Film dogtooth-kynodontas-2009

Published on April 24th, 2015 | by Redaksi Sociozine

0

Dogtooth: Unconventionally Conventional Family

Dogtooth

dogtooth-kynodontas-2009

Tahun: 2009

Negara Asal: Yunani

Director: Yorgos Lanthimos

Pemain: Christos Stergioglou, Michelle Valley, Angeliki Papoulia

 

Dogtooth (nama lain: Κυνόδοντας atau Kynodontas) adalah film tahun 2009 yang mewakili negara asalnya, Yunani, dalam kontes film Oscar tahun 2011 dalam kategori best foreign movie. Sebelumnya, film ini telah mengantongi beberapa penghargaan, salah satunya adalah Cannes Film Festival tahun 2009. Film ini menceritakan sebuah keluarga konvensional: Ayah, Ibu dan 3 anaknya (2 perempuan dan 1 laki-laki). Salah satu hal uniknya adalah film ini tidak menyebutkan nama pemerannya, kecuali Christina, seorang satpam perempuan yang memiliki peran penting dalam film ini. Hingga detik ini kalian membaca masih terdengar normal, bukan? Sang Ayah dan Ibu terlalu menyayangi anak mereka, sehingga melakukan tindakan overprotective, yaitu dengan tidak mengizinkan anak-anak mereka mendapatkan informasi dari dunia luar. Baik itu melalui siaran televisi, radio, ataupun mereka yang tidak pernah pergi meninggalkan rumah walau usianya sudah menginjak umur 20 tahunan. Ayah dan Ibu memang sudah menerapkan metode pembelajaran sendiri untuk anak mereka, yaitu dengan memberikan pelajaran kosa kata baru setiap harinya. Malangnya, kosa kata yang mereka dapatkan terkadang salah jika dibandingkan dengan realita di luar rumah mereka.

Older daughter: Mom, what is a “cunt”?

Mother: A “cunt” is a large lamp. Example: the “cunt” switched off and the room got all dark.

(sumber: IMDb)

Keterbatasan informasi mereka terhadap dunia luar menyebabkan anak-anak menjadi clueless, dari kosa kata, pengetahuan, bahkan pengetahuan mengenai seksualitas. Tragis, bukan? And in case you are wondering why does the title says “Dogtooth”, you will find out the answer in the movie. Untuk saya pribadi, film ini adalah salah satu film yang cukup disturbing, bukan dengan kehadiran darah seperti dalam film laga, tetapi dengan percakapan-percakapan dan tingkah laku yang clueless tetapi penuh dengan keingintahuan. Sehingga, menonton film ini diperlukan “kewaspadaan”. Entah bagaimana saya bisa menjelaskannya, tetapi film ini adalah salah satu film yang akan membuat Anda meringis tragis sekaligus merasa lucu.

Bukan hanya benda yang memiliki fungsi, tetapi juga sebuah institusi terkecil dalam masyarakat: keluarga. Menurut Friedman (2003) dalam Bowden dan Greenberg (2010), terdapat lima fungsi keluarga yakni: fungsi afektif, fungsi sosialisasi, fungsi ekonomi, fungsi reproduksi dan fungsi pemeliharaan kesehatan. Jika dianalisa, hampir semua komponen fungsi keluarga dipenuhi oleh keluarga ini, kecuali sosialisasi. Berger (1978) dalam Sunarto (2004), sosialisasi adalah proses di mana seorang individu belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Sosialisasi sendiri bisa berasal dari penanaman norma atau penanaman nilai. Dalam kasus film ini, sosialisasi dari institusi keluarga justru kacau karena nilai dan norma yang ditanamkan hanya apa yang dianut oleh kedua orang tua dan tidak ditambah oleh nilai dan norma di masyarakat luas. Sehingga, anak-anak belum tentu bisa berpartisipasi di masyarakat kelak apabila suatu saat keluar dari rumahnya. Padahal, keluarga merupakan agen sosialisasi pertama dan utama dalam kehidupan setiap individu. Pola asuh orang tua yang otoriter, pembohongan terhadap dunia luar dan juga pembatasan terhadap ilmu pengetahuan merupakan hal yang disorot dalam film ini. Karena hal-hal tersebut, sosialisasi pun menjadi tidak sempurna. Sang sutradara, Yorgos Lanthimos, dalam wawancaranya dengan Rumpus mengatakan alasannya membuat film dengan tema seperti ini, “..I wanted the contrast of parents trying to create a very beautiful environment where the kids were beautiful, where everything’s beautiful. And next to all of that, these things that they’re doing are horrible and tragic—they’re destroying and deforming their kids in many ways.” Atau dengan kata lain, ia ingin hal-hal yang tidak dijelaskan dalam film lain, bisa dijelaskan melalui film ini tentang bagaimana orang tua justru “menghancurkan” anaknya.

Terlepas dari perspektif orang tua, anak-anak justru mengalami apa yang dipelajari sosiologi dengan glass ceiling. Secara singkat, konsep glass ceiling melihat bahwa ada sebagian kalangan yang tidak bisa bermobilitas secara vertikal karena keterbatasan yang “tidak terlihat” walaupun kita bisa melihat tujuan itu. Dari nama, glass ceiling atau batas kaca mengartikan bahwa kita bisa melihat sasaran yang ingin dicapai, tetapi terhalang oleh batas yang berupa kaca. Tembus pandang, tetapi tetap membatasi. Dalam film ini, diceritakan bagaimana ketiga anak ingin mendapatkan informasi dari luar rumahnya tetapi dihalangi oleh kedua orang tua mereka yang sangat protektif. Sehingga, sang anak yang awalnya merasa bisa mencapai tujuan (mendapatkan informasi) menjadi tidak bisa karena terhalangi oleh sekat kaca yang berupa peraturan orang tua mereka.

Secara keseluruhan, film ini bagi saya pribadi merupakan film yang sangat menarik. Nilai moral yang coba ditampilkan pun bisa ditangkap oleh penontonnya. Selain itu dari sisi grafis, film ini juga cukup unik karena gayanya yang khas. Meskipun begitu, ke-disturbing-an film ini tetap ada, tetapi dalam penampakan yang cantik. Selamat menonton dan think beyond!

Sumber

Bowden, Vicky R dan Cindy Smith Greenberg. 2010. Children and Their Families. Philadelphia: Wolters Kluwer

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Universitas Indonesia

http://www.imdb.com/title/tt1379182/

http://therumpus.net/2010/06/rumpus-interview-with-yorgos-lanthimos-director-of-dogtooth/      

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑