Opini image_gitar_bass

Published on August 19th, 2012 | by Rizky Pandu Anindya Mufti

0

Pentingkah Bass sebagai Instrumen Musik?

Saya mau sedikit membahas tentang alat musik yang namanya bass. Kenalkah anda dengan alat musik yang bernama bass? Mungkin kalau dirunut dari sejarahnya artikel ini tak akan habis, singkatnya bass itu awalnya gede banget. Ada beberapa jenis bass, yang paling besar namanya contra-bass, yang lebih kecil namanya cello. Karena ukurannya yang emang cukup besar dan kurang compatible buat dibawa pergi akhirnya seorang yang cukup revolusioner menciptakan bass yang tadinya segede gaban dikonversi seukuran dengan gitar dan orang itu bernama Leo Fender.

Itu hanya intermezzonya. Pertanyaan yang sering muncul kemudian terkait bass adalah “penting gak sih instrumen yang namanya bass itu?” Mungkin untuk sebagian kalangan penikmat musik tidak peduli sama yang namanya bass, bahkan apa itu bass. Memang peran bass di dalam sebuah band tidak se-wah gitar atau keyboard yang biasanya memimpin musik. Tapi ibarat seorang komandan di suatu medan tempur, posisi bass ini berperan untuk menciptakan mood musik. Ya bisa dibilang jiwanya musik itu ada di bass, karena bass yang membuat ritme musik dan sekaligus yang menjaga peran ini diemban bersama. Dengan bass dan drum yang menghidupkan jiwa, atau bahasa kerennya soul dari musik tersebut, gitar sama keyboard yang memimpin musik baru bisa enjoy bermain dengan nada-nada improvisasinya. Mungkin kurang kerasa kalau kita dengar musik-musik beraliran populer. Karena di kebanyakan musik beraliran populer peran bass benar-benar hanya untuk menjaga ritme agar tidak happy wheels demo “kabur” atau “flat”. Ya hanya sebagai pemanis yang tak terlalu penting. Tapi kalau kita dengar musik-musik progressive, blues, jazz, contemporer, yang semacam itu, kita semua bisa merasakan bahwa instrumen yang namanya bass ini bisa menjadi liar. Memang sih terkesan hiperbol, tapi di musik beraliran yang saya sebut diatas, kita bisa dengar bahwa ada perubahan peran dari alat-alat musik itu semua, tapi anehnya semuanya itu saling melengkapi.

Mungkin saya agak sentimentil menuliskan ini, karena saya juga memainkan bass. Pada intinya yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini bahwa kita hidup di dunia ini punya peran masing-masing dan tak hanya peran tunggal yang kita mainkan di hidup ini. Mungkin peran kita di kehidupan akademik kampus tak semenonjol teman kita yang mapres. Tak masalah. Toh yang jadi mapres belum tentu punya peran semenonjol saya kalau di belakang bass, misalnya. Intinya kembangkan diri kita di tempat yang kita rasa enjoy menjalaninnya, niscaya hidup akan menjadi menyenangkan dan tak ada sesal di hari nanti. Yang terakhir, tak perlu jadi sama untuk megkilap, yang perlu dicari adalah perbedaan yang bisa menyinari potensi kita sampai batas maksimal.

____________________

Rizky Pandu Anindya Mufti – Sosiologi UI 2010

Tags: 1


About the Author

Rizky Pandu Anindya Mufti

Mahasiswa Sosiologi 2010. Aktif bermain bass di band pribadinya. Mencintai musik dan bercita-cita menjadi musisi yang sukses di dunia musik.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑