Opini gersos medsos

Published on July 14th, 2014 | by Eveline Ramadhini

2

Israel dan Palestina: Sebuah Refleksi Gerakan Sosial lewat Dunia Maya

Tak dapat dipungkiri bahwa kita sebagai manusia tak luput dari kehidupan modern berbasis temuan-temuan canggih di mana segala hal serba menggunakan teknologi, terutama dalam hal komunikasi dan informasi. Kini kita sudah begitu akrab dengan aplikasi-aplikasi ponsel pintar yang ‘katanya’ memudahkan dan tak berbayar seperti SMS. Mulai dari aplikasi Whatsapp, Line, Instagram, Path, Facebook, Twitter, BBM Messenger, dan lain sebagainya. Semua aplikasi tersebut berkembang di dalam masyarakat dan dijadikan lahan berkomunikasi secara aktif lewat dunia maya. Anda bisa bayangkan, berapa banyak percakapan yang dapat Anda lakukan sehari-hari, tanpa mengenal jarak dan ruang. Hal ini mengindikasikan bahwa dewasa ini kemampuan komunikasi antar manusia semakin dimudahkan. Masyarakat Indonesia sendiri memiliki 47 juta pengguna aktif di media sosial dengan peringkat ke-5 sebagai pengguna Smartphone terbesar di dunia. Bahkan menurut pendiri Whatsapp, Neeraj Arora, Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat suka mengobrol di dunia maya.

Akhir-akhir ini, obrolan yang sedang panas di media sosial adalah mengenai perlakuan perang oleh Israel dan Gaza, Palestina. Ternyata kesepakatan damai Oslo yang sempat dideklarasikan untuk pengakuan kedaulatan antara Israel dan Palestina tidak berjalan sesuai dengan semestinya. Peperangan yang dulu sempat menegang pada 2008 lalu, kini kembali mencuat setelah sekian lama tak berujung penyelesaian. Konflik horizontal ini diklaim disebabkan oleh perebutan wilayah kekuasaan. Israel menganggap tanah tersebut miliknya, sedang Palestina menganggap bahwa itu adalah wilayahnya yang tak bisa diganggu gugat. Perang ini seolah abadi dengan dua pihak yang sama-sama didukung oleh negara-negara kuat. Semisal Israel yang dikabarkan didukung oleh Amerika, dan Palestina yang belakangan ini dibela oleh lebih banyak negara, termasuk Indonesia. Banyak negara yang mengecam perlakuan Israel—yang turut membunuh perempuan dan anak-anak, atas nama kemanusiaan. Tak hanya atas nama kemanusiaan, banyak juga yang membela Palestina atas nama kesamaan agama.

Lalu, seberapa urgent-kah pembelaan masyarakat Indonesia terhadap masyarakat Palestina? Bagaimana tindakan-tindakan para pembela Palestina untuk meminimalisir dampak yang tidak diinginkan? Seberapa efektif tindakan masyarakat Indonesia terhadap masyarakat Palestina itu sendiri? Bagaimana dengan produk-produk Israel yang kita kenal merambah dalam setiap lini kehidupan kita, termasuk aplikasi-aplikasi ponsel pintar yang kita gunakan saat ini? Apakah lantas hal tersebut menjadikan kita ingin memboikot produk-produk Israel yang sudah terlanjur kita konsumsi dalam kehidupan sehari-hari?

Saat ini dapat kita lihat bahwa banyak sekali foto-foto yang beredar tentang penyerangan Israel ke Palestina tersebut. Anak-anak yang ditodong senjata, perempuan-perempuan yang dilukai dan banyaknya manusia-manusia yang gugur saat penyerangan berlangsung. Foto-foto tersebut pasti dapat kita temukan di jejaring sosial yang kita miliki. Berita pun semakin menyebar entah melalui ‘jarkoman’ atau aplikasi ‘share’ yang bisa digunakan. Dunia maya jadi begitu gusar. Begitu gusar dengan berita-berita, foto-foto, kalimat-kalimat yang menyayat hati dan do’a-do’a yang bertebaran di semua media sosial. Jiwa simpatik masyarakat Indonesia menjadi besar ketika mencuat kabar-kabar yang amat disayangkan keadaannya itu. Padahal banyak juga foto yang merupakan rekayasa semata dan disebarkan hanya untuk memprovokasi.

Namun tetap saja bentuk keprihatinan tersebut menyatu, menimbulkan perilaku kolektif yang berlanjut pada gerakan sosial. Dapat kita lihat bahwa informasi dunia maya tersebut mampu mendorong diri kita untuk bertindak—baik secara langsung maupun tidak langsung—pada dunia nyata, seperti adanya aksi simpatik, do’a bersama sampai penggalangan dana yang hasilnya dapat dikatakan fantastis. Contohnya, pada Seperti aksi dukungan untuk Palestina di Bundaran HI yang ramai pada Jum’at, 11 Juli lalu yang dihadiri oleh berpuluh ribu orang dari berbagai kalangan yang diwakili oleh Komite Nasional Rakyat Palestina. Bentuk aksi solidaritas ini juga bisa berjalan dengan baik karena jaringan komunikasi yang lancar di dunia maya.

Secara sosiologis, tindakan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia saat ini disebut dengan gerakan sosial (social movement). Dikutip dari Kamanto Sunarto, gerakan sosial didefinisikan oleh Jary dan Jary sebagai suatu aliansi sosial sejumlah besar orang yang berserikat untuk mendorong atau menghambat suatu segi perubahan sosial dalam suatu masyarakat. Sedangkan di pihak lain, gerakan sosial ditandai dengan adanya tujuan jangka panjang, yaitu untuk mengubah ataupun mempertahankan masyarakat atau institusi di dalamnya (Sunarto, 2004). Hal ini mengindikasikan bahwa gerakan sosial memiliki signifikansi yang besar.

Dari contoh di atas, kita dapat melihat bahwa peran dunia maya sangat signifikan dalam memfasilitasi perkembangan berita, proses dan hasil yang tadinya abstrak menjadi kongkrit. Padahal, siapakah yang memfasilitasi berita-berita tersebut? Jawabannya adalah aplikasi-aplikasi yang kita gunakan di ponsel pintar kita notabene dipelopori oleh orang-orang Yahudi berkebangsaan Israel. Hal ini memang kontradiktif, dan di sinilah letak keunikannya, bagi penulis pribadi.

Penulis pernah menemukan beberapa opini dari dunia maya tentang “Boikot produk-produk Israel!”, atau banyak opini yang senada dengan hal itu. Tapi kenyataannya, setiap lini kehidupan kita merupakan produk-produk dari mereka, termasuk aplikasi ponsel pintar yang kita gunakan saat ini. Pertanyaannya adalah, bisakah kita lepas daripadanya? Perlukah kita memboikot produk-produk yang katanya dengan memakainya artinya kita membantu Israel? Mari kita pikirkan ulang, bagaimana kita melancarkan aksi-aksi sosial untuk Palestina jika bukan dari aplikasi ponsel pintar yang kita gunakan sehari-hari? Meski aplikasi tersebut bukan satu-satunya sarana, tapi sebagian besar informasi kita dapatkan dari sana.

Dari penuturan di atas, dapat disimpulkan bahwa gerakan sosial merupakan salah satu ekspresi sosial sebagai respon atas suatu hal dan dapat terjadi perubahan sosial daripadanya. Gerakan sosial juga bisa berasal dari dunia maya, yang terealisasi dalam dunia nyata secara sinkron dan berkesinambungan. Dapat dikatakan bahwa jejaring sosial memiliki pengaruh yang kuat untuk membentuk perilaku kolektif yang mengarah pada gerakan sosial, atau solidaritas antar sesama manusia—khususnya antar sesama agama.Karena itu, kita harus berbijaksana dalam menggunakan jejaring sosial di dunia maya. Kita harus paham betul apa yang kita suarakan, apa yang kita perjuangkan. Jangan sampai jejaring sosial kita memicu terjadinya suatu gerakan sosial yang kurang bijak.

Referensi:

http://inet.detik.com/read/2014/02/03/171002/2485920/317/indonesia-masuk-5-besar-negara-pengguna-smartphone

http://tekno.kompas.com/read/2013/06/25/08514583/pendiri.whatsapp.komentari.orang.indonesia

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi (Edisi Revisi). Jakarta: LP FE UI.

Tags: , , , , , , , ,


About the Author

Eveline Ramadhini

Seorang mahasiswi Sosiologi angkatan 2013. Pemerhati tatanan masyarakat maya. Tertarik pada isu sosial makro dan Sastra Indonesia. Twitter: @EvelinRmdhn.



2 Responses to Israel dan Palestina: Sebuah Refleksi Gerakan Sosial lewat Dunia Maya

  1. Arief Rahadian says:

    lengkapin lagi eve, untuk melahirkan sebuah gerakan sosial dibutuhkan tiga syarat utama yaitu: musuh gerakan, identitas gerakan, dan tujuan gerakan (castell) – teori lain mengatakan kalau esensi utama gerakan sosial itu organisasi gerakan, pemimpin gerakan, dan ideologi gerakan (Ganda Upaya). jadi kalo dirangkum, idealnya sih gerakan sosial harus diidentifikasi dari beberapa aspek yaitu siapa pemimpinnya, lewat organisasi apa, ideologi apa yang dibangun (didalamnya ada tujuan dan musuh gerakan), serta siapa (identitas) yang melakukan gerakan

    yang paling penting dalam menganalisa gersos sih, kita harus lihat gerakan tersebut dari sudut orang yang melakukan gerakan, jadi gak apa apa untuk bilang A menganggap B salah, dalam konteks analisa ya (castell, the power of identity)

  2. ReyAhmad says:

    secara keseluruhan tulisan evelin sudah bagus, sudah mampu ,mendefinisan dan menjelaskan apa yg ingin disampaikan. namun, pertanyaan2 pd paragraf ketiga membuat pembahasan dlm tulisan ini menjd begitu luas. pada akhirnya tdk semua pertanyaan tersebut dijawab pd bagian pembahasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑