Film Celluloid-Closet

Published on May 6th, 2014 | by Deden Ramadani

0

LGBT dalam Sinema : The Celluloid Closet

Tidak hanya di dunia nyata, dalam dunia sinema pun isu LGBT masih belum menjadi isu strategis untuk diperbincangkan. Bahkan, dunia sinema sendiri seringkali malah berperan dalam melanggengkan dikotomi laki-laki dan perempuan dan menganggap hal-hal di luar dikotomi tersebut sebagai hal yang menyimpang. Seperti ungkapan Richard Dyer, seorang sejarahwan film :

Your ideas about who you are doesn’t just come from inside you, they come from the culture. In this culture, they come from movies. We learn from the movie what it means to be a man or a woman, what it means to have sexuality”.

Kondisi berbahaya justru terjadi ketika pemaknaan menyimpang terhadap LGBT bukan lagi sebagai hasil bentukan sosialisasi, tetapi sudah berwujud ideologi. Karena dalam hal apapun, ketika sudah berwujud ideologi, sudah pasti akan menjadi legitimasi bagi siapa saja penganutnya untuk melakukan kekerasan terhadap apa yang dianggap berlawanan terhadap ideologi yang dianut. Fakta dan data sudah banyak yang memaparkan kasus kekerasan fisik dan verbal, pengusiran, diskriminasi, pelecehan, bahkan hingga hukuman mati terhadap LGBT. Tragisnya, perlakuan tersebut justru diamini oleh beberapa Negara melalui undang-undang dan aturan hukum lainnya. Wajar jika pada akhirnya Derrida dan para aliran post-strukturalis marah-marah terhadap dikotomi yang semena-mena tersebut dan menggagas “dekonstruksi”. Derrida mengungkapkan :

one of the gestures of deconstruction is to not naturalize what isn’t natural, to not assume what is conditioned by history, institutions, or society is natural”.

Kehadiran Film The Celluloid Closet dalam konteks ini pun menjadi menarik. Film ini hadir bukan sebagai kritik terhadap sinema-sinema yang menjadikan isu LGBT sebagai bahan lelucon atau tertawaan. Film ini juga tidak pula hadir sebagai “film aktivisme” yang meneriakan isu-isu LGBT secara vokal. The Celluloid Closet hadir dalam upaya memetakan periodisasi naik turunnya isu LGBT dalam industri film terbesar di dunia, yaitu Hollywood.

Hollywood, dalam industri film dunia, memang memiliki peranan penting. Bukan hanya sebagai pencipta imajinasi dan mimpi manusia lewat audio visual yang menawan, Hollywood juga menjadi pewacana dan sekaligus pembuat mitos tentang bagaimana orang “normal” melihat LGBT dan bagaimana LGBT melihat diri mereka sendiri. Mulai dari tema-tema dimana LGBT hanyalah sebagai lelucon dan tempelan komedi, hingga pada akhirnya tema-tema LGBT sebagai gambaran perjuangan individu melawan struktur dan norma yang ada di masyarakat.

The Celluloid Closet, yang diangkat dari buku Vito Russo dengan judul yang sama, sekilas memang hanya menampilkan cuplikan-cuplikan penggambaran LGBT dalam sinema Hollywood dari waktu ke waktu. Tetapi, jika kita lihat lebih mendalam justru tergambar jelas bagaimana Industri sebesar Hollywood pun harus terus berkompromi dengan institusi-institusi, baik Negara ataupun agama, dalam menentukan konten dalam sinema. Bahkan, bentuk kompromi mereka pun hingga pada tataran melakukan sensor sendiri terhadap film-film yang dianggap memuat konten “menyimpang”. The Hays Code (Motion Picture Production Code) yang berlaku pada tahun 1930 hingga 1968 misalnya, mengatur dengan sangat terperinci apa yang pada masa itu dianggap menyimpang dan tidak boleh ditampilkan dalam sinema. Tentu saja, salah satu konten yang diatur adalah tentang LGBT.

Bentuk kompromi itu pun tidak hanya terjadi antara industri Hollywood dengan institusi Negara ataupun agama, tetapi terjadi pula di kalangan sineas Hollywood. Bentuk komprominya pun macam-macam, mulai dari memunculkan tokoh LGBT tetapi selalu dalam wujud Dracula atau Vampire, hingga memunculkan tokoh yang berjuang menjadi LGBT tetapi di akhir cerita tokoh LGBT tersebut selalu bernasib tragis: bunuh diri, tertabrak mobil, tertimpa pohon, kecelakaan dan lain-lain.

Film ini pada akhirnya mempertanyakan langkah yang dapat dilakukan dalam upaya mewacanakan isu LGBT ke ruang publik. Tentu, mewacanakan isu LGBT bukan berarti urusan setuju atau tidak terhadap LGBT. Tetapi, mewacanakan isu LGBT seluas-luasnya merupakan wujud tindakan konkret kita sebagai manusia bahwa LGBT dan kelompok minoritas lainnya berhak mendapatkan kesempatan yang sama dan setara untuk menyuarakan pendapatnya tanpa perlu rasa takut.

Tags: , , , ,


About the Author

Deden Ramadani

Sosiologi UI 2011. Penyuka musik The Beatles, film karya Hayao Miyazaki dan Puisi Sapardi Djoko Damono sejak kecil hingga sekarang. Menjadi pengurus website Database perfilman Indonesia filmindonesia.or.id sejak tahun 2010. Saat ini, Deden menjabat sebagai Ketua HMS UI tahun kepengurusan 2014.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑