Buku resensi trinity, brazil, bola, pantai

Published on October 6th, 2014 | by Redaksi Sociozine

0

The Naked Traveler: 1 Year Round-The-World Trip

Buku karangan Trinity ini menceritakan petualangannya selama satu tahun di Amerika Selatan bulan Oktober 2012 – Oktober 2013. Petualangannya dimulai dari Eropa, lalu baru berlanjut ke Amerika Selatan. Berpetualang dan mencoba hal-hal baru tentu saja meninggalkan banyak cerita, kalikan cerita itu dengan 365! Karena cerita yang terlalu banyak, buku ini pun dibagi menjadi dua bagian. Untuk yang belum mengetahui sang penulis, Trinity menyebut dirinya sebagai “tukang jalan-jalan sambil sesekali menulis”. Sampai saat ini, ia sudah menulis 11 buku. Trinity juga dikenal sebagai “tukang jalan” dengan gaya backpacker.

Sebagai pembaca setia buku-buku Trinity dari The Naked Traveler 1, saya menyukai konsep buku baru ini: fresh dan unik! Banyak hal baru yang pembaca bisa dapatkan di buku ini, apalagi mengenai Amerika Selatan yang masih terasa jauh dari bayangan warga Indonesia. Mulai dari berkunjung ke negara baru: Republik Užupis, mengunjungi Machu Picchu, pergi ke sungai Amazon, makan guinea pig, hingga kena sial bertubi-tubi di Argentina. Gaya cerita yang apa adanya, mengalir dan lucu juga menambah nilai tambah dari buku ini. Dalam buku ini, terdapat dua bab yang menarik minat saya, yaitu cerita mengenai “agama bola” dan “agama pantai”. Keduanya sama-sama menceritakan negara Brazil.

Dalam “agama bola” diceritakan bagaimana bola sudah seperti menjadi “agama”. Kecintaan masyarakat Brazil terhadap sepak bola memang sangat tinggi, contohnya: terdapat museum sepak bola dan menanyakan klub sepak bola favorit di awal perkenalan menjadi hal yang lumrah. Bab lainnya, “agama pantai” menceritakan bahwa pantai merupakan tempat favorit masyarakat. Pantai tidak hanya sebuah tempat untuk berenang, tetapi juga tempat untuk bersosialisasi bersama keluarga atau teman. Siapapun bisa berkumpul di pantai, tanpa ada perbedaan status sosial dan warna kulit. Saking cintanya, pantai selalu dipenuhi warga dari pagi hari!

Mengapa sampai menyebut agama bola dan agama pantai? Menurut Durkheim, dalam agama terdapat beberapa komponen, yaitu: Tuhan, kitab suci, ritual dan pengikut. Dalam ‘agama bola’, Tuhan dalam hal ini adalah bola. Tuhan memang sakral, bola mungkin hanyalah sebuah benda biasa. Tapi yang membuat sakral adalah apa yang berada di ‘belakang’ bola. Bola bukanlah hanya sekedar hobi, tetapi penyatu masyarakat. Diceritakan dalam bab tersebut bagaimana orang yang numpang lewat pun bisa ikut bermain bola dengan orang setempat. Ibaratnya pun, tidak ada lahan kosong tanpa ada orang bermain bola. Kitab suci adalah pedoman hidup, atau dalam kasus ini bisa dikatakan pernak-pernik yang berkaitan dengan bola, seperti: kaos, bendera logo klub, ataupun benda lain yang dimiliki oleh die hard fans klub bola. Ritualnya adalah tentu saja bermain bola, dan pengikutnya adalah mayoritas masyarakat Brazil.

Jika dalam kasus pantai, Tuhan adalah masyarakat. Kenapa masyarakat? Masyarakat adalah penentu apa yang sakral dan tidak. Masyarakat Brazil jika berkaitan dengan pantai akan ‘mengharamkan’ hal-hal yang berbau individualis seperti MP3 player dan buku. Kitab sucinya adalah pernak-pernik, seperti: bikini, kacamata hitam, payung dan kursi pantai. Ritualnya adalah berkunjung ke pantai untuk berolahraga, mejeng atau bersosialisasi.

Selain itu, kedua “agama” ini bisa dilihat dengan konsep habitus yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Menurutnya, habitus merupakan struktur mental dan kognitif yang dilakukan setiap hari untuk bisa menghadapi kehidupan sosial. Habitus juga bersifat diinternalisasikan. Kecintaan warga Brazil pada bola dan pantai telah diinternalisasikan dari orang tua, teman dan masyarakat. Selalu saja ada orang yang bermain bola, dari anak kecil hingga orang dewasa. Tidak perduli bermain bola dengan orang tersayang atau tak dikenal, semua berbaur agar benda bulat tersebut dapat terus bergelinding.

Begitu juga dengan pantai, pantai menjadi tempat yang mampu menyatukan masyarakat tanpa memandang status sosialnya. Bahkan, terdapat ‘hukum’ yang mengatakan “tidak ada malam keempat tanpa pergi ke pantai.”. Namun, menurut Bourdieu, tidak semua individu memiliki habitus yang sama. Dalam cerita “agama pantai”, pantai merupakan spot warga untuk bersosialisasi, mejeng ataupun berolahraga, namun bagaimana jika mereka tinggal jauh dari pantai? Tentu saja mereka tidak bisa pergi ke pantai setiap saat karena keterbatasan yang ada.

Satu hal yang membuat saya ‘kecanduan’ membaca buku-buku Trinity adalah bagaimana ia menyadarkan kita bahwa travel tidak harus bersifat mewah. Sulit memang untuk menyisihkan uang jajan untuk bisa jalan-jalan, tetapi mengingat apa yang akan didapatkan, rasanya sanggup. Trinity, sang penulis, berpesan untuk travelling selagi masih muda. Mengutip sebuah quote oleh Mark Twain yang juga ada dalam buku ini:

Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than the ones you did do. So, throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.Do it now or do it later, your choice.

Hasty Larasati

Fitryani Gunawan

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑