Buku ID_KPG2013MTH07BMAW_C

Published on August 21st, 2014 | by Redaksi Sociozine

0

Budaya Massa, Agama, Wanita

Kehidupan kita tidak akan pernah luput dari segala peraturan. Entah kita yang suatu kali harus mengatur orang yang “ingin” diatur, atau malah kita yang “perlu” tunduk pada seorang pengatur. Seorang pengatur secara sosiologis dapat kita sebut sebagai agen. Dari sekian banyak agen di masyarakat, media massa merupakan salah satu “pengatur” yang paling berpengaruh. Media massa menjadi agen yang mengatur penyaluran lidah masyarakat. Namun tidak jarang juga, mengatur fantasi penontonmelalui tayangan yang dipublikasikannya. Budaya Massa, Agama, Wanita karya Veven Sp. Wardhana ini merupakan buku yang terbilang cukup radikal dalam mengungkapkan peranaan media massa Indonesia dalam menjalankan perannya sebagai agen. Bagaimana media massa telah berhasil membentuk budaya massa di Indonesia yang cenderung terhanyut dalam fantasi yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Seperti judulnya, Budaya Massa, Agama, Wanita, Veven juga memaparkan sisi lain dari agama. Perlu diakui bahwa agama merupakan institusi sosial yang memiliki sangat banyak peraturan. Seperti yang telah dikatakan oleh Durkheim, unsur-unsur dari institusi agama yaitu kepercayaan terhadap agama dengan seperangkat peraturan atau nilai-nilai yang ada. Agaknya agama memiliki kuasa mutlak dalam mengatur segala macam hal, termasuk wanita. Dalam buku ini, dibahas mengenai kepercayaan terhadap agama terkait hukum sunat bagi wanita sebagai pemangkasan seksualitas wanita. Nyatanya, belum ada yang dapat menjadi bukti bahwa kebinalan seksual dapat diminimalisir dengan sunat. Atas dasar kepercayaan dengan penagihan bukti, hukum sunat bagi wanita pun menjadi perdebatan hangat, bahkan panas di tengah masyarakat. Perdepatan tidak berhenti sampai disitu—kalau saja—kalau, wanita yang tidak disunat memang benar seksualitasnya menjadi binal, lalu banyak terjadi penyimpangan seksual, lantas pihak wanitakah yang bersalah?

Panasnya isu agama dan wanita ini, membuat media tidak mau ketinggalan untuk ikut andil di dalamnya. Ya, namanya juga penyambung lidah masyarakat. Tidak jarang, media massa menjadi penyaluran peraturan-peraturan institusi agama tersebut. Contohnya saja iklan layanan masyarakat yang diungkapkan oleh Veven, sang penulis, iklan tersebut menuding libido lelaki melimpah ruah karena ulah perempuan berpakaian seksi: ketat dan minim. Tidak hanya diperlihatkan melalui periklanan, institusi agama juga seringkali muncul di skenario sinetron. Apalagi jika menjelang atau saat bulan Ramadhan tiba, akan banyak sekali sinetron serta FTV berlatar religi menghiasi pertelevisian di Indonesia ini. Tokoh protagonis akan bersifat lemah lembut, menjaga lisan dan jika ia perempuan, akan menggunakan jilbab dan berasal dari golongan miskin. Kemudian tokoh antagonis akan berasal dari golongan atas atau memiliki pekerjaan sebagai rentenir, tidak berjilbab. Citra wanita tidak berjilbab diperlihatkan sebagai cara berpakaian yang tidak sesuai dengan kebenaran dalam seperangkat peraturan dalam agama.

Media massa memang senang memutar-mutar pencitraan. Aktris pada tahun 1980-an saja yang diberikan label oleh masyarakat sebagai boom sex di media massa, melakukan pendekonstruksian identitasnya dengan beralih mengisi ke acara-acara religi dan lambat laun menggunakan jilbab serta tidak berpakaian seksi lagi. Dalam buku ini, media massa di Indonesia dinilai miskin kreativitas serta mengingkari realitas yang ada. Budaya industri hiburan kodratnya minim terobosan pemaknaan, gagap melakukan dekonstruksi budaya karena pemaknaan tersebut yang sebenarnya dibangun oleh budaya industri hiburan itu sendiri. Religiusitas dalam media massa hanya sebagai cameo untuk memikat audiensi mengikuti budaya massa yang terkonstruksi itu. Parahnya, masyarakat mempercayai imaji dari budaya yang terkomodifikasi sebagai komoditas barang jualan media massa. Penikmatnya? Umumnya para lelaki. Merek adapat bebas “jajan seksual” melalui media massa. Parahnya lagi, media massa telah berhasil membentuk budaya massa untuk menjajakan perempuan dalam mendongkrak berbagai latar aktivitas.

Apa yang sebenarnya terjadi? Realitasnya, perempuan termarjinalkan oleh struktur sosial dan konstruksi budaya patriarkial. Itu berarti kesetaraan gender yang perlu diperjuangkan disini. Siapakah pejuangnya? Apakah harus selalu perempuan? Memangnya laki-laki tidak boleh? Adalah suatu catatan penting disini, kesetaraan gender dapat diperjuangkan tanpa mengenal jenis kelamin seseorang. Bila masih terbatas jenis kelamin, tentu saja masyarakat ini masih terkurung oleh budaya patriarkial.

Lalu bagaimana kita menghadapi realitas seperti ini? Menurut skenario persinetronan, perempuan tidak perlu ngelawan realitas itu, tetapi jangan lari juga dari realitas. Tenang saja, Tuhan akan turun tangan. Perempuan cukup berdoa dengan ikhlas, semoga mukjizat dari Tuhan segera menolong.

Cukupkah dengan berdoa saja?

Roseanne Mangindaan

Tags: , , , , , , ,


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑