Film image_film_identitas

Published on October 1st, 2012 | by Timoti Tirta

0

Pemilihan Film sebagai Cerminan Budaya Memilih Masyarakat

Film “Identitas” garapan Aria Kusumadewa bercerita mengenai pentingnya identitas seseorang agar dapat diperhitungkan sebagai manusia di Indonesia. Kata “diperhitungkan sebagai manusia” tentunya memiliki pemaknaan yang berbeda-beda. Identitas dalam hal ini secara langsung maupun tidak langsung akan memudahkan manusia itu sendiri untuk mendapatkan akses kehidupan yang layak maupun kematian yang layak.

Dalam film ini, Leony yang memerankan wanita oriental tanpa nama mendapat banyak sekali kesulitan dalam hidupnya, termasuk biaya untuk menolong ayahnya yang sedang sakit. Kartu sehat hanya dapat diperoleh oleh orang yang memiliki identitas yang jelas. Tidak hanya masalah orang yang masih hidup, di akhir  film ini, Leony meninggal secara tragis, dan seorang temannya yang cukup dekat walaupun belum lama dikenalnya, Adam (Tio Pakusadewo) mencoba untuk membawa pulang mayatnya, namun berhubung identitas Leony tidak diketahui, akhirnya mayat Leony tidak dapat dibawa pulang dan dikuburkan secara legal di negara ini. Hal inilah yang dimaksud dengan “diperhitungkan sebagai manusia”.

Film ini mencoba menggambarkan situasi yang terjadi di negara ini. Tanpa mencoba menutup-nutupi, film Identitas memperlihakan realitas sosial yang ada di masyarakat, dari kelakuan masyarakat Indonesia, budaya, aturan, sampai pada keanehan-keanehan yang ada di Indonesia.

Film independen ini berhasil menjuarai 4 kategori FFI tahun 2009, termasuk film terbaik. Namun kiprah film ini di bioskop tanah air ternyata tidak secerah kiprahnya di jagat festival film paling bergengsi di Indonesia tersebut. Film ini hanya bertahan selama 4 hari di bioskop dengan jumlah penonton yang katanya dapat dihitung dengan jari setiap harinya.

Tentunya hal ini menjadi pertanyaan besar, apalagi bila dibandingkan film-film bertema mainstream, sebut saja Ayat-Ayat Cinta yang ditonton 3,5 juta orang (kompas.com, 9 November 2010) dan sukses meraup keuntungan yang sangat besar. Berbeda dengan film-film yang laris di pasaran, film Identitas yang merupakan film independen mencoba menyuarakan keinginan dirinya sendiri dengan dibarengi semangat berkarya, hal ini bisa jadi sangat bertolak belakang dengan film-film produksi besar yang biasanya tujuan utamanya adalah komersial.

Tema-tema yang diangkat oleh film produksi besar biasanya berupa tema yang sifatnya siklus yang itu-itu saja: cinta, religi, dan tentunya yang tidak boleh dilupakan adalah film horor bernuansa sensual yang mencoba menarik keuntungan dari keberanian sang pemeran untuk memakai pakaian seminim mungkin. Lalu ada apa dengan film- film independen ini sendiri? Dan apa pengertian film independen?

“Independen adalah ketika seseorang membuat film karena keinginan yang besar untuk membuat film, bukan karena ingin mendapatkan uang, prestasi ataupun popularitas. Keinginan untuk berkarya haruslah menjadi penyebab utama, bukan yang lainnya. Film independen muncul melalui suatu gagasan ideal dan diciptakan dengan kemandirian penggagasnya tanpa memperhitungkan unsur komersialisasi,” demikian penjelasan Alex Sihar.

Dari penjelasan yang ada, kita dapat menarik benang merah mengenai film dengan bioskop. Bioskop merupakan tempat komersialisasi produksi film dengan tujuan tentunya mencari keuntungan. Film-film mainstream terkadang dapat happy wheels demo dilihat iklannya di televisi dan media lainnya, tapi tidak dengan film-film yang dianggap tidak komersial seperti Identitas, yang kehadirannya di bioskop juga mungkin hanya menjadi percobaan, laku ya bagus, tidak ya “apes”.

Dan itu yang terjadi, karena iklan yang kurang, ditambah lagi film Identitas yang menjadi bagian dari film independen yang mencoba untuk tidak terbawa arus untuk ikut menfilmkan tema-tema mainstream dan terkadang dianggap terlalu berani menyuarakan sesuatu yang mengkritik masyarakat, bahkan pemerintah. Hal inilah yang membedakan film independen dan film produksi besar. Masalah kualitas? Penghargaan FFI sudah mencoba menjawab hal tersebut saya rasa.

Secara sosiologis kita dapat melihat bahwa jumlah penonton yang menonton film tertentu belum tentu menggambarkan kualitas suatu film. Dalam masyarakat sendiri terdapat konstruksi-konstruksi tertentu (bioskop dan media adalah contohnya) yang mencoba melihat film-film dengan tema mainstream sebagai suatu karya yang bagus dan layak ditonton. Masyarakat kita saat  ini terus mencoba mengikuti arus dengan menonton film yang dianggap bagus oleh bioskop, tapi tidak berani ambil resiko untuk menonton film independen yang bisa saja lebih bagus. Hal ini memperlihatkan kesuksesan produksi-produksi besar dengan tujuan komersial, ditunjukkan dengan masyarakat yang termakan konstruksi dari media.

Hal yang juga menjadi masalah adalah ketika penonton film belum dewasa dalam memilih tontonan, dan hanya menjadi korban dari praktek kapitalisme dalam bentuk film. Maka hal ini mencerminkan budaya di masyarakat yang belum dewasa dan memilih segala sesuatu hanya berdasarkan konstruksi dari masyarakat banyak, bukan dari apa yang sebenarnya “baik”. Dalam kehidupan sehari-hari banyak anggota masyarakat yang takut atau merasa tidak nyaman bila berbeda dengan masyarakat, jadi keadaan di masyarakat pada akhirnya membentuk seseorang untuk mengikuti instruksi yang terjadi sehari-hari tanpa mempertanyakan fungsi atau maksud yang hakiki dari kebiasaan di masyarakat. Seseorang menjadi tidak kritis dan peka terhadap nilai-nilai baik yang seharusnya berlaku di masyarakat.

Mochtar Lubis dalam pidatonya mengatakan salah satu ciri dari masyarakat Indonesia adalah watak yang lemah dan bersedia merubah pendiriannya, mengikuti kemauan masyarakat demi bisa survive di masyarakat. Jadi masalah tujuan dari sekolah, tujuan kuliah, cara orang bergaul, berpakaian, bahkan dalam memilih presiden bisa jadi banyak dipengaruhi oleh konstruksi paham yang dilakukan oleh media dan lain – lain. Semua dapat diukur dari cara masyarakat memilih tontonan yang mereka pilih, apakah karena film tersebut bagus dan baik atau menonton hanya karena digembar-gemborkan sebagai suatu yang bagus oleh media sesuai tujuan kaum pencari untung atau pemegang kepentingan tertentu. Dimana film dapat diandaikan sebagai pilihan dan alasan memilih film sebagai alasan masyarakat dalam memilih segala sesuatu.

______________

Timoti Tirta, Sosiologi UI 2009

Tags: , 1


About the Author

Timoti Tirta

Alumni Sosiologi UI 2009. Aktif dalam penelitian dan kajian sosiologi, serta menaruh minat pada isu Indonesia TImur khususnya Papua yang memiliki keindahan alam luar biasa. Menyukai travelling dan seni khususnya film. Aktif membuat film-film pendek sejak SMA.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑