Opini siluet-wanita

Published on April 21st, 2016 | by Muhammad Irkham Abdussalam

0

Perempuan, Kecantikan, dan Konstruksi Penindasan

siluet-wanita

Bicara soal cantik, Eka Kurniawan menjadi salah satu pendobrak paradigma yang memandang kecantikan sebagai sebuah berkah. Perempuan dapat mencapai kecantikan mulai dari cara tradisional hingga modern, dari metode tanpa biaya hingga miliaran rupiah. Semua itu dilakukan demi tampil cantik dan diakui cantik. Namun, dalam novel “Cantik Itu Luka”, Eka seolah mempertanyakan “Masihkah kau mendamba kecantikan?”

Motif setiap perempuan yang ingin tampil cantik dapat dibaca melalui dorongan psikisnya. Dalam hierarki kebutuhan Robert Maslow disebutkan bahwa kebutuhan manusia ditahap keempat adalah kebutuhan akan penghargaan (esteem needs). Umumnya orang menginginkan kehidupan yang stabil dan kokoh, mempunyai penilaian diri yang tinggi, harga diri, serta dihargai orang lain. Tak terkecuali perempuan, yang rela menempuh berbagai cara untuk mendapatkan penghargaan sekaligus mendambakan kehidupan yang ideal, termasuk kecantikan.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat, perempuan dapat dengan mudah mencapai kecantikan yang mereka inginkan dengan cara-cara instan yang berisiko. Namun, risiko tersebut tidak membuat mereka mengurungkan niatnya untuk mencapai cantik yang menjadi idaman. Dalam laporan harian Kompas (Minggu, 14/02/16) yang mengangkat fenomena perjuangan perempuan untuk menjadi cantik. Mereka tidak hanya berkorban materi tetapi juga harus menanggung rasa sakit akibat operasi dalam rangka mendapatkan kecantikan. Beberapa narasumber mencoba menceritakan rasa sakit yang diderita pasca operasi. Salah satu narasumber bernama Meta, ingin membuat hidungnya lebih mancung. Namun, kini ia tidak lagi leluasa untuk makan dan minum, serta tidak boleh tidur dengan posisi miring. Selain itu bengkak pada hidung pasca operasi membuatnya harus menarik diri dari pergaulan sosial selama berbulan-bulan.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan paling mendasar yakni mengapa perempuan harus menjadi cantik agar mendapatkan penghargaan? Apakah tanpa kecantikan mereka tidak mendapat tempat untuk dihargai? Di sinilah peran industri besar menjual imaji bahwa cantik adalah segalanya dan satu-satunya hal yang paling berharga dan harus dimiliki perempuan. Pada akhirnya roda produksi dan konsumsi dengan nilai transaksi miliaran rupiah pun berputar dan digerakan oleh motif menjadi cantik.

Iklan dan Peran Konstruksi Sosial

Postulat lama bidang ekonomi milik Kotler menegenai hukum supply dan demand agaknya perlu ditelaah lebih mendalam. Demand bukan saja berasal dari kebutuhan biologis semata, tetapi juga bisa diciptakan. Hal ini sejalan dengan pandangan Steve Jobs yang mengatakan bahwa “banyak orang yang tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda menunjukkan kepada mereka”.

Di sinilah putusan-putusan estetis yang muncul dari pemahaman rasional Kant dibantah keras oleh Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu semua putusan murni hanyalah ilusi. Tidak mungkin putusan estetis itu kosong konsep karena setiap putusan estetik senantiasa mengambil bentuk putusan hipotetik yang secara implisit berdasarkan pengakuan standar genre tertentu atau setidaknya pada suatu model kesempurnaan yang sudah berada dalam ruang lingkung konsep tertentu (Pramudya, 2012). Sesungguhnya pilihan perempuan dalam mengonsumsi produk kecantikan bukan karena putusan estetis yang murni hasil dari pemahaman rasional, namun karena sistem kapitalis yang merekonstruksi pemikiran dan tindakan mereka melalui iklan.

Penindasan Baru Kaum Perempuan

Budaya patriarki yang disertai tindakan, stigma dan pandangan happy wheels demo yang merendahkan perempuan memunculkan gerakan perlawanan dengan tujuan menyamaratakan hak dan gender perempuan dengan laki-laki. Lantas bagaimanakah nasib perempuan sekarang? Masihkah tertindas atau sudah keluar dari stigma manusia kelas dua?

Jika indikator yang dipakai adalah kebebasan akses atas pendidikan, politik atau karir maka dapat dikatakan bahwa apa yang diperjuangkan telah berhasil. Namun jika indikator tersebut kita geser, dapat dikatakan bahwa perempuan masih dalam posisi tertindas.

Nyatanya, penindasan perempuan bukan lagi berkutat pada hubungan yang vulgar dengan laki-laki, melainkan dengan pasar. Tren fashion dan kecantikan yang berkembang mendorong perempuan diposisikan sebagai konsumen. Tanpa sadar perempuan dipaksa berada di bawah ajakan yang menggiurkan. Mereka diharuskan mengikuti acuan fashion yang ada. Jika tidak, konsekuensinya adalah hukum sosial berupa sindiran, dianggap ketinggalan zaman, tidak cantik, bahkan dipandang sebelah mata. Di sini poin penindasan yang secara halus menciptakan imaji pada perempuan bahwa mereka harus tampil seperti ini dan itu. Penindasan bukan lagi soal “budak seks” namun “budak pasar.”

Jean Baudrillard menyatakan bahwa “Saat kosmetik melapisi wajahmu, saat itulah wajahmu terhapuskan. Wajahmu jadi tiada, yang ada hanyalah kosmetik. Bibirmu tiada, yang ada hanyalah lipstick. Dan kalau kau memainkan lenggak-lenggok idolamu, saat itu lenggak-lenggokmu hilang menguap bersama citra idolamu. Saat itu, dirimu dikuasai oleh sesuatu di luar dirimu untuk menjadi seseorang selain dirimu.”

Ketika manusia menajdi objek maka ia sedang dibendakan oleh eksistensi yang lain. Kondisi etre en soi—istilah Jean Paul Sartre—menyiratkan pesan bahwa seseorang belum sepenuhnya memiliki kesadaran diri. Mungkin ia merasa memiliki kebebasan berekspresi, namun tatkala ekspresi itu menarik perhatian, seketika orang yang mengaku bebas berekspresi tersebut kehilangan kebebasannya. Kebebasan terenggut oleh pembendaan dari eksistensi lain. Orang lain adalah neraka, mempertaruhkan subjektivitas kepada mereka adalah mauvaise foi (keyakinan yang buruk), begitu kata Sastre.

Ada dua pilihan besar dalam kehidupan manusia, yakni hidup secara otentik ataukah hidup dengan mauvaise foi. Artinya, manusia tak ambil pusing ketika ia dilabeli kuno lantaran tidak menggunakan produk terbaru kapitalis sedangkan yang menentukan ke-aku-anku adalah aku sendiri. Terkait dengan upaya mereka untuk membebaskan diri dari label kuno dengan senjata kecantikan, para perempuan yang ingin tampil cantik masih hidup dengan mauvaise foi. Mereka eksis demi menunjukkan eksistensinya pada eksistensi lain, yang pada akhirnya justru merenggut subjektivitas mereka. Kemudian yang tersisa hanya sebagai objek belaka, ada untuk dibendakan, ada sebagai “komoditas”. Mengutip Gail Dines, sosiolog dari Salfrod University, “Jika besok perempuan bangun pagi dan memutuskan mereka menyukai diri mereka apa adanya, coba dipikir, berapa banyak industri akan berangkrut?”

Selamanya, Cantik Itu Luka.

Sumber

Bourdieu, Pierre. (2010). Arena Produksi Kultural. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Hidayat, Medhy Aginta. (2012). Mengugat Postmodernisme: Mengenali Rentang Pemikiran Postmodernisme Jean Baudrillard. Yogyakarta: Jalasutra

Sartre, Jean Paul. (2000). Psikologi Imajinasi. Yogyakarta: Bentang Pustaka

Wibowo, A. Setyo. (2006). Filsafat Eksistensialisme: Jean-Paul Sartre. Yogyakarta: Kanisius

Tags: , , , 1


About the Author

Muhammad Irkham Abdussalam

Mahasiswa Bimbingan dan Konseling UNNES. Pemilik portalkonseling.com.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑