Opini Safe abortion day 1

Published on September 28th, 2017 | by Priscilla Yovia

0

International Safe Abortion Day 2017: Militansi perjuangan menuju Aborsi Aman dan Legal—Otoritas Perempuan atas Tubuhnya Sendiri

Oleh: Priscilla Yovia

Tidak terasa bulan September akan segera berakhir, tentunya tidak tanpa melalui sejumlah tanggal-tanggal penting. International Safe Abortion Day adalah salah satu yang diperingati pada setiap 28 September. Tahun ini, tema yang diangkat untuk aksinya adalah “Gerakan Global untuk Hak Atas Tubuh” yang mana tema ini konsisten dengan tema di tahun-tahun sebelumnya. Perjuangan 28 September kembali dihidupkan dan diangkat sebagai respon atas kebijakan Mexico City Policy pada tanggal 23 Januari 2017 lalu. “Global Gag Rule”, sebutan lain kebijakan tersebut, membungkam suara perempuan yang ingin mendapatkan hak atas tubuhnya sendiri dan berpengaruh tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga terhadap negara-negara di luarnya. Hal ini tentu merupakan situasi yang darurat yang menuntut sikap tanggap bersama. Sebelum menuju ke sana, ada baiknya terlebih dahulu kita mengulas kembali sejarah perjuangan 28 September. Apa sebenarnya agenda gerakan perempuan di tanggal 28 September ini? Bagaimana perjuangan yang dilalui sampai ke sini? Mengapa sangat penting untuk diingat dan dipertahankan?

Tanggal 28 September 1990 merupakan hari bersejarah dimana pertama kali diperkenalkan dan diluncurkannya Campaña 28 de Septiember por la Despenalización del Aborto atau Aksi Kampanye 28 September atau Aborsi Aman dan Legal di Amerika Latin dan Karibia. Kampanye ini berangkat untuk mengenang tanggal 28 September itu sendiri saat perbudakan di Brazil dihapuskan. Kemudian diingat sebagai simbol free womb (rahim yang bebas), aksi yang—bahkan sampai sekarang masih terus dilakukan—oleh Campaña 28 Septiembre, grup aktivis regional di sana, menuntut pemerintah untuk 1) mendekriminalisasi atau depenalisasi aborsi; 2) menyediakan akses untuk aborsi yang aman dan terjangkau, serta 3) melawan stigma dan diskriminasi terhadap perempuan yang memilih aborsi.

Tanggal ini kemudian dideklarasikan oleh Women’s Global Network for Production Rights (WGNRR) sebagai hari internasional yang mengajak seluruh masyarakat bukan hanya di Amerika Latin untuk bersolidaritas melawan fakta bahwa sulitnya bagi perempuan di banyak negara untuk mendapatkan akses yang aman dan legal atas aborsi—bahwa tubuh yang perempuan miliki masih menjadi urusan orang lain dan hak atas tubuh perempuan sendiri belum diakui oleh hukum. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya persekusi terhadap wanita yang melakukan aborsi di negara-negara Afrika dan Asia pada saat itu. Tidak lain halnya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, pemerintah terus mendapatkan perlawanan yang luar biasa dari grup oposisi yang memaksa diberlakukannya restriksi legal dan finansial kepada perempuan yang memilih aborsi—stigma menjadi semakin sulit dilawan karena diskriminasi sendiri semakin kental. Untuk mendapat akses kepada Hak Asasi Manusia mereka saja, wanita dipersulit dan dihalang-halangi. Bagaimana tidak? Kita tinggal di dunia dimana wanita memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya dianggap sebagai “kriminal”, tetapi polisi dan tentara yang menembak atau membunuhi warga sipil dianggap sebagai “pahlawan”.

Syukur, perjuangan tidak semerta-merta berhenti ketika aspirasi ditolak. Pengadvokasian baik oleh grup aktivis skala regional dan global termasuk di dalamnya WGNRR terus berjalan sehingga pada tahun 2015, tanggal 28 September resmi diakui sebagai International Safe Abortion Day. Nama ini kemudian diajukan dan resmi diterima PBB. Semenjak itu pula gerakan perlawanan terhadap stigma dan hambatan menjadi semakin gencar. Bahkan tiga kementerian negara Prancis, DR. Kongo, dan Nepal, secara aktif berpartisipasi menjalin kerjasama dengan NGO yang ada di negaranya untuk mengorganisasikan suatu aktivitas untuk memperingati hari tersebut.

Mungkin sampai di sini kita akan bertanya: bagaimana dengan Indonesia? Apakah “Global Gag Rule” yang ada akan mempengaruhi Indonesia juga? Tidak mudah rasanya memastikan kedua pertanyaan tersebut dengan jawaban yang konkret. Ada baiknya justru pertanyaan itu kita ajukan sebagai refleksi diri dan sejauh mana riset dan kajian, serta apa yang selama ini sudah kita lakukan untuk memperjuangkan kesetaraan gender (dalam hal ini terkhusus perempuan) di Indonesia. Pembahasan tentang aborsi di Indonesia tidak akan lepas dari kentalnya unsur agama dalam seluruh aspek bermasyarakat dan bernegara. Jangankan mengizinkan aborsi, victim-blaming saja masih membudaya di sini. Kedengarannya cukup sulit? Memang. Tidak jarang pemerintah dan figur publik menunjukkan antipatinya terhadap aborsi—atau terhadap pengaplikasian Hak Asasi Manusia pada umumnya, hal ini dapat dilihat dari penolakan terhadap 75 rekomendasi HAM yang diberikan negara-negara pada saat Universal Periodic Review (UPR). Diskriminasi dan stigma yang ada tentang aborsi juga terus-menerus dilanggengkan melalui media (terutama sinetron yang sama sekali tidak mendidik). Namun apakah sulit berarti mustahil? Tentu saja tidak. Rasanya sudah cukup banyak bukti menunjukkan bahwa perjuangan untuk kebaikan pada akhirnya selalu membuahkan hasil. Hanya saja kini semuanya kembali kepada masing-masing diri kita: berlaku atau membeku? Bergerak maju atau tersedak mundur?

 

Referensi:

http://wgnrr.org/dayofaction/september-28-global-day-of-action-for-access-to-safe-and-legal-abortion/

http://www.safeabortionwomensright.org/international-safe-abortion-day/

http://www.september28.org/wgnrr-ipas-global-release-comic-strip-series-of-global-abortion-advocacy-achievements/

http://www.september28.org/take-action-2/

http://foreignpolicy.com/2017/09/07/senate-votes-against-administration-on-anti-abortion-global-gag-rule/

http://www.pfaw.org/blog-posts/joint-statement-groups-urge-careful-monitoring-of-global-gag-rule/

Tags:


About the Author

Priscilla Yovia

Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang tertarik pada fokus kajian/studi tentang Feminisme, Eksistensialisme, dan Sosialisme. Jika ada waktu luang, kegiatan favoritnya adalah membaca dan menulis, serta makan dan tidur.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑