Opini tumblr_lgy66ayvKc1qeqsf7o1_1280

Published on November 1st, 2015 | by Aji Setiawan

0

Tiga Pilar Sumpah Pemuda

“Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu/Tanah Indonesia//Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu/Bangsa Indonesia//Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan/Bahasa Indonesia”//

 

Setiap tanggal 28 Oktober, kita memperingati sebuah hari yang bersejarah terhadap arah bangsa Indonesia, yakni Hari Sumpah Pemuda. Kongres Pemuda II yang berlangsung dari 27-28 Oktober 1928 di gedung Katholieke Jongelengen Bond, Waterlooplein (Lapangan Banteng), Jakarta Pusat. Sidang Sumpah Pemuda II dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito dan M. Yamin sebagai sekretaris yang diikuti oleh utusan; Jong Java, Jong Sumantranen Bond, Jong Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islamenten Bond, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi dan utusan lainnya. Menyatakan sepakat dan mencetuskan sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 di gedung Indonesische Clubgebouw (Jl Kramat Raya No. 106 Jakarta Pusat atau sekarang lebih terkenal sebagai Gedung Museum Sumpah Pemuda). Para pemuda dan pemudi itu berikrar ; “Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu/Tanah Indonesia//Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu/Bangsa Indonesia//Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan/Bahasa Indonesia”//. Tiga pilar Sumpah Pemuda itu dirumuskan oleh M. Yamin selaku sekretaris Kongres, sekaligus sebagai pembicara tentang “Persatuan dan Kebangsaan Indonesia”, dan termasuk tentang perlunya bahasa persatuan untuk menyatukan seluruh kelompok dan suku bangsa di Indonesia.

Para pemuda dahulu yang berusia antara 20-30 tahun, masih terbilang sangat muda, namun semangat juang untuk bersatu, berdaulat dan merasakan derita penjajahan yang tengah menghunjam hampir seluruh daratan Hindia Belanda mulai dari Sabang sampai Merauke menjadi sebuah mimpi bersama (cita-cita) para pemuda untuk bersatu baik dalam satu state sekaligus nation yang di kemudian hari mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia Raya secara nation and state dari belenggu penjajahan dunia. Para pemuda pada waktu itu mencurahkan pikiran dan tenaga untuk mewujudkan persatuan. Mengesampingkan perbedaan suku, warna kulit, dan agama. Mereka menggelar pertemuan-pertemuan tertutup (bawah tanah) dan terbuka (resmi melalui rapat umum) yang merisaukan penjajah Belanda. Demi mimpi besar bersama (great imagine) yang bernama Kemerdekaan menjadi dambaan serta cita-cita.

Pergerakan dan perlawanan, dan dengan makin terbukanya sikap Belanda, mulailah bermunculan banyak organisasi pemuda dan agama seperti Syarikat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1905, Budi Oetomo (1908), Muhammadiyah (1912), Partai Nasional (Soekarno, 1927), Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO, 1926) dan berpuncak dengan Sumpah Pemuda I (1925). Keluarnya Manifesto 1925 oleh Pelajar Indonesia di negeri Belanda yang dikompradori M. Hatta, Nazir Pamuntjak, Achmad Subarjo, Soekiman Wirdjosandjojo, Dr. Soetomo, Herman Kartawisastra, Arnold Mononutu dan lain-lain, dengan isi mengangkat ketegasan sikap: (1) Rakyat Indonesia sewajarnya diperintah oleh pemerintah yang dipilih mereka sendiri; (2) Dalam memperjuangkan pemerintahan sendiri itu tidak diperlukan bantuan dari pihak mana pun dan; Tanpa persatuan yang kukuh dari pelbagai unsur rakyat tujuan perjuangan itu sangat sulit tercapai. Manifesto 1925 itu diterbitkan Indonesia Merdeka dikirim ke Indonesia secara sembunyi-sembunyi sebagai bahan bacaan populer.

Puncak dari semua itu adalah lahirnya Sumpah Pemuda II (27-28 Oktober 1928), dan akhirnya adalah Proklamasi 17 Agustus 1945, yang merupakan satu tonggak sejarah perjuangan pergerakan nasional yang monumental. Rangkaian itu menggambarkan ikhtiar kolektif bangsa Indonesia membebaskan diri dari imprealisme dalam rangka membangun jiwa dan raga sebagai satu bangsa, yakni Bangsa Indonesia.

Ir. Soekarno memandang bahwa, tidak ada dua bangsa yang cara berjuangnya sama. Tiap-tiap bangsa mempunyai cara berjuang sendiri. Oleh karena itu, pada hakekatnya bangsa sebagai individu mempunyai kepribadian tersendiri. Salah satu karakteristik bangsa Indonesia sebagai Negara bangsa adalah kebesaran, keluasan, dan kemajemukannya. Di mana Negara bangsa Indonesia yang terdiri dari 1.128 suku bangsa dan bahasa, 17.508 pulau yang membentang dari Sabang-Merauke ini diperlukan sebuah kesatuan yang kokoh diwadahi dalam bangsa persatuan yaitu Bhineka Tunggal Ika. Untuk itu diperlukan satu konsepsi, kemauan dan kemampuan yang kuat dan adekuat (memenuhi syarat/memadai), yang dapat menopang kebesaran, keluasan, dan kemajemukan Indonesia.

Para pendiri bangsa Indonesia berusaha menjawab tantangan tersebut dengan melahirkan sejumlah konspesi kebangsaan dan kenegaraan, antara lain yang berkaitan dengan dasar Negara, konstitusi Negara, bentuk Negara dan wawasan kebangsaan yang dirasa sesuai dengan karakter keindonesiaan. Bangunan masyarakat yang beraneka ragam ini (kemajemukan) akan terwujud bila pertama, proses transformasi budaya, masyarakatnya harus sudah memiliki komitmen yang tinggi atas pembersatuan yang hakiki. Langkah kedua, untuk menuju transformasi sosial politik haruslah semakin diberdayakan pendidikan politik dan demokrasi kepada masyarakat. Ketiga, harus disadarinya bahwa kemajemukan adalah keharusan sejarah, 4 pilar demokrasi Indonesia mulai dari Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika adalah sesuatu yang final meningkat seluruh komponen Bangsa Indonesia.

Upaya pemahaman sejarah oleh warga Negara merupakan bagian dari usaha menempatkan bangsa dalam konteks perubahan zaman yang terus berlangsung, sehingga sumber-sumber sejarah akan dapat dijadikan sebagai pemersatu dan pengikat identitas bangsa di tengah perkembangan hubungan dunia internasional. Setiap warga Negara harus mengetahui gambaran sejarah Negara, sehingga Negara berkewajiban untuk sejauh mungkin memperkenalkan visi kesejarahan dan memberikan gambaran tentang sebuah sejarah nasional yang dapat dipahami dari generasi ke generasi. Melalui penegasan kesejarahan nasional, identitas bangsa akan terus terpelihara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perjalanan bangsa Indonesia tentu tidak bisa tidak lepas dari peran pemuda di dalamnya, sampai-sampai ada kementrian khusus yakni Menteri Pemuda dan Olahraga yang membawahi dan membina organisasi pemuda baik di organisasi agama, politik, ekonomi, hukum, sosial budaya, olah raga, seni , pariwisata dan lain-lain. Ini menandakan betapa peran pemuda tidak bisa dipandang sebelah mata. Idealisme pemuda dimulai saat usia menginjak dewasa (masa pubertas) tentu menyisakan sebuah harapan sekaligus masalah di kemudian hari. Di mana tantangan masa muda itu bila dipergunakan dengan kegiatan positif akan melahirkan karya cipta anak bangsa, namun bila sudah tergerus oleh himpitan kapitalisme dan hedonisme maka angka pengangguran meningkat dan kriminalitas remaja merajalela dan hanya menyisakan pemuda sebagai sampah masyarakat.

Kesadaran perubahan (daya kritisme pemuda) bila dikelola dengan baik melalui organisasi pemuda baik secara alamiah (evolusi) maupun yang bentukan (revolutif) melahirkan kesadaran bersama, bahwa pemuda adalah bagian dari agent of change ke arah perjalanan bangsa baik di kota maupun di desa. Peran pemuda sangat signifikan, masih sangat banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Penggarapan potensi desa misalnya, bukan mission impossible di mana pemuda menjadi bagian dari pembangunan desa. Sebagian besar konsep  pemberdayaan desa hanya membicarakan pemanfaatan sumber daya alam desa, dan hubungan pusat dan daerah dalam masalah alokasi keuangan desa, belum menyentuh potensi yang dimiliki para pemuda.

Ir. Soekarno salah satu founding father Republik Indonesia yang pernah menyatakan untuk mengubah negeri ini hanya butuh sepuluh pemuda tangguh. Pernyataan ini bukan tanpa alasan atau sekedar retorika belaka. Di mana peran pemuda dari sejak Sumpah Pemuda sampai kemerdekaan Indonesia, perannya tidak dapat dipandang remeh. Pemuda di manapun berada tidak dapat dipisahkan dari sejarah perubahan. Sebab sejarah dunia terus berubah seiring berubahnya waktu. Generasi muda sekarang akan ditanya oleh generasi muda yang akan datang apa perannya dalam arah pembangunan bangsa ini, jika pemuda generasi sekarang tidak mampu mengukir sejarah yang gemilang deretan prestasi dan peranannya.

Bahkan Reformasi yang digulirkan pada 1998 itu juga peran dari mahasiswa dan pemuda yang berhasil menumbangkan regim Orde Baru. Berbarengan dengan Sumpah Pemuda sebelum Reformasi bergulir, telah mengalir kencang Sumpah Mahasiswa: Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah: Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan//Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah: Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan//Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah:Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan//.

Yang terpenting dari peran pemuda adalah pergerakan dinamika pemuda dalam arah kebangsaan dan pembangunan mempunyai bargaining position dengan pemerintah dan parpol bahkan organisasi agama. Pemuda dengan segenap perangkat dan organisasi mampu mengakomodasi aspirasi politik dan peran dalam proses demokratisasi yang lebih berani, kritis dalam mengontrol pemerintah. Keterlibatan secara aktif dan partisipatoris akan berlangsung bila pemuda mampu mengorganisir orang-orang muda untuk semakin kreatif apalagi bila ditunjang juga dengan produk-produk hasil karya cipta yang kreatif serta mempunyai keunggulan baik secara kompetitif maupun kualitatif dengan pemuda bangsa lain. Tentu itu mampu membanggakan pemuda dan sebagai pelanjut estafeta harapan-harapan yang terpikul oleh generasi pendahulu kita.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


About the Author

Aji Setiawan

Alumnus Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta, Jurusan Teknik Manajemen Industri, Fakultas Teknologi Industri. Kontributor banyak media dari tahun 2009 seperti alKisah, Risalah NU, Media Ummat, Sufi, www.nu.or.id, www.berita9online.com, mediasantri, islampos, Suraupos, muslimmedia, majalah tabloid online Islam, dan lain-lain.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑