan goal attempts dan shots on goal serta jumlah tendangan sudut yang dikuasai oleh Manchester biru.

Luapan dan kegembiraan ketiga teman sekosan tadi pun membludak ketika City berhasil menyamakan kedudukan melalui tandukan Dzeko dan tanpa menunggu lama Aguerro menjadi penyelamat bagi para Citizens dan otomatis mengubur harapan para Red Devils merayakan gelar juaranya yang ke 20. Rivalitas, itulah yang menjadi sorotan laga malam ini. Manchester biru yang disebut Fergie sebagai noisy neighbours memang mengincar gelar tersebut sejak lama, dibandingkan dengan Manchester merah yang memang langganan juara.

Adalah Roberto Mancini yang menjadi otak keberhasilan City merengkuh manisnya gelar juara, selain karena pundi-pundi syeikh timur-tengah di balik pembenahan manajerialnya. Malahan dulu sempat tersiar kabar terdapat sejumlah saham mantan PM Thailand, Thaksin Sinawatra, di klub tersebut. Seperti yang sudah saya bilang, sepakbola bukan hanya sekedar otak pelatih, otot pemain dan sorakan pendukung, tetapi juga mengitari orbit tersebut aliran dana para pelaku bisnis.

Belum lagi penjualan Merchandise klub kesayangan yang menjadikannya sebagai prestise tersendiri, bukannya sinis, tapi terkadang sulit juga untuk mengenali seseorang yang benar-benar memahami dan menggilai pemain/klub yang kostumnya digunakan dengan mereka yang mengikuti tren fashion persepakbolaan. Seperti sebuah cerita teman saya yang memberikan kostum Liverpool sebagai sebuah kado ulangtahun istimewa kepada gadis yang dikaguminya. Kejadian selanjutnya menjadi lucu karena ternyata sang gadis sebelumnya juga telah menerima 4 kostum yang sama, juga sebagai bentuk ucapan selamat. Ataupun pada kejadian malam ini, ketika teman yang pendukung Liverpool justru menggunakan kostum Man City, bernomor punggung 45 yaitu Balotelli, ditambah dengan keberaniannya untuk bertaruh untuk kemenangan Si Biru.

Salah besar bila berharap tulisan ini akan menggugah daya kritis lebih jauh kalian yang membacanya, secara sederhana saya hanya berbagi hal-hal yang secara common sense dapat disadari namun sering dilupakan. Tulisan ini juga bukan dalam rangka menggugat identitas kolektif fanatik tim sepakbola tertentu apalagi mengkritik kesadaran palsu dalam menikmati olahraga yang sudah menjadi komoditas, walaupun saya sendiri kadang tidak habis pikir darimana menariknya melihat para pemain bola profesional berdansa bersama si kulit bundar di lapangan hijau (sebagai seorang profesional, bermain sepakbola tentu menjadikannya serupa dengan seorang tukang pos yang bertugas mengantarkan surat ataupun ketika petugas kelurahan membuat KTP berharap akan amplop tambahan) ataupun ketika sejumlah kawan berbondong-bondong mengantri/memesan kostum tim kesayangannya dengan desain terbaru.

Hal itu kemudian membuyarkan bayangan saya akan hakikat sepakbola sebagai sebuah olahraga yang (semoga) dapat menyehatkan jiwa dan raga, men sana in corpore sano, dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, bukan begitu? Akan tetapi, melihat kondisi belakangan ini seolah slogan tersebut berubah menjadi “dalam perputaran modal yang cepat dibutuhkan atlit dan penggemar yang taat”. Ah, itu kan urusan mereka, sayapun tidak rugi, karena terlepas dari kerumitan tadi traktiran para penjudi telah menanti. Sebagai penutup, saya hanya ingin mengucapkan selamat bagi yang sedang bersuka cita, tolong jangan lupa pajak penghasilannya (traktiran) dilunasi.

______________

Barjow Anonim

Tags: ,


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑