Opini musik, melayu, pop, galau

Published on July 23rd, 2014 | by Adam Bagaskara

5

Musik: Instrumen Pelepas Jerat Pembodohan di Era “Komersial”

“Kamu berdendang lagu putus cinta

Mencari harapan kembali dengannya

Kamu kumandangkan syair keluguan

Mengharap keadilan di muka dunia

 

Keluguan menjerumuskan

Melukai teman tanpa kesadaran

Dan keluguan menjerumuskan, melukai teman

Ikatkan diri pada kesengsaraan”

 

- “Nyanyikan Lagu Perang”, Koil (2007)

Arus deras musik Pop-Melayu yang menerpa industri musik Indonesia sejak awal tahun 2000-an hingga seterusnya merupakan bentuk dari dua hal; lahirnya suatu media pembebasan dan penyelamatan bagi mereka yang “lugu”, dan munculnya suatu ancaman bagi mereka yang resah akan “keluguan” banyak orang di sekitarnya. Merupakan suatu legitimasi terhadap stagnansi dari perkembangan musik Indonesia jika tulisan ini hadir untuk sekadar mengeluhkan kejengahan saya terhadap musik Pop Melayu. Berawal dari dua bait lirik lagu “Nyanyikan Lagu Perang” oleh Koil, saya ingin mengajak pembaca untuk memahami muatan lirik tersebut dengan pemikiran yang ditawarkan salah satu teoris Mazhab Frankurt, yaitu Theodor Adorno dan Horkheimer mengenai budaya populer.

Sebelum menjelaskan keterkaitan antara dua hal yang telah dipaparkan dalam paragraf di atas, perlu adanya sedikit tinjauan historis mengenai penempatan lagu “Nyanyikan Lagu Perang” sebagai salah satu track dari album Blacklight Shines On yang dirilis pada tahun 2007. “Nyanyikan Lagu Perang” merupakan suatu refleksi dari perspektif Koil terhadap ancaman “keluguan” masyarakat dalam menanggapi dan bereaksi terhadap infiltrasi dari berbagai produk budaya populer, salah satunya musik Pop Melayu di Indonesia yang sarat akan muatan lirik melankolis dan penuh keputusasaan yang berkembang dengan pesat dalam rentang rilis Blaclight Shines On dengan album sebelumnya, yaitu Megaloblast, yang dirilis pada tahun 2001.

Di dalam karya berjudul Dialectic of Enlightenment (1944), Adorno dan Max Horkheimer mengatakan bahwa kapitalisme pasca Perang Dunia II memanipulasi kesadaran manusia melalui budaya populer yang mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah nyata yang ada di sekitar mereka. Berbagai kemunculan kolektif musik Pop Melayu sejak awal 2000-an merupakan salah satu contoh nyata dari alienasi yang dialami masyarakat dari berbagai masalah nyata yang terjadi di sekitar mereka. Muatan karya-karya Pop Melayu–dari segi lirik khususnya, mereduksi pandangan masyarakat bahwa seolah “katalog lagu yang dapat dinyanyikan” sepenuhnya terbatas dalam konteks percintaan dalam wujud keputusasaan.

Namun, musik Pop Melayu hanya merupakan salah satu contoh produk budaya populer yang menurut saya memiliki relevansi dengan apa yang dikatakan oleh Adorno dan Horkheimer sebagai pelanggeng eksistensi kapitalisme dan pengalih perhatian masyarakat dari berbagai masalah yang ada di sekitar mereka. Begitu juga halnya dengan Koil. Koil hanya merupakan salah satu contoh unit artistik dalam format band yang menyuarakan penentangan mereka terhadap hegemoni musik Pop Melayu sebagai mainstream terhadap perspektif masyarakat.

Berbagai contoh sifat (dalam konteks pemahaman Freudian) masyarakat yang terbentuk dari implikasi hegemoni budaya populer dalam mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah-masalah nyata di sekitar mereka mengangkat beberapa pertanyaan dalam konteks kehidupan sehari-hari yang patut dijawab bersama. Sebagai salah satu contoh, apakah meningkatnya frekuensi penggunaan terminologi “galau”−yang penggunaannya dalam konteks sehari-hari sebenarnya kurang tepat secara semantik−dalam arus tren merupakan salah satu bentuknya? Mengingat, untuk mencapai puncak kepuasan tertinggi dari perasaan galau tersebut sebagian masyarakat seringkali menstimulus diri mereka dengan musik-musik beralunan dan bermuatan melankolis, ketika di saat yang sama masih ada berbagai persoalan nyata yang mungkin ada perlunya lebih dahulu “digalaukan”.

Contoh unit artistik lain dalam format band yang turut menyuarakan penentangannya terhadap hegemoni produk budaya populer adalah Seringai dan ((AUMAN)). Penentangan-penentangan yang dilakukan band-band tersebut dari segi konten pun secara langsung mengarah kepada bentuk konkret dari hegemoni budaya populer−seperti halnya yang disuarakan Koil terhadap mainstream dari industri musik  Indonesia yang berkembang pesat pada konteks penulisan album Blacklight Shines On.

Dalam salah satu karyanya yang berjudul “Menelan Mentah, Semua Ini Tak Akan Bertahan Lama” dari album Serigala Militia (2007), Seringai menyuarakan penentangannya terhadap  hegemoni fashion yang terus diikuti dalam perkembangannya yang tidak pernah berakhir untuk mencapai bentuk mutakhir. Tertulis dalam penjelasan karya tersebut pada sleeve album yang ditulis oleh Seringai bahwa mereka memahami keberadaan tren merupakan suatu hal yang wajar, tetapi menjadi suatu hal yang tidak wajar ketika dipaksakan bahkan sampai membodohi masyarakat dengan kontinuitas gaya konsumsi mereka. Penempatan sikap Seringai  dalam karya tersebut secara jelas direpresentasikan melalui penggalan lirik “Tak kah muak dirimu dengan apa yang dijual kepadamu?/ Tak kah lelah hanya ikut arus?/ Kini semua sama.” hingga “Persetan dengan fashion mutakhir.”

Hampir serupa dengan Seringai, lewat salah satu karyanya yang berjudul “City of Ghosts” dari album Suar Marabahaya (2012), ((AUMAN)) meneriakan perspektif kritis mengenai bagaimana sakralisasi yang dilakukan terhadap mal di kota-kota besar, khususnya Jakarta, menghantui dan perlahan menenggelamkan esensi kehidupan masyarakat. Kegelisahan ((AUMAN)) tidak lagi dapat dielak melalui penggalan lirik “Gemerlap billboard jual fantasi/Menghamba harta…biak curiga” hingga “Hidup dalam siklus/Terberangus dan mampus/Hanyut dalam siklus/Living in this city of ghosts.”

Sebelum menjabarkan kesimpulan, saya perlu membahas bahwa tentu apa yang saya berkali-kali sebutkan sebagai “unit artistik dalam format band” sendiri merupakan bagian dari produk budaya populer. Pandangan yang cenderung pesimistik dari Adorno dan Horkheimer terkait peran budaya populer dalam mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah nyata di sekitar mereka jelas memiliki sisi kebenaran sebagaimana yang dapat kita simak melalui radio, billboard, website, berbagai media lainnya, tetapi mungkin khususnya TV. Namun, kemunculan unit-unit artistik dalam format band tersebut−yang juga merupakan entitas budaya populer−turut berperan dalam melawan alienasi yang dibawa oleh produk-produk budaya populer lain yang berbasis kapitalisme.

Perbenturan ideologis seringkali terjadi ketika beberapa ketergantungan yang tidak dapat dielak terhadap produk-produk kapitalis menciptakan suatu kompromi sehingga mungkin terdengar naif jika saya mengakihiri tulisan ini dengan pesan bahwa masyarakat harus seutuhnya terbebas dari jerat kuasa dan belenggu kapitalisme. Namun, penulis tentunya memahami bahwa keberadaan kompromi tentu disertai dengan keberadaan batas kompromi. Pengalihan perhatian dari masalah-masalah nyata di sekitar adalah pembodohan, banalitas, dan reduksi terhadap diri yang tentunya berada di luar batas kompromi suatu masyarakat yang waras. Putar habis knob volume, panaskan amplifier, hentak keras drum; berontak pembodohan atas nama komersialisasi!

Referensi:

Agger, Ben, 1998. Critical Social Theories. Colorado: Westview Press

Tags: , , , , , , , , , ,


About the Author

Adam Bagaskara

Mahasiswa Sosiologi UI 2013. Penggemar rilisan fisik dan Wikipedia.



5 Responses to Musik: Instrumen Pelepas Jerat Pembodohan di Era “Komersial”

  1. Farah says:

    Setujuu. Masyarakat skrg ini kayanya lebih memperdulikan lifestyle, fashion, brand, dsb. Masyarakat jadi dituntut untuk konsumtif. Apalagi remaja, ngikutin trend gitu. Kalo gabisa ngikutin trend, bilangnya “galau” terus nyetel lagu2 mellow. Padahal (kayak yang ditulis diatas), masih banyaaakbgt yg perlu di “galau”-in dari kejadian2 sosial & lingkungan di sekitar kita. Semoga masyarakat jadi lebih peduli & sadar akan negatifnya jaman skrg yg komersil! :D

  2. ma'e says:

    Cukup menarik tulisannya mas adam. Alangkah baiknya jika artikel cerdas ini diisi juga oleh opini dari mas budi sebagai pakar musik koplo aweawe aliran keras basis cipinang. Terimakasih

  3. Gibran M. Sanjaya says:

    Kebayang nggak Mas kalo Koil, Seringai, sama ((AUMAN)) beranak-pinak? Atau: yang jadi komersial justru musik ‘kritis’ macam Seringai, terus yang jadi minoritas tuh band Pop-Melayu. Masyarakat bakal sampe titik begah kayak yang dialami sekarang pada Pop-Melayu nggak ya?

  4. Roy Hitam says:

    #GokilLah #wadaw

  5. tarungxpenos says:

    Mas Adam, sebuah perspektif nih. Bagaimana pendapat Mas Adam terhadap pandangan saya, terhadap:
    1) musik pop melayu itu kan bentuk pelepasan-diri-buta-kondisi yang cenderung untuk orang kismin, bagaimana dengan parti-parti nonox dan musik EDM yang, menurut saya lagi, sebetulnya lebih kontil dan lebih memabukkan generasi muda dengan iming-iming hedonisme dan bebas-galau? Astaghfirulloh.
    2) Bagaimana dengan para pecun-lingkungan (bahasa populer: ‘social climber’) yang acapkali lenggak-lenggok di panggung publik, berlagak melek politik dan kritis tidak apatis, padahal sebetulnya (dan ujung-ujungnya) adalah diakibatkan (dan untuk) dianggap sebagai insan muda yang peduli sekitar (sepertinya sedang tren) dan ujung-ujungnya bentuk networking yang berperisa kapitalis?

    Ya udah ya itu aja sih tks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑