Opini image_paulo_freire

Published on October 27th, 2012 | by Zaky Arrobi

0

Menggagas Pendidikan Membebaskan

Siswa bukan kerbau dan guru bukan dewa yang selamanya benar, kata kata Gie kecil dalam sepenggal adegan di film ‘Gie’ itu nampaknya memang terasa benar adanya. Di film itu dia ‘menggugat’ gurunya karena dia meyakini sesuatu yang berbeda dengan gurunya, namun sang guru yang merasa lebih pintar dan berkuasa tak menghargai pendapat Gie. Nampaknya demikianlah potret kehidupan pendidikan kita, metode pendidikan yang digunakan di sekolah sekolah kita masih menampakkan wajah ‘kolonial’ yang represif, monolitik dan membelenggu kreativitas siswa. Dalam praktik pendidikan demikian Guru ‘dijadikan’ nabi dengan segala ‘sabdanya’ yang selalu benar, sementara murid selalu dianggap tidak tahu dan bodoh.  Dalam hal ini relasi antara guru dan murid tidak setara (in egalite), guru dianggap sebagai ‘pemilik pengetahuan’ ditempatkan dalam posisi super-ordinat sementara murid dengan segala ketidaktahuannya berada dalam posisi subordinat.

Praktik praktik pendidikan seperti ini sejatinya membelenggu dan memasung kreativitas dan daya kritis siswa. Padahal pendidikan seperti di katakan pejuang kemanusiaan asal Brasil, Paulo Freire, seharusnya mampu melakukan dua hal, pertama menjalankan tugasnya untuk memanusiakan kembali manusia (humanisasi) dan kedua membebaskan dari segala keterbelakangan (liberasi). Pernyataan Freire ini sejalan dengan apa yang kita yakini bersama bahwa pendidikan adalah eskalator martabat bangsa yang paling efektif

Dalam era keterbukaan seperti sekarang ini model pendidikan ‘menindas’ siswa tidak relevan lagi dipertahankan. Era keterbukaan membuat setiap orang dapat mengakses informasi yang tidak terbatas, dimanapun dan kapanpun, sumber sumber informasi begitu beragam dan mudah diakses. Siswa saat ini sudah memiliki Stock Of Knowledge yang mereka peroleh dari berbagai sumber pengetahuan. Sehingga dengan kondisi yang demikian tidak mungkin lagi siswa diposisikan hanya sebagai sub-ordinat dan objek dalam sistem dan model pengajaran pendidikan kita, sudah seharusnya siswa diposisikan sebagai Sparing Partner bagi para pendidik, sebagai teman berdiskusi dan berdialog dalam proses proses pembelajaran. Siswa harus ditempatkan dalam tata relasi yang lebih seimbang dalam proses pembelajaran, prinsip prinsip egaliterian dan demokrasi harus menjadi unsur penting dalam membangun pola relasi antara pendidik dan terdidik.

Dengan pola relasi yang lebih seimbang maka ruang ruang dialog kritis akan terbuka dengan sendirinya, dalam ruang dialog kritis inilah pendidik dan terdidik saling berdialektika, berargumentasi dan merefleksikan realitas kehidupan. Dialog kritis inilah yang akan menyadarkan pendidik dan terididik akan realitas kehidupan mereka, merefleksikannya dan menstimulus untuk melakukan pembebasan dari segenap persoalan dalam realitas kehidupan. Proses pembelajaran ini mengedepankan sikap kritis-reflektif dalam membangun kesadaran untuk melakukan proses humanisasi dan liberasi, tujuan akhir dari pendidikan.

_____________

Zaki Arrobi, Sosiologi FISIPOL UGM

Tags:


About the Author

Zaky Arrobi

Mahasiswa Sosiologi UGM 2010. Hobi membaca dan menonton film. Menaruh minat pada banyak isu antara lain, gerakan sosial, sosiologi politik, masyarakat sipil, dan sosiologi pendidikan. Saat ini sedang menjadi Fellows di Maarif Institute for Culture and Humanity.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑