Film spm012

Published on July 10th, 2014 | by Redaksi Sociozine

0

Selamat Pagi, Malam: Potret Kehidupan Kota Jakarta

a city of confusion, a city of disconnection

Sebuah film yang memotret kehidupan kota Jakarta melalui kisah 3 orang wanita: Gia, Indri, dan Ci Surya. Gia baru saja pulang ke Jakarta setelah lama berada di New York. Namun Gia tidak merasa pulang ke “rumah”. Jakarta menjadi tempat yang serba asing dan membuat Gia heran. Indri adalah seorang penjaga handuk di sebuah gymnasium yang mencuri sepatu heels pelanggannya untuk pergi berkencan dengan laki-laki kaya yang ia kenal lewat smartphone semata. Ci Surya adalah seorang istri pengusaha kaya raya yang sedang merasa limbung dan kosong karena ditinggal mati suaminya. Ditambah lagi setelah ia tahu bahwa selama ini suaminya berkencan dengan seorang pelacur hotel kelas bawah bernama Sofia.

Matahari terbenam dan adzan dikumandangkan. Jakarta yang penuh sesak, macet dan berjalan begitu saja seperti robot, mulai memberi ruang untuk penghuninya hidup kembali. Tiga wanita ini memulai perjalanan ceritanya sepanjang malam sampai pagi menyapa kembali. Mereka membawa para penonton ikut berpetualang dan menyaksikan realita kota Jakarta – atau bahkan realita hidup kita sendiri, yang membuat kita tertawa geli ataupun miris. Jakarta yang tidak mengenal identitasnya sendiri. Jakarta yang menelan kita dalam kebisingan teknologi dan kemajuan. Jakarta yang juga pandai menutupi kemunafikannya.

SelamatPagiMalam-banner

Bagi kalangan menengah ke atas yang cenderung menginginkan hal-hal yang mereka temui di luarnegeri, Jakarta cukup mampu menyediakannya. Sampai-sampai hal-hal dalam negeri-lah yang sulit ditemui di Jakarta. Itulah yang membuat Gia heran ketika ia tidak bisa memesan beef lokal di sebuah restoran karena “di sini all imported, mbak” kata seorang pelayan. Pelayan yang sama melayani Indri, yang ingin memesan sembari menunggu pemuda kaya yang tak dikenalnya. “Di sini gak ada mineral water, mbak, adanya Fuji water. Kalo makanannya mau apa, mbak? Chicken soft roll?” Dengan polos Indri bertanya, “Apa tuh mas?”. Si pelayan menengok ke kanan dan kiri lalu berbisik “lumpia, mbak”

Saya rasa pembaca setuju jika kebanyakan orang Indonesia selalu melihat hal-hal yang berbau kebarat-baratan itu bagus. Di mall-mall sering kita temukan ibu-ibu berusaha berbicara pada anaknya dengan bahasa Inggris. Saya sendiri sudah bertemu dengan anak yang dari lahir di Indonesia tapi tidak bisa bahasa Indonesia! Kenapa? Karena Bahasa Inggris itu keren, dan Bahasa Indonesia itu cupu. Contoh lain kalau misalnya kita baru lulus SMA dan keluarga kita berduit sedikit. Kebanyakan pasti ingin melanjutkan sekolah di luar negeri, apapun universitasnya. Kenapa? Karena sekolah di luar negeri itu keren. Tapi kenapa? Inilah salah satu bukti apa yang dikatakan oleh Edward Said sebagai orientalisme, yang adalah bagian dari post-kolonial. Saat ini kita sudahtidak lagi dijajah oleh Barat. Namun kebudayaan dan pola pikir kita masih dijajah dan ditentukan oleh Barat! Orientalisme adalah warisan pengetahuan Barat yang menganggap bahwa orang Timur (termasuk Indonesia) itu bodoh, ketinggalan jaman, kurang beradab. Warisan pengetahuan inilah yang membuat kita merendahkan bangsa kita sendiri, sekalipun sebenarnya banyak sekali harta yang dimiliki Indonesia. Akhirnya Jakarta berusaha mendandani dirinya dengan gemerlap kebarat-baratan, yang akhirnya membuat Jakarta melupakan identitas aslinya.

Kejutan lainnya dari Jakarta buat Gia adalah ketika bertemu dengan orang-orang yang sibuk dengan smartphone-nya masing-masing di atas meja makan. Setelah beberapa lama saling terdiam sibuk dengan media sosial masing-masing, makhluk-makhluk Jakarta ini mengeluarkan tongkat ajaibnya yaitu tongsis. Paradoks yang diciptakan oleh teknologi komunikasi ini sepertinya sudah disadari oleh penduduk dunia dimana-mana. Dengan perkembangan komunikasi ini, masyarakat kota semakin mudah terhubung satu sama lain namun semakin impersonal satu dengan lainnya. Video “look up” yang melayangkan pendapat kritis serupa juga sempat terkenal di You Tube. Hanya saja ketika kita tahu kita sudah berubah menjadi zombie, akankah kita bisa hidup kembali? Sekarang kita tahu, tapi kapan kita tersadar?

Wajah Jakarta lainnya kita temui ketika Gia terpana melihat Mesjid Istiqal berseberangan persis dengan Gereja Katedral. Naomi, teman Gia semasa di New York menjelaskan, “kan bhineka tunggal ika”. Gia menimpali “ceritanya”. Jakarta memang kota yang terlihat sangat religius namun juga munafik. Sama seperti tanda kiblat yang menunjuk pada kondom di laci kamar hotel dimana suami Ci Surya bermain-main dengan Sofia. Sama juga seperti teman gereja Ci Surya yang mengundang pendeta untuk menghibur ci Surya namun sebenarnya untuk mengeruk kantong isteri orang kaya itu. Dalam konteks ini, ada benarnya juga para sosiolog yang sering mengatakan bahwa agama itu adalah alat penguasa. Agama seringkali hanya menjadi kedok para penguasa atau orang yang berkepentingan untuk meraih kepentingannya sendiri. Tidak hanya dalam level mikro seperti pendeta ci Surya yang mencari uang. Tapi juga dalam level makro misalnya sebagai alat politik. Kita sudah cukup paham bagaimana agama benar-benar dijual untuk mempromosikan dan menjatuhkan kedua calon presiden pada Pilpres 2014 ini. Bagi orang-orang seperti ini, Tuhan tidak ada lagi dalam agama. Agama telah menjadi Tuhan mereka.

Akhir kata. Film yang ironisnya, hanya bertahan beberapa saat saja di bioskop ini– mungkin karena semua penonton tersedot film Barat? :D− cukup jujur dan jelas dalam menyajikan wajah kota Jakarta yang kita hidupi saat ini. Akting yang tidak murahan, alur cerita yang baik, dan keseluruhan film yang mampu menyampaikan pesan yang kuat ini membuat saya makin optimis kepada perkembangan film di Indonesia. Selamat menikmati! :)

Heidy Angelica


Produser             : Sammaria Simanjuntak dan Sharon Simanjuntak

Sutradara            : Lucky Kuswandi

Pemeran              : Adinia Wirasti, Dayu Wijanto, Dira Sugandi, Ina Panggabean, Marissa Anita, Trisa Triandesa

Durasi                   : 92 Menit

 

Tags: , , , , , , ,


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑