Opini 294798_620

Published on April 24th, 2015 | by Heidy Angelica

0

KRL: Miniatur Kita

Jakarta. Sesak, penat, dan tak bersahabat. Mirip seperti kereta Commuter Line yang menjadi transportasi rutin saya menuju kampus. Penuh sesak dengan orang-orang yang mengejar mimpinya di tempat kerja masing-masing. Mereka harus tahan dalam kepadatan orang berpuluh-puluh menit untuk sampai ke tujuan. Sulit bernapas, sulit bergerak, berkeringat, setiap harinya! “Wah nggak tahan, mbak.. Tapi mau gimana lagi ya.. Namanya kerja, cari duit, tuntutan lah,” kata seorang ibu pada saya.

Saya beruntung karena tidak perlu seperti itu setiap hari. Saya lebih sering pergi ke Depok di pagi hari dan kembali ke Jakarta Kota di sore hari, sehingga kereta yang saya tumpangi tidak terlalu penuh sesak dengan penumpang lainnya. Suatu sore di gerbong kereta yang sepi, saya menikmati perjalanan saya yang ditemani sinar matahari yang akan segera tenggelam. Lumayan untuk mengistirahatkan penatnya pikiran seharian itu. Saya turun di stasiun Djuanda. Sesekali mengintip senja sambil berjalan keluar dari stasiun. Namun, suasana hati yang tenang itu sekejap hilang ketika melihat kerumunan orang berlari-larian menuju kereta seolah esok tidak ada lagi. Beberapa orang seperti tidak melihat saya dan menabrak saya begitu saja. “Kasihan sekali,” pikir saya. “Kalau saya saja tidak bisa mereka lihat. Bagaimana mereka bisa menikmati senja di Djuanda?”

Saya rasa fenomena itu bukan hanya menunjukkan suasana hati saya yang melankolis. Tapi juga ritme cepat masyarakat kota yang membuat masyarakat penat, lelah, dan tidak mampu lagi – atau tidak sempat – menikmati hal-hal kecil di sekitar mereka. Seperti yang digambarkan Michael Ende dalam novelnya yang berjudul Momo, masyarakat modern seolah-olah memiliki waktu yang semakin hari semakin sedikit namun menuntut mereka untuk kerja lebih dan lebih lagi. Tidak seperti masyarakat desa yang bisa memakai dan menikmati waktunya dengan leluasa, masyarakat kota butuh mengejar-mengejar waktu karena “time is money!”.

Beberapa langkah dari stasiun Djuanda, saya melihat baliho iklan Condominium mewah terpampang. Sepanjang jalan saya menuju ke rumah, iklan demi iklan menawarkan begitu banyak kesenangan dan kenyamanan hidup. Inilah “agen-agen” yang memasarkan tuntutan-tuntutan tak terlihat yang memaksa masyarakat kota untuk mengejar itu semua. Iklan-iklan itu menjadi mimpi tiap-tiap orang untuk diraih. Menjadi pengingat mereka akan alasan mereka rela berdesak-desakkan di dalam KRL dan melewati nikmatnya senja yang meregangkan penat. KRL seolah menjadi miniatur kota Jakarta yang padat, penat, namun menyimpan sejuta mimpi orang-orang di dalamnya.

Di dalam KRL kita juga bisa melihat wajah masyarakat kota Jakarta yang lainnya: tidak bersahabat. Sosiolog bernama Tonnies berkata, “Kota adalah tempat yang penuh dengan orang-orang yang tidak saling kenal”. George Simmel menambahkan, tidak hanya saling tidak kenal, tapi juga tidak mau saling kenal. Ia berkata bahwa kota menyuguhi kita dengan gambar-gambar, impresi, sensasi, dan aktivitas dengan cepat. Kita tidak mampu meresponnya dengan sempurna. Karena itu, supaya kita mampu bertahan, kita menarik diri dan menjadi impersonal. Itulah masyarakat kota. Ternyata wajah itulah yang juga saya temukan di dalam kereta. Jarang sekali saya menemukan ada orang yang saling berbicara satu sama lain. Bertegur sapa atau bahkan sekedar tersenyum pun tidak. Semuanya menunjukkan wajah yang tidak bersahabat atau wajah yang tidak mau diganggu karena ia sudah sibuk berbicara dengan teman setianya: gadget.

Julie Kagawa berkata, “Seiring bertumbuhnya kota dan teknologi menguasai dunia, kepercayaan dan imajinasi menghilang, begitu juga kita.” Masyarakat kota teralienasi dari orang-orang sekitarnya. Orang-orang di dalam kereta begitu sibuk berkomunikasi dengan gadget-nya masing-masing dan bukan dengan orang di dekatnya. Orang-orang berdekatan sekali secara fisik, namun sangat impersonal satu dengan yang lainnya.

Ironisnya, imaji-imaji ini tidak hanya terjadi di KRL tapi juga di mana-mana. Di jalan, di halte bus, di dalam busway dan di berbagai sudut-sudut kota Jakarta. Mungkin memang seperti itulah masyarakat kota. Mungkin memang itulah kita. Tapi kita adalah kita. Kita bisa menentukan siapa kita. Kota adalah sebagaimana warganya. Ketika banyak orang melewatkan senja, membenamkan senyum, membisukan sapaan, dan menambah penat kota Jakarta–kita bisa berbuat sebaliknya.

(Dimuat di Majalah FISIPERS tahun 2014)

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,


About the Author

Heidy Angelica

Sosiologi 2012. Penikmat film, lukisan, dan teater. Tertarik isu etnisitas, agama, dan budaya. Hobi ngobrol, nonton, mikir, dan bobok. Saat ini aktif dalam Youth Peace Organization bernama Sandya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑