Opini 142820_620

Published on April 21st, 2014 | by Redaksi Sociozine

4

Kereta, Kartini, Perempuan

Halo! Selamat tanggal 21 April dan selamat hari Kartini!

Hari Kartini merupakan suatu peringatan atas kesetaraan gender di Indonesia. Berkat jasa Kartini dalam memperjuangkan emansipasi perempuan, telah memberikan banyak perubahan terhadap kondisi perempuan dari dulu hingga sekarang. Kini perempuan Indonesia bebas untuk menyampaikan pendapatnya, bersekolah, bekerja, dan lain sebagainya.

Untuk memperingati hari kartini tahun ini, kami ingin berbagi opini tentang relasi gender di dalam kereta commuter line Jabodetabek. Bagi kalian yang merupakan  penumpang commuter line, pasti sudah tidak aneh lagi untuk berdesak-desakan di dalam gerbong kereta pada jam berangkat maupun pulang kerja bukan? Berdesak-desakan dengan ratusan orang di tiap gerbong yang entah pasti jumlahnya, dengan berbagai macam tujuan dan kepentingan. Berjuta pikiran dari sekumpulan desakan manusia yang memaknai “kepadatan” perjalanannya. Pemandangan yang selalu terjadi setiap hari, seperti sebuah ritual.

Kereta berhenti di setiap stasiun. Beberapa orang yang naik, dan beberapa turun. Terbukanya pintu gerbong kereta di stasiun Sudirman sore itu, seolah mengizinkan langkah seorang perempuan untuk kembali ke rumahnya. Nampaknya kursi sudah penuh diduduki oleh penumpang lain dari stasiun Tanah Abang. Akhirnya, situasi tersebut membuat perempuan itu berdiri sambil menggantungkan tangannya ke atas pegangan tepat di depan kursi yang diduduki oleh seorang laki-laki. Ya, di ujung kursi gerbong lima, laki-laki itu sedang menikmati kursi yang dibayarnya dua ribu lima ratus rupiah.

Dengan wajah letihnya, perempuan tersebut memandangi wajah laki-laki tersebut. “Udah capek, gerbong sumpek gini! Nih cowok di depan gue malah enak-enakan duduk di kursi, bukannya ngasih cewek tempat duduk. Dia gak liat gue apa? capek pake high heels gini. Cowok tuh kebiasaan, gak ngertiin cewek.” gerutu perempuan ini dalam hati.

Jauh di luar perkiraan perempuan tersebut, ternyata laki-laki itu juga menatap perempuan yang sedari tadi memandanginya dengan wajah curiga. “Kenapa sih ini cewek? Kok jutek amat ngeliatin gue? Aneh banget, emang kenapa coba?” cibirnya dalam hati. Situasi saling tatap tersebut berjalan cukup lama dan akhirnya si perempuan pun bersuara, “Mas boleh minta tempat duduk nggak? Saya capek nih habis pulang kantor, mas itu kan laki-laki, jadi boleh ya tempat duduknya untuk saya? Saya kan perempuan.” Dengan nada yang agak kesal, laki-laki itu menjawab, “Mbak, kan di sini bukan gerbong perempuan, jadi saya juga punya hak dong untuk duduk di sini, saya juga habis pulang kantor mbak, capek.” Debat yang harusnya tidak terjadi justru meluap antara kedua orang tersebut, hingga akhirnya perempuan tersebut mengeluarkan kalimat pamungkasnya, “Mas saya perempuan, perempuan itu prioritas dan lemah.” tandasnya. Karena tidak ingin berdebat panjang, akhirnya si laki-laki tersebut berdiri dan mengizinkan tempat duduknya untuk diduduki perempuan itu. Si perempuan pun duduk dengan wajah puas dan menyisakan rasa kesal dalam diri laki-laki tersebut.

Untuk para commuters, apakah kalian pernah merasakan situasi ini? Apa yang kalian rasakan jika posisi kalian sebagai perempuan dan laki-laki di atas? Tentunya setiap orang dari kalian pasti akan punya pendapat yang berbeda-beda. Begitu juga dengan kami tentunya.

Katanya, sekarang ini zamannya emansipasi. Emansipasi yang selalu digembar-gemborkan perempuan agar bisa maju dan keluar dari kungkungan ketidaksetaraan. Tapi apakah kata-kata emansipasi itu masih relevan? Kalau dilihat lagi dari cerita di atas, di mana ya letak kesadaran terhadap makna “emansipasi” itu sendiri? Apakah emansipasi yang dimaksud itu bisa mewujudkan kesetaraan gender?

Jika kita melihat dalam konteks kondisi sosial dalam masyarakat, apakah ketidaksadaran perempuan tersebut benar-benar merupakan sesuatu yang “lahir” secara alamiah dari dalam dirinya? Ataukah ada intervensi dan internalisasi nilai-nilai yang berproses dan memengaruhi perempuan dalam memandang kesetaraan gender? Jika dilihat dari kasus penumpang perempuan kereta api tersebut, apakah benar kondisi struktur dan sistem masyarakat Indonesia menempatkan posisi perempuan yang lebih rendah dari dari laki-laki?

Hal ini membuat kaum perempuan terbuai oleh kondisi tersebut, sehingga yang seharusnya mampu memperjuangkan hak dan kewajibannya, mereka malah menikmati posisinya seperti itu. Adalah suatu kepuasan bagi kaum hawa memiliki “keistimewaan sebagai perempuan”.

Perempuan, akankah terus-menerus beremansipasi? Dan selalu diistimewakan? Andaikan suatu hari emansipasi muncul dari kaum laki-laki yang lelah dengan keistimewaan perempuan, dan ada perubahan posisi laki-laki dan perempuan. Lantas, laki-laki juga memiliki kesempatan untuk mengatakan kalau Ia harus diprioritaskan karena dia lemah—butuh tempat duduk di kereta.

Jadi, lebih baik diistimewakan atau setara saja? Sekian, Selamat Hari Kartini.

Haning Nugahadi

Roseanne Mangindaan

Tri Apriliani

Tags: , , , , , , ,


About the Author

Redaksi Sociozine



4 Responses to Kereta, Kartini, Perempuan

  1. Haning says:

    Seneng juga akhirnya bisa nyumbang di sosiojin walaupun cuman sedikit

  2. Rudi says:

    dah lama baru liat artikelnya. Kalau saya jadi laki-laki di sana saya gak akan kasih duduk. Paling saya tanya “mbak hamil, udah nenek-nenek, cacat atau bawa bayi?” kalau jangan tambah2 aturan. Tambah2 aturan seenaknya harusnya dipenjara loh. Lagian jangan kebiasaan dong membuat mubazir gerbong khusus wanita.

  3. Artikel yang cukup menarik…

    Saya menangkap jika kita berbicara mengenai kesetaraan gender, maka kita akan menyinggung mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Jika berbicara mengenai konsep Hak Asasi Manusia, maka manusia tidak dibeda-bedakan menjadi segmen-segmen tertentu. Misalnya pembedaan ras kulit putih dengan kulit hitam, orang barat dengan orang timur, begitu pula dengan laki-laki dan perempuan. Teramat fundamental, aritkel satu dari teks Deklarasi Hak Asasi manusia oleh PBB menyebutkan bahwa semua manusia terlahir bebas dan setara dalam martabat serta hak-haknya.

    Saya sangat menyetujui jika kesetaraan tersebut merujuk kepada martabat, hak dalam mendapatkan pendidikan, pengajaran, hak untuk dihormati dan semacamnya. Saya pribadi malah selalu menganggap bahwa perempuan lebih tinggi martabatnya ketimbang laki-laki. Tidak bermaksud menyinggung masalah agama, namun mengapa martabat perempuan lebih tinggi adalah karena merekalah para kaum yang akan menentukan baik buruknya generasi-generasi selanjutnya.

    Yang selalu menjadi menjadi kelemahan dari kesetaraan gender maupun konsep HAM ialah mereka mencoba untuk ‘menyamakan’ perlakuan laki-laki dan perempuan. Sehingga wanita yang menggaung-gaungkan kesetaraan gender terkadang terjebak dalam kerangka pemikiran bahwa mereka harus selalu sama dengan laki-laki. Sekali lagi, saya selalu setuju jika harkat dan martabat memang tidak boleh didiskriminasi antara siapapun itu. Namun ternyata jika kita ingin menyamakan perlakuan atas gender ada hal-hal tertentu yang menjadi penghalang untuk melakukannya.

    Pertama yaitu masalah perbedaan fisik. Baiklah, kita bisa sedikit menjauhkan masalah kekuatan fisik antara laki-laki dan perempuan. Namun secara biologis, perbedaan-perbedaan tersebut akan membutuhkan perlakuan khusus yang berbeda. Kita tidak mungkin menggaungkan kesetaraan gender ketika perempuan hamil maka berarti mereka harus tetap bekerja seperti layaknya laki-laki, misalnya. Kita juga tidak bisa menyuruh laki-laki menyusui untuk anaknya setelah perempuan melahirkan. Karena hal-hal tersebutlah kita tidak dapat menyamaratakan perlakuan karena sudah sesuai dengan spesifikasi dalam kemampuan biologisnya.

    Kedua, yaitu masalah psikologis. Kita selalu mendengar bahwa perempuan bertindak menggunakan perasaannya sedangkan laki-laki bertindak berdasarkan logikanya. Hal ini pula yang membuat saya selalu beranggapan bahwa wanita lebih peka dalam membentuk kepribadian anak, sehingga anak tersebut dapat menjadi generasi yang lebih baik selanjutnya. Bukan berarti pula bahwa selalu perempuan yang harus mengurus anak, namun perempuan lebih memiliki spesifikasi untuk melakukannya.

    Menanggapi masalah di atas mengenai kasus di gerbong commuter line, sebenarnya masalahnya berada pada kesadaran keduanya. Perempuan tersebut harus menyadari pentingnya menghormati orang yang terlebih dulu dan sudah berada di suatu tempat, jikalau memang laki-laki tersebut tidak menginginkan bangkunya dimiliki perempuan itu, sebenarnya dia tidak perlu berkata demikian. Berbeda kasus jika perempuan tersebut hamil. Kedua, laki-laki tersebut perlu menyadari kondisi perempuan tersebut, apakah perempuan tersebut lebih membutuhkannya atau tidak, jika memang demikian memang seharusnya laki-laki tersebut mengikhlaskan tempat duduknya. Maka dalam hal ini sebenarnya hanya masalah prioritas keadaan dan budaya toleran, tidak terkait dengan gender.

    Berbicara masalah perlu diistimewakan atau setara saja, memang kadang ada hal-hal yang perlu disetarakan sebagai manusia, namun kita juga perlu mempertimbangkan penghalang-penghalang penyetaraan yang sudah di bahas di atas. Sehingga saya lebih suka menyebut bahwa baik laki-laki maupun perempuan harus diperlakukan sesuai dengan letaknya/kodratnya/proporsinya/spesifikasi kemampuannya. Dalam hal ini saya menyetujui keadilan distributif dari Aristoteles. Sehingga, janganlah kita terjebak pada hal penyamarataan yang biasa digaungkan oleh nilai-nilai liberalisme, tentu saja manusia sudah diciptakan sesuai dengan spesifikasinya masing-masing.

    Terakhir, pesan saya: Perempuan jangan mau disetarakan, karena sesungguhnya derajatnya tiga kali lebih tinggi dibanding laki-laki.
    Mohon maaf jika ada tulisan yang menyinggung.

    –Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Unpad–

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑