Film gran torino, haning nugrahadi, client eastwood, sociozine

Published on August 8th, 2014 | by Redaksi Sociozine

0

Gran Torino

Do I feel lucky?’ Well, do you, punk? Itulah kata-kata yang selalu gua inget ketika ngeliat Clint Eastwood, keinget perannya terus sebagai inspektur polisi ugal-ugalan “Dirty”—Harry Callaghan. Tapi gua gak akan ngebahas film Dirty Harry, melainkan filmnya yang lain berjudul Gran Torino, pertama kali gua baca judul filmnya, gua kira genrenya bakalan balapan gitu deh, ternyata sepanjang film isinya malahan drama.

Gran Torino merupakan film tentang kisah hidup Walt Kowalski, seorang veteran perang Korea yang tinggal di Detroit. Seiring berjalannya waktu, Walt merasakan cultural shock karena perubahan sosial yang dialami oleh Kota Detroit. Pada awalnya, mayoritas penduduk Detroid adalah pekerja pabrik kulit putih, tapi sekarang malah bermayoritaskan imigran miskin Asia. Imigran-imigran tersebut membuat angka kriminalitas Detroit meningkat. Keadaan ini sekaligus kondisi Walt yang sudah tua dan penyakitnya yang semakin memburuk, membuat Walt disarankan untuk tinggal di panti jompo. Namun begitu, Ia menolak keras saran tersebut dan tetap tinggal di rumahnya dengan hanya ditemani oleh seekor anjing. Kehidupan Walt semakin memburuk ketika ada keluarga etnis Hmong tinggal di sebelah rumah Walt. Walt selalu memanggil tetangga-tetangga Asianya dengan panggilan “Chinks” atau “Gooks”, panggilan bernada peyoratif yang ditujukan kepada kalangan Asia di AS.

Pada suatu hari, ada seorang anak etnis Hmong bernama Thao, yang selalu di-bully sepupunya. Sepupunya merupakan salah satu anggota geng kriminal di Detroit. Thao disuruh sepupunya untuk mencuri mobil Gran Torino milik Walt, tetapi Walt berhasil menangkap Thao dan mengusir anggota geng tersebut.

Sejak hari itu, Thao dan Walt mulai dekat karena Thao sendiri disuruh ibunya untuk bekerja kepada Walt. Walt mengajarkan bagaimana cara hidup orang-orang kulit putih dan teman-teman sesama kulit putih kepada Thao. Sebaliknya Thao beserta keluarganya juga mengajarkan budaya-budaya kekeluargaan masyarakat Hmong kepada Walt. Walt yang awalnya resisten kepada warga etnis Hmong di sekitarnya, mulai memahami dan menghargai mereka.

Singkat cerita, beberapa waktu kemudian, geng kriminal pimpinan sepupu Thao, meneror keluarga Thao serta menculik dan memperkosa kakak Thao yaitu, Sue. Thao mengajak Walt untuk membalas dendam kepada geng kriminal tersebut. Demi keamanaan Thao, Walt menguncinya di gudang rumah dan berangkat ke markas geng kriminal tersebut sendirian. Hingga akhirnya Walt meninggal ditembak oleh geng kriminal, namun selanjutnya geng tersebut ditangkap polisi. Pada hari pemakaman Walt, Thao diberikan warisan berupa mobil Gran Torino milik Walt.

Pada dasarnya film ini menceritakan tentang relasi antar individu yang memiliki latar belakang etnis dan kehidupan mereka di plural society. Sinisa Malesevic dalam bukunya The Sociology of Ethnicity mendefinisikan plural society merupakan masyarakat yang secara kultur sangat berbeda-beda dan tinggal dalam satu otoritas politik dan sistem institusional. Namun di Detroit, dominasi kulit putih sangat kuat—mereka menguasai sektor ekonomi, politik dan institusi sosial—kehidupan sosial seperti “diciptakan” atas dasar-dasar budaya kaum kulit putih saja. Hal tersebut mengakibatkan individu atau kelompok non-kulit putih—yang memiliki budaya berbeda—akan dianggap menyimpang.

Hal tersebut dapat disaksikan dalam bagian film dimana, Walt—yang mewakili karakter kulit putih—merasa kaget akan perubahan kota Detroit. Detroit yang tadinya merupakan salah satu kota produsen otomotif terkemuka di dunia—yang mempunyai julukan Motor City—kemudian hancur karena krisis ekonomi, menyebabkan warga kulit putih dan kelas menengah pindah untuk mencari kestabilan pencaharian dan digantikan oleh imigran miskin dari berbagai macam negara. Lebih buruk lagi, dengan meningkatnya angka kriminalitas di Detroit. Bahkan washingtononpost.com melansir bahwa, pada tanggal 18 Juli 2014 pemerintah Kota Detroit telah melayangkan surat bangkrut kepada pemerintah Federal AS. Hal tersebut menjadikan mereka sebagai kota terbesar di dunia yang melayangkan kebangkrutan.

Pada akhirnya, setelah nonton film ini gua beripikir bahwa, Amerika Serikat juga belum mencapai cita-citanya—American dream—seperti yang James Truslow Adams bilang di bukunya The Epic of America, kalau setiap warga negara mempunyai keadilan dan kesetaraan dalam mencapai kemakmuran dan kebahagiaan. Banyak imigran yang telah mendapatkan green card dan ingin tinggal di Amerika Serikat masih terbuai akan impian tersebut, walaupun pada kenyataanya beberapa etnis atau ras masih ada yang miskin dan beberapa kota di negara bagian Amerika juga banyak yang bangkrut seperti, Detroit. Keinginan para imigran hidup di Amerika Serikat seakan-akan hanyalah kesadaran palsu bahwa—dengan tinggal di Amerika—mereka dapat makmur dan bahagia. Tidak, tidak seperti di negara asalnya.

Sumber:
http://www.washingtonpost.com/blogs/wonkblog/wp/2013/07/18/detroit-just-filed-for-bankruptcy-heres-how-it-got-there/
http://www.saga.co.uk/lifestyle/people/celebrities/clint-eastwood-talks-about-gran-torino.aspx
http://www.imdb.com/title/tt1205489/fullcredits?ref_=tt_ov_wr#writers
Sinisa Malesevic. 2004. The Sociology of Ethnicity. London: Sage Publications

Haning Nugrahadi


Title : Gran Torino

Years : 2008

Director : Clint Eastwood

Writing Credits : Nick Schenk & Dave Johannson

Cast : Clint Eastwood, Bee Vang, Carlos Guadarrama, Ahney Her, ect.

Tags: , , , , , , , , , , ,


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑