Film Her-Poster

Published on March 25th, 2014 | by Redaksi Sociozine

1

Her

Film yang rilis pada tahun 2013 ini menceritakan tentang kehidupan Theodore Twombly (Joaquin Phoenix) di Los Angeles yang ingin bercerai dari istrinya, Catherine (Rooney Mara). Film besutan Spike Jonze ini memenangkan 43 penghargaan, dan salah satunya adalah Oscar belum lama ini. Spike Jonze mengatakan bahwa film ini lebih bercerita mengenai cinta, dibandingkan dengan teknologi, sesuai dengan tagline-nya: A Spike Jonze Love Story.

Film ini dimulai dengan cerita Theodore yang membeli sebuah Operating System (OS) terbaru yang didesain untuk bisa beradaptasi dengan manusia dan berinteraksi dengannya. Ia memilih OS berjenis kelamin perempuan dan OS itu menamakan dirinya Samantha (Scarlett Johansson). Masalah terjadi saat Theodore menyadari bahwa ia jatuh cinta kepada teknologinya, OS nya. Samantha dapat berbicara layaknya manusia secara riil dan ia membantu Theodore dalam setiap pekerjaannya sebagai seorang penulis.

Tragisnya, kondisi manusia jatuh cinta dengan OS tidak hanya dialami oleh Theodore, tetapi juga sahabatnya, Amy (Amy Adams), rekan kerjanya dan manusia-manusia lain di luar sana. Terlebih lagi, ternyata kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di film, tetapi juga di dunia nyata! Terjadi pernikahan antara manusia dan karakter permainan di konsol game, Nene Anegasaki, dari permainan Love Plus. Dan ia mengatakan bahwa “the relationship is very real.”

Topik seperti ini pernah diteliti juga oleh Julie Carpenter dari University of Washinton di Seattle yang meneliti tentang tentara AS, yang mengatakan bahwa meskipun tentara-tentara AS menyadari bahwa hal tersebut adalah robot, tapi mereka merasakan sesuatu: mereka menamakan robotnya, menangis saat robot itu terluka dan mengubur saat robot itu ‘mati’.

Hal-hal seperti ini sudah terasa semakin ‘dekat’ atau semakin familiar. Pada Desember 2013, Scoff Huffman selaku directur engineering Google, mengatakan bahwa pihaknya sedang mengerjakan sebuah proyek dimana nantinya Google akan menjawab sebagaimana manusia menjawab. Clifford Naas, seorang profesor dari Stanford University mengatakan bahwa dengan teknologi menjadi lebih kompeten dan berbicara layaknya seorang manusia, kita akan lebih memiliki emotional attachment kepada teknologi.

Di Sosiologi kita mengenal Herbert Marcuse dalam happy wheels demo teorinya, irrationality of rationality, yang mengatakan bahwa sesuatu yang awalnya rasional, bisa menjadi irrasional. Terdapat irrasionalitas dalam segala rasionalitas. Teknologi, yang diciptakan dan digunakan manusia untuk mempermudah kehidupannya, menjadi ‘bumerang’ bagi dirinya sendiri. Sebuah survey pada tahun 2013 menemukan bahwa 57% pengguna handphone merasakan “personal connection” dengan handphone-nya, bahkan separuh dari mereka memberi nama untuk handphone-nya. Bagaimana manusia menjadi chatting dengan ‘robot’, seperti program Siri di iOS dan juga Simsimi bisa menjadi contoh, dan bukannya dengan manusia. Peneliti dan penulis buku Love and Sex with Robots, David Levy mengatakan bahwa bukan tidak mungkin akan lebih banyak kejadian manusia jatuh cinta dengan robot saat manusia bisa bersenang-senang ataupun memiliki percakapan yang menyenangkan dengan robot!

Menurut kaum Neomarxian, kehidupan masyarakat modern sarat dengan irasionalitas karena dunia, yang katanya rasional, justru bersifat destruktif pada kehidupan sosial dan hal ini bisa kita lihat pada film ini: bagaimana interaksi antara manusia digantikan oleh interaksi dengan teknologi, bahkan teknologi bisa membuat manusia ‘bertekuk lutut’. Semakin lama, manusia semakin kehilangan kemampuan berinteraksi dengan sesama manusia dan memilih untuk berinteraksi dengan teknologi. Sekali lagi, contoh pada Nene Anegasaki bisa dijadikan bahan renungan.

Film ini menunjukkan paradoks antara manusia dan teknologi: bagaimana kita mengetik sendirian, namun merasa terhubung dengan dunia luar; menuangkan keberanian di media sosial namun merasa tersembunyi; dan online relationship yang menenangkan tetapi palsu. “So close yet so far.”, paradoks yang menjelaskan situasi Theodore dan Samantha! Akhir kata, saya menemukan kalimat dari sebuah website yang saya baca dan membuat saya tersenyum setuju: ‘Her shows what’s happening today through a lens of fiction. Selamat menonton!

 

Hasty Larasati

 

Sumber:

http://www.newscientist.com/article/dn25057-cure-for-love-fall-for-a-robot-to-fend-off-heartache.html#.Ux6FLqKeUfc

http://jezebel.com/watch-spike-jonze-get-really-whiney-in-this-interview-a-1524417464/1525575132/+charliejane

http://www.thedailybeast.com/articles/2013/12/17/what-her-gets-right-about-technology-and-love.html

http://robohub.org/robot-love-spike-jonzes-new-sci-fi-film-her-may-be-closer-to-reality-than-you-think/

Tags: , , , , , , 1


About the Author

Redaksi Sociozine



One Response to Her

  1. ray ban uk says:

    I do not even know how I finished up right here, however I thought this put up was once good. I don’t recognize who you might be but certainly you are going to a well-known blogger for those who aren’t already ;) Cheers!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑