Opini opini mayday

Published on May 1st, 2015 | by Kevin Nobel Kurniawan

0

May day: Appreciation or Reaction

Hari Buruh dimulai di Amerika Serikat ketika para buruh menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam per hari. Namun, hari Buruh sendiri menjadi suatu hari yang secara simbolis menyatakan apresiasi terhadap kelompok yang memberikan tenaga kerja untuk negara. Setiap negara membutuhkan buruh, tidak ada satu negara yang dapat berdiri tanpa kelas pekerja yang giat.

Hari Buruh di Indonesia bukanlah hari libur, namun beberapa tahun belakangan hari buruh digunakan sebagai ajang untuk unjuk rasa. Hal ini mengindikasikan bahwa buruh belum merasa diapresiasi, ataupun puas terhadap kondisi yang mereka alami. Permasalahan struktural memang ada di Indonesia. Mulai dari upah yang rendah, pelayanan umum, tempat tinggal, kondisi bekerja, dan sebagainya, hal ini memperlihatkan bahwa kebijakan top-down kurang mendukung kelompok pekerja ini.

Akan tetapi, saya melihat bahwa permasalahan struktural tidak sepenuhnya bisa dipersalahkan. Para buruh di Indonesia, khususnya di wilayah perkotaan, kadang juga menjadi masalah bagi struktur ataupun individu yang lain. Secara kultural, buruh masih merasa teralienasi dari pekerjaan mereka. Mereka bekerja karena sudah tidak ada pilihan di lapangan yang lain; pekerjaan menjadi suatu kewajiban, bukan peran. Buruh tidak ingin menjadi buruh, tetapi juga tidak mengerti bagaimana menjadi pengusaha. Maka, kualitas produk, tenaga kerja, jumlah jam bekerja menjadi titik-titik yang mudah dikompromi.

Oleh sebab itu, saya berpendapat bahwa permasalahan pada kondisi buruh sebetulnya harus diberikan perhatian pada level meso – institusi dan organisasi. Transparansi organisasi seperti perusahaan-perusahaan harus jelas. Begitu pula dengan institusi hukum yang mengatur regulasi terhadap kondisi para buruh dan perusahaan. Sehingga, Hari Buruh bukan hanya menjadi suatu peringatan terhadap kondisi buruh, tinggi-rendahnya upah, jam kerja, namun juga mengacu pada permasalahan pada taraf organisasi/institusi.

Inilah hal-hal yang kurang disadari oleh para buruh di Indonesia. Alienasi, ketidaksadaran (class-in-itself) menyebabkan mereka menuntut peningkatan upah tanpa mengetahui mekanisme dan permasalahan yang lebih besar di baliknya. Gerakan sosial seperti demonstrasi tersebut bukan menjadi langkah yang solutif, namun hanya menjadi suatu side effect - suatu bentuk reaksi. Rendahnya cultural lack kemudian menimbulkan perilaku anarkis yang memberikan impresi negatif bagi masyarakat terhadap kaum buruh.

Kemacetan, kerusakan, ketidakamanan, dan lain-lain bukanlah hal yang dapat diapresiasi di hari Buruh. Timbulnya luka-luka dan sebagainya menunjukkan sikap buruh yang selama ini dipendam terhadap pemerintah atau organisasi-institusi. Sehingga, setelah Hari Buruh sudah berakhir, para manager/mandor atau aktor-aktor dalam perusahaan justru memiliki kecurigaan dan persepsi yang negatif terhadap buruh.

Oleh sebab itu, Hari Buruh bukanlah suatu hal yang dapat diapresiasi dengan baik di Indonesia. Hari Buruh belum menunjukkan nilai demokrasi yang sesungguhnya ketika “demokrasi” diutilisasi untuk hal-hal yang cenderung destruktif. Beda, antara “kebebasan berpendapat” dengan “kebebasan bersuara”. Pendapat patut didengarkan karena merujuk pada solusi.

Lalu, apa solusinya? Revolusi kah? Saya pikir Marx gagal dalam mewujudkan utopia, karena, memang kelas buruh akan selalu ada dan dibutuhkan, tetapi bukan untuk dieksklusi dan direndahkan. Secara idealis, kelompok buruh harus diapreasiasi oleh pemerintah, institusi, dan organisasi. Sebab tenaga kerja mereka dibutuhkan dan bersumbangsih pada negara. Patriotisme tidak harus dibatasi oleh mereka yang ada dalam militer, kepolisian, tetapi juga pada kelompok buruh.

Secara empiris, pakaian buruh harus diubah. Melalui pakaian, identitas individu diekspresikan. Standardisasi pakaian buruh harus dievaluasi, sehingga buruh tidak dikenakan pakaian yang “murahan”, tetapi mereka mengenakan pakaian sebagai seorang “pekerja”, sama seperti pekerja lainnya. Sebab tidak ada tenaga kerja yang rendah atau tinggi. Posisi, ada yang rendah dan tinggi, namun tenaga kerja semua dimiliki oleh setiap orang.

Jika digabungkan kedua hal tersebut, titik temu antara langkah solusi yang idealis dan empiris, adalah yang saya sebutkan sebagai langkah yang aktualis. Maka, saya menemukan bahwa pelayanan umum seperti transportasi, kesehatan, pakaian sehari-hari, harus disubsidi oleh pemerintah dan organisasi/institusi, dan kelompok buruh seharusnya bisa (atau bahkan diwajibkan) menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut apabila mereka bekerja dan memenuhi kewajiban-kewajibannya.

Tags: , , , , , , , ,


About the Author

Kevin Nobel Kurniawan

Mahasiswa Sosiologi UI 2013. Suka membaca, menulis, dan bergaul tentang Filsafat, Sastra dan Bahasa, dan Sosiologi.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑