Film a

Published on September 16th, 2015 | by Redaksi Sociozine

1

Requiem For A Dream

Requiem-For-A-Dream-poster-2

Tahun: 2000

Negara Asal: Amerika Serikat

Director: Darren Aronofsky

Pemain: Ellen Burstyn, Jared Leto, Jennifer Connelly, Marlon Wayans

 

Dari judulnya, Requiem For A Dream mungkin nampak tidak sesuai dengan poster film yang menggunakan sebuah bola mata. Kata “requiem” sendiri berkaitan dengan “death” atau kematian, sehingga bisa dikatakan film ini menceritakan “the death of a dream”. Lantas apa hubungannya bola mata dengan matinya mimpi seseorang? Jawabannya bisa ditemukan dalam film ini. Secara singkat, film ini menceritakan kehidupan keluarga Goldfarb yaitu sang Ibu, Sara Goldfarb (Ellen Burstyn) dan anaknya, Harry Goldfarb (Jared Leto). Sara merupakan seorang janda kesepian dan tinggal di panti jompo. Harry tidak lagi tinggal dengannya dan Sara biasanya hanya menghabiskan waktu dengan nonton acara TV dan berkumpul dengan rekannya yang juga sudah tua. Harry adalah seorang pemakai dan pengedar narkoba, kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan pacarnya, Marion (Jennifer Connelly) dan sahabatnya, Tyrone (Marlon Wayans). Masalah mulai muncul saat kegilaannya terhadap narkoba semakin menjadi-jadi, sehingga ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan narkoba. Sementara, Sara terobsesi menjadi kurus sehingga ia mengkonsumsi obat diet secara ketat. Hal ini dilakukannya agar bisa menggunakan baju kesayangannya saat diundang ke acara TV kesukaannya.Baju itu pula yang menjadi baju kesukaan mendiang suaminya, Seymour, sehingga untuknya, baju itu memiliki nilai memorial yang penting. Keduanya kemudian memasuki fase terparah ketika mereka mulai berhalusinasi. Harry dengan “sakaw” narkoba dan Sara yang “sakaw” makanan.

Purple in the morning, blue in the afternoon, orange in the morning and green at night. Just like that. One, two, three, four.” ― Sara Goldfarb

Perilaku Sara yang ingin menjadi kurus, sehingga bisa memakai baju lamanya lagi mungkin tidaklah salah. Tetapi, hal ini menjadi parah jika ia mengkonsumsi obat-obat diet yang memiliki dosis tinggi, padahal itu bisa mengancam kesehatannya. Eloise, seorang warga Inggris berusia 21 tahun, adalah salah satu contohnya. Ia meminum obat diet berdosis tinggi yang mengandung dinitrophenol (DNP), senyawa kimia yang biasa digunakan di bidang industri dan menyebabkan kematian. Chris Wilcock, 45 tahun, meninggal karena menenggak obat diet T5. Chris mengkonsumsi obat ini karena berpikir ia gemuk, walau dalam kenyataannya ia memiliki berat badan yang cukup normal. Kasus ini bisa dilihat secara sosiologis bagaimana keinginan seseorangmenjadi kurus, yang menjadi “standar” kecantikan saat ini,sangatlah besar.

Menurut Beck (2012), tubuh adalah hasil dari konstruksi sosial. Konstruksi sosial sendiri bisa dilakukan oleh berbagai agen, salah satunya adalah media. Coba lihat bintang film atau model. Bagaimana tipe badannya? Ya, tinggi semampai, rambut lurus dan panjang terurai, berhidung mancung, bibir kecil dan merah, dan… bertubuh kurus! Obsesi perempuan setelah terpapar oleh “tipe ideal” perempuan, melalui media, kemudian menginginkan tubuhnya menjadi seperti itu. Untuk menjadi kurus, bisa menjadikan olahraga sebagai sarana penurun berat badan ataupun meminum obat diet.

Media yang kita lihat adalah salah satu produk dari globalisasi. Secara singkat, globalisasi, menurut Beck (2012), adalah suatu kondisi sosial, ketika sesuatu terjadi, bisa mempengaruhi belahan dunia yang lain, baik secara disengaja ataupun tidak. Globalisasi tidak selalu dunia ekonomi atau politik, tetapi juga sosial dan budaya. Dan media adalah salah satu roda penggerak globalisasi. Pesan moral dari iklan suatu barang akan ditransfer kepada individu melalui media yang kita lihat, seperti: koran, majalah, televisi, internet ataupun radio. Sehingga, obsesi untuk menjadi kurus bisa dikatakan sebagai salah satu dampak dari globalisasi. Tidak hanya globalisasi, tetapi juga sosialiasi media massa. Menurut Farley, ada empat tipe dalam sosialisasi dan salah satunya adalah modelling yang melihat bahwa sosialisasi dilakukan secara berulang-ulang dan sistematis dengan harapan perilaku yang dilakukan oleh agen terlihat dan diperhatikan oleh individu, sehingga individu akan mengikutinya. Melalui iklan yang dihasilkan, terdapat hidden message yang diharapkan oleh sang agen agar masyarakat bisa mengikutinya. Penggunaan model tinggi dan kurus bisa membuat masyarakat mempunyai pola pikir standar kecantikan adalah perempuan yang tinggi dan kurus. Terlebih, iklan-iklan seperti ini tidak hanya satu atau dua saja, tetapi banyak brand lain, ataupun frekuensi penayangan yang banyak, sehingga membuat masyarakat akan semakin sering melihatnya.

Meskipun memiliki tubuh kurus menjadi impian ‘hampir’ semua wanita, namun bukan berarti semua wanita menginginkan tubuhnya menjadi “hasil konstruksi sosial”. Sebut saja penyanyi Adele yang ketika ditanyakan mengenai tubuhnya, ia menjawab “I don’t make music for eyes, I make music for ears.” Maka itu Sociozine mengajak, yuk, cintai tubuhmu sendiri! You set your own happiness, don’t let them tell yours! Entah tubuhmu kurus atau gemuk, selama kamu sehat, itu bukanlah masalah!

Film karya Darren Aronofsky ini berhasil menyampaikan pesan mengenai bahaya narkoba dan obat diet tanpa terkesan menggurui penontonnya. Hebatnya, film ini juga memenangi berbagai penghargaan, sebut saja AFI Awards sebagai Movie of the Year, Boston Society of Film Critics Award dan Circuit Community Awards. Ellen Burstyn juga turut menjadi nominasi “Best Actress in a Leading Role” di Academy Award dan “Best Performance in an Actress” di Golden Globes karena aktingnya yang sangat memukau. Selain itu, Aronofsky juga meminta Jared Leto dan Marlon Wayans untuk puasa gula dan seks untuk lebih memahami perasaan “sakaw” itu, sehingga akting yang dihasilkan juga benar-benar “dihayati”. Akhir kata, selamat beraktivitas dan think beyond!

 

Sumber

Beck, Les. 2012. Cultural Sociology: An Introduction. West Sussex: Blackwell Publishing

IMDb: Requiem For A Dream http://www.imdb.com/title/tt0180093/?ref_=ttawd_awd_tt

Marie Claire: Adele: ‘I Make Music For Ears, Not Eyes’ http://www.marieclaire.co.uk/news/celebrity/522870/adele-i-make-music-for-ears-not-eyes.html

‘My Fiancé’ Took T5 Diet Pills Thinking He Was Fat- Hours Later He Died http://www.mirror.co.uk/news/real-life-stories/my-fianc-took-t5-diet-5861034

The Guardian: Woman Dies After Taking ‘Diet Pills’ Bought Over Internet http://www.theguardian.com/society/2015/apr/21/woman-dies-after-taking-diet-pills-bought-over-internet

Tags: , , , , , ,


About the Author

Redaksi Sociozine



One Response to Requiem For A Dream

  1. Fidelia says:

    What an awesome way to explain this-now I know evhgnteiyr!

Leave a Reply to Fidelia Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑