Film a

Published on May 25th, 2015 | by Masrio Bima Andika

0

Imajinasi Tentang Komunitas Sosial yang Berjalan Secara “Sempurna”: Sebuah Resensi Film The Giver

giver_ver13

Tahun: 2014

Negara Asal: Amerika Serikat

Director: Phillip Noyce

Pemain: Brandon Thwaites, Katie Holmes, Meryl Streep

Apa yang ada di dalam benak Anda, ketika disebutkan gambaran dari sebuah masyarakat yang teratur, tanpa perbedaan, tanpa adanya kebohongan, tanpa perselisihan, dan hidup bahagia berdampingan satu sama lain? Sebuah tempat dengan penuh senyuman setiap hari, anak-anak hidup sehat, setiap orang bisa merasa aman dalam berjalan kaki, atau berkendara, makanan semua sama dan sehat, dan setiap orang dapat pekerjaan yang sesuai. Sepertinya akan sangat menyenangkan sekali bisa hidup dalam lingkungan yang seperti itu. Pernahkah Anda membayangkan, bahwa, untuk menciptakan situasi seperti tadi perlu adanya penghilangan perasaan, perbedaan, bahkan warna? Diikuti dengan adanya pemerintah yang kuat, yang bisa memimpin masyarakat menuju ke arah yang lebih baik? Bagaimana kalau tempat seperti itu memang ada?

Film yang disutradarai oleh Phillip Noyce ini, bercerita tentang seorang remaja bernama Jonas yang dibintangi oleh Brenton Thwaites. Jonas hidup di sebuah komunitas baru yang diciptakan paska perang besar yang melanda dunia. Sehari-hari Jonas hidup dengan ayahnya (Alexander Skarsgard), ibunya (Katie Holmes) dan adiknya Lily (Emma Tremblay). Selain itu, Jonas juga memiliki 2 orang sahabat karib yaitu Fiona (Odeya Rush) dan Asher (Cameron Monaghan). Mereka hidup dalam harmoni bersama-sama hingga beranjak dewasa. Komunitas ini dibangun dengan aturan yang sangat ketat, dan sang tetua adat merupakan pemerintah yang sangat tegas akan aturan. Aturan-aturan tersebut, antara lain, selalu berbicara dengan kata dan kalimat yang tepat, menggunakan pakaian yang pantas, menggunakan suntikan pengobatan setiap pagi yang disediakan, mematuhi aturan jam malam, dan dilarang berbohong. Selain itu, tetua adat memiliki kemampuan untuk mengawasi penduduknya dengan berbagai macam alat yang ditempatkan di manapun. Pengawasan ini membuat setiap orang merasa aman dan nyaman. Komunitas ini pun hidup bahagia dalam sebuah tatanan sosial yang tertata rapi. Tetua adat ini dipimpin oleh seorang perempuan yang sering dipanggil Chief Elder dan diperankan oleh Meryl Streep.

Film ini mulai memasuki bagian yang menarik ketika Jonas terpilih menjadi seorang penerima memori. Ia bertugas khusus di komunitas sebagai orang yang memberikan saran kepada tetua adat mengenai bagaimana membentuk sebuah komunitas yang baik berdasarkan pengalaman di masa lalu yang kelam. Dari sinilah kehidupan Jonas berubah dalam melihat komunitasnya. Banyak hal yang menurut Jonas pada awalnya sangat manusiawi dan sangat indah, tetapi hilang dari kehidupan di dalam komunitasnya. Bahkan Jonas mulai merasa komunitasnya melakukan banyak hal yang kejam dan tidak manusiawi dalam membentuk komunitas yang menurut orang lain sangat baik.

Film ini menunjukkan bahwa dalam membentuk sebuah komunitas tidak semudah yang dibayangkan. Bahkan para tetua adat berusaha mengontrol setiap sendi kehidupan masyarakatnya. Mulai dari penentuan pekerjaan yang diukur berdasarkan pengamatan setiap hari, hingga penentuan anak yang layak untuk hidup. Ya, setiap keluarga di sana tidak melakukan sistem reproduksi sendiri karena melahirkan adalah sebuah pekerjaan bagi seorang ibu. Anak yang dilahirkan seorang ibu akan diberikan kepada setiap keluarga dalam komunitas secara adil. Para tetua adat menawarkan kehidupan yang lebih terjamin, mulai dari kesehatan, makanan bergizi, jaminan pekerjaan dan penghasilan, rumah bagi setiap orang, komunitas yang tidak pernah berkonflik satu sama lain, dan setiap kebutuhan dipenuhi oleh tetua adat.

Tetapi, apakah benar dengan menyerahkan segala sesuatunya kepada pemerintah untuk berlaku sesuka hatinya akan mendorong kehidupan ini menjadi baik atau hanya membuatnya menjadi sebuah komunitas yang semu? Karena pada dasarnya manusia adalah sosok yang unik, individu yang memiliki kepribadian, memiliki perbedaan baik secara perilaku, sikap dan nilai antara satu dengan lainnya. Peran tetua adat yang terlalu kuat justru akan menghilangkan keunikan setiap individu. Di sinilah muncul konfik dari bagaimana kita bisa mendudukkan posisi kita dalam masyarakat, apakah masyarakat harus selalu menuntun kita atau kita juga punya makna di dalamnya? Seperti yang Georg Simmel katakan “Individu yang tersosialisasi selalu berada dalam relasi ganda terhadap masyarakat. Individu ditentukan, tetapi menentukan. Bertindak sesuai dengan keinginan masyarakat, namun memengaruhi sendiri keinginan masyarakat.” (Coser, 1965 dalam Ritzer, 2010).

Akhir kata, film ini mempertontonkan bahwa perbedaan itu tidak selalu menonjolkan pada perselisihan, tetapi juga memberikan warna lain dalam kehidupan. Beragamnya suku dan budaya, agama dengan perbedaannya dalam melakukan setiap ritual dan dalam merayakan hari rayanya, perbedaan bahasa dan gaya hidup suatu negara, dan lain sebagainya. Perbedaan itu tidak selalu hal yang menakutkan kalau kita bisa meresapinya lebih dalam, justru membawa keberagaman dalam kehidupan.

Daftar Pustaka

Ritzer, George. 2010. Sociological Theory: Eighth Edition. New York: McGraw-Hill

Tags: , , ,


About the Author

Masrio Bima Andika

Mahasiswa Sosiologi 2012. Penggemar Berat Arsenal Football Club. Tertarik dalam isu Pembangunan, Konflik dalam Pembangunan dan Pendidikan. Saat ini aktif di Yayasan Sosial Permata Insani.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑