Opini Untitled-12

Published on August 16th, 2015 | by Heidy Angelica

0

Merdeka Pikiran, Merdeka Kehidupan

“Makin tua usia, tidak tentu makin dewasa. Makin tua suatu negara, tidak tentu masyarakatnya makin bijaksana.”

Hmm. Bukan kalimat yang enak didengar saat negara kita berulangtahun, ya? Tapi mungkin banyak orang yang justru sudah terlalu bosan membaca tulisan-tulisan berbau romantisme nasionalis yang optimis namun kosong dan klise. “Ini budaya kita, kekayaan negeri kita”, “ini sejarah kita, identitas bangsa”, “kita harus  jaga”, “kita harus bangga” dan seterusnya.

Yang menarik, baru-baru ini saya menemukan kalimat-kalimat nasionalis tersebut didengungkan untuk membela pembunuh yang berhasil membinasakan lebih dari 400.000 orang setiap tahunnya [1]. Pembunuh ini juga merampas harta kekayaan setiap rumah tangga di Indonesia sehingga anak-anak mereka tidak bisa sekolah dan tidak bisa berobat ke rumah sakit. Ironisnya, banyak orang tidak sadar. Mereka kenal pembunuh itu, tapi membiarkannya bahkan ikut membelanya. Siapa pembunuh itu? Rokok.

Sebelum saya membaca banyak data dan fakta ilmiah mengenai rokok, saya melihat rokok sebagai sesuatu hal yang taken for granted. Seolah-olah merokok hanya sekedar masalah yang menyangkut kesehatan individu. Tua, muda, pria, wanita, semua merokok. Dimana-mana orang merokok, termasuk di depan stiker dinding bertuliskan “dilarang merokok”. Tidak ada yang menegur. Tidak ada yang membicarakan rokok. Jika ada yang menegur, akan dijawab “merokok gak merokok sama aja. Sama-sama bakal mati. Terus mau apa?”. Namun setelah mendalami fakta-fakta tentang rokok, saya merasa mungkin rokok salah satu faktor utama penyebab negara ini masih terpuruk dan belum “merdeka”.

63% rumah tangga di Indonesia memiliki pengeluaran untuk rokok, dan sebagian besar adalah low income household [2]. Yang mengejutkan adalah pengeluaran tersebut 6 kali lebih besar dari pengeluaran untuk sekolah dan pelayanan kesehatan, serta 13 kali lebih tinggi dari pengeluaran untuk membeli daging dan makanan bernutrisi [2]. Bayangkan jika pengeluaran rokok ditekan atau bahkan tidak ada. Berapa banyak anak Indonesia yang tidak putus sekolah karena orang tuanya berhenti merokok? Berapa banyak rumah tangga yang bisa menyimpan uangnya untuk modal usaha, untuk kesehatan, untuk makanan dan sebagainya? Imajinasi sosiologi mengajak kita untuk berpikir komprehensif. Rokok bukan hanya mengancam kesehatan satu orang, tapi nasib generasi  ke generasi (baik segi kesehatan, pendidikan, maupun kesejahteraan). Pendidikan rendah, kesejahteraan rendah, kesehatan rendah. Inikah gambaran negara yang sudah 70 tahun merdeka?

Banyak orang sadar akan buruknya rokok bagi satu bangsa. Namun kebanyakan orang (termasuk saya dulu), berpikir bahwa akan sangat sulit untuk menekan rokok karena perusahaan rokok adalah pahlawan ekonomi negara (lewat cukai) dan pahlawan tenaga kerja. Dua argumen ini yang sering dipakai untuk membela rokok dan melindungi tembakau yang dianggap sebagai harta berharga tanah air ini. Sangat nasionalis. Tapi ternyata data menunjukkan bahwa pendapatan nasional dari produk tembakau 4.8%-7.7% dari total pendapatan pemerintah. Justru beban ekonomi baik langsung maupun tidak langsung akibat rokok mencapai 245.41 triliun atau 4 kali lipat pendapatan nasional [3]. Apa artinya mendapat banyak uang dari rokok, namun BPJS kebanyakan dialokasikan untuk mengobati penyakit-penyakit terkait rokok? [4]. Cukai negara kita rata-rata sekitar 45.73% dimana Singapura menerapkan 69%, Thailand 70%, Brunei 72%. Pajak rokok hanya 10% dimana 32 negara lain menerapkan minimum 75% [3]. Lembaga Demografi FE UI [5] menuliskan bahwa total pekerja yang bersangkutan dengan rokok (petani tembakau, petani cengkeh, buruh pabrik) kurang dari 1% dari total pekerja di Indonesia. Gaji buruh rokok juga sangat rendah, berada di ranking 20 dari 24 sektor manufaktur [5]. Faktanya, tembakau dan cengkeh merupakan komoditas agrikultural yang kalah menguntungkan dibanding dengan kentang, lombok, jagung, melon, dll. Tidak heran jika petani tembakau dan cengkeh memiliki tanaman lain untuk diusahakan. 1% dari total pekerja Indonesia tentu bukan jumlah yang kecil juga, namun saya pikir jika pemerintah Indonesia serius untuk memerdekakan bangsanya dari rokok, ada banyak alternatif solusi yang bisa dikerjakan. Kerugian yang didapat baik skala mikro, meso, maupun makro jauh lebih berat daripada manfaat yang didapat dari rokok.

Melihat fakta-fakta di atas, saya tidak mengerti mengapa masih ada orang yang memperjuangkan rokok sedemikian rupa. Bahkan menganggapnya kekuatan bangsa yang patut dipertahankan (ironisnya, dengan dukungan jurnal ilmiah yang mengklaim rokok sebagai budaya asli Indonesia). Sejarah panjang rokok di Indonesia bagi saya tidak membuat rokok menjadi berharga. Mungkin di masa lalu, kita bisa membanggakan keunikan cita rasa kretek, rokok “asli” Indonesia. Namun sekarang, di antara mayoritas negara di dunia yang sudah meratifikasi FCTC dan memiliki berbagai kebijakan yang sangat tegas membatasi rokok, dimanakah letak kebanggaan dan keuntungan bangsa ini dari rokok? Saya juga menyayangkan apatisme yang banyak orang lakukan dalam menyikapi rokok (termasuk saya). Sudah banyak sekali peraturan resmi dari tingkat nasional sampai kota, yang melarang merokok di tempat kerja, tempat publik, bahkan angkutan umum. Tapi tidak ada yang protes ketika ada restoran di dalam mall tanpa smoking free area. Tidak ada yang protes ketika abang angkot terus menyalakan puntung rokoknya kesekian kalinya.

Hal yang paling menyedihkan adalah anak muda, juga mahasiswa, yang digembar gemborkan sebagai ujung tombak kemerdekaan, mungkin sendirinya tidak memiliki kemerdekaan berpikir.  Tenang-tenang saja dijajah oleh sesuatu yang salah. Tidak menuntut data akurat, pikiran kritis, dan tindakan realistis. Dengan mudah termakan pseudo-nationalism, iklan, dan promosi rokok. Dengan mudah mengamini ideologi “enjoy aja” dan dengan senang hati menjual kemerdekaannya berpikir, tanpa menyadari bahwa dirinyalah target utama perusahaan rokok. Menjadi perenungan tersendiri bagi saya di HUT RI ke-70 ini tentang apa artinya merdeka. Mungkin dimulai dari merdeka pikiran, yang akhirnya memerdekakan kehidupan.

[1] ICTOH 2014

[2] Data SUSENAS 2010

[3] Buku Fakta Tembakau (TCSC IAKMI), 2012

[4] Kementrian Kesehatan, ICTOH 2015

[5] Tobacco Economics in Indonesia, 2008 (Lembaga Demografi FE UI)

Tags: , , , ,


About the Author

Heidy Angelica

Sosiologi 2012. Penikmat film, lukisan, dan teater. Tertarik isu etnisitas, agama, dan budaya. Hobi ngobrol, nonton, mikir, dan bobok. Saat ini aktif dalam Youth Peace Organization bernama Sandya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑