Opini aaaaa

Published on July 10th, 2015 | by Udji Kayang Aditya Supriyanto

0

Pegiat Aksi dan Perawat Gagasan

Kecuali bila Tuhan sedang bercanda, aksi demonstrasi mahasiswa akhir-akhir ini cenderung mengarah pada kegagalan. Kendatipun para aktivis mahasiswa itu mencoba bernostalgia, mengulangi kesuksesan angkatan ’66 dan ’98. Obsesinya barangkali sama: membuktikan kalau mahasiswa juga punya kekuatan yang mampu memengaruhi politik di negeri ini. Padahal, dulu Soe Hok Gie pernah berujar, “kita perlu konsepsi dewasa ini.” Lupa?

Dewasa ini, aktivis mahasiswa malah tak kunjung dewasa. Mereka masih mengira aksi yang sahih adalah turun ke jalan. Itu pun asal-asalan. Bahkan, tidak jarang mereka arogan. Misalnya, mahasiswa lain yang ogah berdemonstrasi lantas dibilang pengecut. Segiat apapun seorang mahasiswa membaca buku, atau menuangkan pemikiran dalam kata, selama sepatunya belum berderap seirama di bawah kibaran bendera, para aktivis mahasiswa tetap memandangnya sebelah mata.

Sampai sini, kemudian dikenal dua kecenderungan mahasiswa. Pertama, menjadi aktivis mahasiswa yang aktif, punya legitimasi politik (lewat organisasi mahasiswa atau pergerakan eksternal kampus). Mereka yang selalu turun ke jalan saat ada kekisruhan di negeri ini, yang paling sering memakai jas almamater daripada mahasiswa lain. Kedua, mahasiswa yang tangannya lebih sering memegang buku ketimbang spanduk, bendera atau pengeras suara. Sedangkan mahasiswa yang cuma hobi main, pacaran, belanja dan sebagainya tak perlu dihitung. Kalau cuma seperti itu, tanpa kuliah siapapun juga bisa.

Bila belum bosan menjadikan angkatan ’66 dan ’98 sebagai potret ideal aktivis mahasiswa, maka perhatikanlah: mereka bergulat di keduanya, gagasan dan gerakan. Lalu mengapa hari ini mahasiswa cuma bisa memilih salah satu? Secara eksistensial, yang mendasari pilihan hidup sebetulnya bukan kepastian melainkan “kemungkinan”, atau meminjam istilah Martin Heidegger: seinkonnen. Mahasiswa perawat gagasan pasti sadar betul. Maka dari itu mereka cenderung pesimis, benaknya dipenuhi pertimbangan-pertimbangan logis.

Lain halnya dengan aktivis mahasiswa dewasa ini. Entah mengapa, cenderung jadi manusia-manusia optimis dalam segala situasi. Barangkali ini efek program ESQ dan seminar-seminar motivasi yang kian marak di kampus. Siapa tahu? Tapi yang jelas, hal ini rupanya berdampak pada penumpulan daya kritis mereka. Alih-alih kritis, dengar kritik saja ogah. Gampang saja, ketika sudah yakin dan optimis usahanya akan berhasil, kritik secerdas dan sekonstruktif apapun bakal diabaikan bukan? Bebal.

Eksklusivisme Berujung Keterbelahan

Merawat gagasan itu perlu, tentunya dengan membaca buku. Setelah itu, baiknya lantas didiskusikan, dan lebih jauh lagi: dituliskan. Itulah yang sebetulnya jadi modal utama mahasiswa. Namun mereka seakan tersingkir dari kancah aktivisme mahasiswa. happy wheels demo Kaum pragmatis pasti akan langsung mengolok-olok, “berhenti berdialektika, lakukan sesuatu!” Pragmatisme tersebut kini juga terlihat di kalangan aktivis mahasiswa. Seakan mengkaji teori, mendiskusikan suatu isu secara dialektis, bahkan menuliskan argumen dalam esai, tak terlalu bermanfaat.

Arjuna tak berarti apa-apa tanpa Kresna! Keberpihakan Kresna berikut siasat dan strategi perangnya membuat Pandawa unggul dalam peperangan. Padahal kita tahu, kubu Kurawa jauh lebih kuat sebab ada Durna, Aswatama, Karna, dan tentu saja: Bisma Dewabrata. Berkat Kresna pula Arjuna berhasil membunuh Karna? Tanpa titisan Wisnu itu, barangkali yang terjadi malah sebaliknya. Bukannya bermaksud mengunggulkan ide ketimbang aksi nyata, namun penting untuk ditegaskan bahwa keduanya inheren.

Hanya saja, tentu tak semua orang bisa hebat di keduanya: ide dan aksi. Ada yang punya gagasan cemerlang, namun tak punya daya menggerakkan. Ada pula yang aktif beraksi, tapi tanpa pendasaran argumentatif yang kuat. Keterbelahan ini sebetulnya bisa teratasi. Pertama, para perawat gagasan diberi atau mencari kesempatan untuk terlibat dalam aktivisme mahasiswa. Kedua, aktivis mahasiswa mulai membenahi cara pandang mereka terhadap golongan pertama. Selain itu, tentu dengan membuang eksklusivisme jauh-jauh. Hus!

Selama ini, ketika aktivis mahasiswa dikritik oleh para perawat gagasan, respon mereka justru negatif. “Omong doang!” Sederhananya begitu. Mereka lupa, atau malah cuek, bahwa gagasan cerdas tak mesti diwujudkan penggagasnya sendiri. Seumpama Psycho, karya Robert Bloch yang justru ditenarkan dan dijadikan fenomenal oleh Alfred Hitchcock. Semoga aktivis mahasiswa berani belajar dari Hitchcock. Sutradara seagung ia saja sudi belajar dari orang lain, lalu mengapa aktivis mahasiswa ogah? Sebetulnya banyak gagasan mahasiswa non-aktivis yang bisa diambil faedahnya, bukannya malah dicap “omong doang”.

Mungkin pula, aktivis mahasiswa hari ini terlalu terpaku pada “musuhnya” saja. Mereka lupa pada siapa yang seharusnya mereka bela. Aktivis mahasiswa terlalu sibuk menuntut penguasa mendengar bisikannya, sampai-sampai abai terhadap suara rakyat. Bagaimana bisa rakyat mencaci-maki pihak yang memperjuangkan kesejahteraannya? Hal ini mustahil terjadi, kecuali bila rakyat memang tidak merasa dibela. Ada baiknya bila aktivis mahasiswa itu menghabiskan malam di angkringan, ngobrol dengan warga, ketimbang menonton berita politik di televisi yang pada akhirnya cuma mereka olok-olok (baik politik maupun stasiun televisinya). Sudahlah, ngopi dulu saja!

Tags: , , , , , 1


About the Author

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi Universitas Sebelas Maret Surakarta sekaligus Redaktur Majalah Kentingan. Sehari-hari hanya baca buku, nonton film, mendengarkan musik, kadang-kadang menulis di adiksikopi.blogspot.com atau di media lain. Bisa dihubungi lewat surel: udjias@gmail.com, atau Twitter: @udjias.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑