Opini resizedimage960588-hipster-santa-2

Published on August 10th, 2017 | by Redaksi Sociozine

0

Seberapa Hipsterkah Anda?

oleh Fathul Purnomo

Dalam golongan mahasiswa, terdapat sekte-sekte yang tak kalah beragam dibanding agama. Mulai dari mahasiswa yang merangkap aktivis, mahasiswa yang khusyuk di masjid, ada pula mahasiswa yang aktif berbisnis sana-sini. Namun, bukan mereka semua yang ingin saya ulas. Saya tertarik dengan mahasiswa gaul melek fashion a.k.a hipster.Dalam dunia akademis, untuk bisa meneliti suatu objek, maka kita harus berjarak dengan objek tersebut guna menjamin kejernihan kesimpulan. Karena bukan bagian dari anak-anak hipster—saya termasuk mahasiswa kupu (kuliah pulang)— semoga ulasan saya tak berbau, berasa dan berwarna subjektivisme individu.

Tentu saya menulis ini bukan karena tidak mampu membeli tiket JGTC (Jakarta Goes to Campus) yang biasa digelar oleh kampus saya. Saya mungkin tak sekaya mahasiswa-mahasiswa semi hipster yang sedang menggandrungi musik jazz. Entahlah, bagi mereka jazz adalah musik berkelas.Saya masih saja terus melipatgandakan preferensi musik pada Kpop. Seringkali saya diledek karena berbagai hal, termasuk sebagai laki-laki yang seharusnya tidak menggemari Kpop (padahal kpop adalah bentuk maskulinitas baru), sampai pada Kpop yang dianggap musik receh nan murahan, atau dalam analisa kebudayaan disebut sebagai pop culture.

Pembacaan kebudayaan yang berhenti pada dikotomi high dan pop culture kemudian menjadi cara yang acapkali digunakan oleh para hipster. Manakala suatu komoditas sudah menjadi konsumsi banyak kalangan, maka hipster melihat hal tersebut sebagai low culture dan patut ditinggalkan.Namun, benarkah cara pandang hipster-hipster unyu tersebut?

Secara arbriter, Anda bisa mendefinisikan hipster sebagai mereka yang selalu update dengan perkembangan tren terbaru. Manakala celana belel merebak, anak hipster adalah mereka yang paling hulu mengenakannya di saat kuliah. Mereka dengan bangga memamerkan gayanya yang terinspirasi dari fashion yang tengah berkembang di New York street fashion style, dan ataupun London.Tak cuma dalam segi pakaian, anak-anak hipster juga konsen di bidang selera musik, bahasa, buku bacaan, pola dan selera makan dan seabrek dimensi hidup lainnya.

Menjadi anak hipster berarti selalu memberikan konsentrasi tinggi untuk hal-hal yang masih langka di sekitar Anda. Dengan begitu, Anda kemudian harus merogoh kantong dalam-dalam untuk mendapatkan barang-barang yang menjadikan eksistensi Anda sebagai seorang hipster terlegitimasi.

Barang-barang antik tentunya tidak murah, baju-baju yang masih diproduksi terbatas pun tak kalah mahal, apalagi jika masih harus memesan langsung keluar negeri. Karenanya, untuk menjadi hipster, Anda harus berasal dari golongan berkecupan.Selain itu, menjadi hipster ternyata tidak bisa setengah-setengah. Karena dengan begitu, akan ada masa di mana Anda merasa tidak selevel dengan teman-teman hipster lain saat sedang berkumpul. Hipster menuntut keseluruhan dimensi diri Anda.

Saya terisak-isak manakala berkumpul dengan gerombolan mahasiswa yang menamai mereka sebagai mahasiswa hipster kampus. Bagaimana tidak, baju saya selalu saja bermerk Giant, sedang saya pun bukan seorang vegetarian seperti teman-teman hipster lain. Jangankan menjadi vegetarian, bisa makan saja sudah syukur.Dengan berbekal hidayah dari Google, saya mendapati sejumlah literatur berkenaan dengan hipster yang begitu menggugah, bahwa hipster pada sejarahnya merupakan pola pergerakan sekelompok masyarakat yang muak dengan keadaan sekitarnya.

Seorang hipster akan selalu membuat pembedaan dengan masyarakat umum. Manakala masyarakat turut serta berpesta dalam kemeriahan pemilu, para hipster justru setuju golput karena mereka merasa semua calon adalah manusia-manusia defisit otak.Di saat masyarakat menabukan seks, anak-anak hipster berani menunjukkan bahwa seks positif, di mana semua orang berhak merayakan kebebasannya untuk mengeksplorasi kenikmatan bagi tubuhnya. Anak-anak hipster mencium bau kemunafikan dalam masyarakat, karena meregulasi perilaku seks dengan begitu ketat dan menabukan pembicaraan tentangnya, sekaligus menjadikannya sebagai basis ukur moralitas.Anak hipster berani menggugat norma-norma tersebut. Bahkan banyak dari anak hipster yang tergolong anarkis, mereka muak dengan segala dongeng mengenai imaji sebuah negara.

Membaca penjelasan tersebut, saya berbunga-bunga, karena menjadi hipster rupanya bukan permasalahan berapa harga baju Anda. Menjadi hipster adalah langkah kemegahan berlogika. Kaum hipster adalah mereka yang mandiri dalam berintelektualitas.Tapi kemudian saya tetap sedih, karena lagi-lagi uang saya tak cukup untuk membeli buku-buku babon sekelas The Communist Manifesto. Saya masih butuh bantuan kapitalis dan sederet derivasi sistem darinya untuk memahami marxisme sebagai penanda kehipsteran diri, sungguh absurd.

Jika melihat hipster sebagai sebuah perwujudan dari kebebasan individual, berdikari, dan otentik, maka teman-teman yang sudah berusaha membangun citra orisinalitas diri dengan jalan membuat pembeda termasuk memakai style baju yang unik, mungkin sudah bisa dikatakan sebagai anak hipster. Namun, nampaknya hipster akhir-akhir ini justru jatuh pada komunalitas, di mana orisinalitas pribadi tidak ditemukan.Yang nampak hanyalah upaya mengimitasi style yang sedang berkembang dari ikon hipster tertentu. Maka, manakah hasil dari keunikan individual? Lagi-lagi membeli baju yang dikatakan unik pun hanyalah upaya legitimasi untuk dikatakan sebagai hipster. Akhirnya, hipster berubah pada hanya upaya labelisasi. Padahal, seharusnya lebih menitikberatkan pada kebebasan berekspresi secara otentik dan kemandirian intelektual.

Jika pun hanya menggunakan definisi otentisitas individu, sangat sulit di zaman ini untuk mengecek otentisitas seseorang. Ini adalah era di mana identitas sudah sangat kabur dan sulit terdeteksi. Dari jutaan netizen di sosial media, pernahkah Anda, bahkan hanya satu saja, mengetahui identitas otentiknya secara keseluruhan?Menurut saya mustahil. Sebab dalam dunia maya, identitas menjadi kabur (Anda bahkan bisa mereproduksi identitas), begitu fluktuatif, abu-abu. Otentisitas bahkan bukan sesuatu yang penting lagi.

Kegagapan hipster-hipster unyu juga bertentangan dengan semangat posmodernisme—katakanlah saya adalah generasi Z yang menjunjung tinggi era transaksi yang tidak lagi dimonopoli satu sumber tertentu. Era di mana bangunan pengetahuan sudah tak lagi menjulang vertikal dan justru berbentuk rizomatik; narasi agung mengenai apa yang terklasifikasi pada bentuk high culture terbantahkan.Apa yang selama ini Anda sebut sebagai high sangat mungkin untuk dijadikan pop—termasuk jilbab yang dibentuk selama ribuan tahun sebagai bentuk sakralitas dan level tingkat tinggi perkembangan spiritualitas dikoyak oleh industri dan justru menjadi jajanan sosialita ibukota (baca : komunitas hijaber), alih-alih suci, Zoya justru menasbihkan kesucian tersebut sebagai semacam pelumas iklan untuk mendulang rupiah.

Pembacaan kebudayaan yang dulu dilakukan para hipster, kini sudah tak lagi relevan. Inilah kritik terhadap konsep agung hispter yang dulu diproduski di bawah panji semangat modernisme. Dengan demikian, konsep hipster harus direvitalisasi. Namun tidak pula dengan justru menjatuhkannya. Apabila hipster direproduksi menggunakan saringan kegagapan berlogika tentu akan kontraproduktif dengan tujuan dimunculkannya hipster itu sendiri.

Pergeseran makna dan pembonsaian konsep hipster yang hanya berkutat pada soal pakaian tentu adalah sebuah kemunduran. Hipster tercipta dengan mengedepankan intelektualitas, bukan pengikut-pengikut buta. Hipster muncul untuk menggugah homogenitas sosial. Itulah kenapa mereka menciptakan gaya berpakaian yang berbeda dengan masyarakat umum.Namun, entahlah, manusia berhak memaknai hidupnya masing masing. Apalah saya, kembali hanya bisa meratapi realitas, membicarakan hipster-hipster unyu yang sayang kalau tidak dijadikan bahan untuk menambah gemerlap zaman.


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑