Film image_the_simpson

Published on April 2nd, 2012 | by Chandraditya Kusuma

0

The Simpsons: Serial TV Terbaik Abad Ini yang Menolak Konformitas

Siapa yang belum pernah nonton The Simpsons? Rasanya tidak ada generasi kita ini yang belum menonton sitkom animasi dari Amerika yang diciptakan oleh Matt Groening untuk Fox Broadcasting Company ini. Serial ini merupakan parodi satir akan kehidupan warga kelas menengah Amerika yang dicerminkan oleh perilaku keluarga Simpson. Semenjak debutnya pada tahun 1989, The Simpsons telah tayang sejumlah 495 episode dan musim ke 23nya mulai tayang pada 25 September 2011.

Setelah berjalan selama tiga musim, acara The Simpsons telah

berubah menjadi acara prime time berdurasi setengah jam di Fox (Amerika). di Indonesia, The Simpsons sempat tayang pada jam malam di RCTI disekitar awal era 2000an serta beberapa tahun belakangan ini kembali tayang di televisi berlangganan dalam channel Fox International. The Simpsons Movie, versi layar lebar dari serial The Simpsons ditayangkan secara worldwide pada 26 July dan 27 July 2007 dengan keuntungan kotor sebesar $527 juta.

Semenjak debutnya, The Simpsons telah memenangkan banyak penghargaan, diantaranya 27 Primetime Emmy Awards, 27 Annie Awards dan satu Peabody Award. Majalah Time pada 31 Desember 1999 melansir The Simpsons sebagai serial televisi nomor satu untuk abad keduapuluh. The Simpsons pun telah masuk dalam daftar Hollywood Walk of Fame.

Apa yang membuat The Simpsons sebegitu menariknya sampai mendapatkan berbagai pengakuan internasional? Sebagai sebuah karya seni, The Simpsons telah mendobrak berbagai norma umum, baik yang ada pada karya seni dan juga yang ada pada masyarakatnya sendiri.

The Simpsons merupakan parodi yang menggambarkan kehidupan keluarga tipikal kota kelas menengah Amerika.  Keluarga Simpson tinggal di sebuah kota fiksional bernama “Springfield”. Homer, berperan sebagai ayah di keluarga tersebut bekerja sebagai pengawas keamanan di Springfield Nuclear Power Plant, posisi yang aneh untuk orang yang digambarkan tidak peduli dan ceroboh. Homer menikah dengan Marge, istri dan ibu Amerika yang stereotipikal. Mereka memiliki tiga anak, Bart, pembuat masalah yang berusia sepuluh tahun; Lisa, anak delapan tahun yang merupakan aktivis; dan Maggie, bayi yang jarang berbicara namun berkomunikasi dengan dot nya. Karakter-karakter lain juga bermunculan di The Simpsons, berkisar dari orang-orang disekitar keluarga tersebut seperti rekan kerja, guru, teman keluarga, orang kota, dan selebriti lokal yang muncul sesekali sesuai dengan tema.

Sebagai sebuah seni postmodern, The Simpsons menolak untuk menjadi karya yang konform dengan norma-norma perfilman dan masyarakat umumnya. Hal ini tercermin dari narasi yang tidak linier dari episode-episodenya yang menciptakan kebingungan antara ruang dan waktu. Pada serial ini, tiap-tiap episodenya merupakan sebuah awalan baru, sesuatu hal yang tidak biasa dalam sebuah karya seni karena melampaui kebiasaan-kebiasaan dan logika umum. Tidak bertambahnya umur karakter the Simpsons juga menunjukkan keunikan dari acara ini. Keluarga Simpson tidak memiliki waktu dan tempat. Mereka tidak ada dimana-mana, tidak ada dalam waktu apapun, dan tidak merepresentasikan keluarga tertentu, akan tetapi secara paradoks, mereka merupakan cermin setiap keluarga dalam masyarakat postmodern.

The Simpsons juga menolak untuk mengikuti norma-norma yang telah pakem pada film atau sitkom biasanya yang ceritanya mengikuti/konform dengan norma yang umum pada masyarakat. The Simpsons di lain sisi justru bertujuan untuk merayakan keberagaman kultur dan membawanya ke permukaan. The Simpsons secara sadar telah mempromosikan diversitas etnis, gender, orientasi seksual, serta status sosial ekonomi melalui karakter-karakter ataupun jalan cerita dari tayangannya.

Sitkom yang mengundang gelak tawa pemirsa televisi di berbagai negara ini secara konstan bermain-main dengan agama, pemerintah, dan berbagai karakter berpengaruh lainnya. Contohnya adalah saat Homer memberikan jiwanya kepada setan untuk sebuah kue donat, saat ia terbunuh oleh brokoli dan menuju pintu surga, saat ia mencoba memvoting Obama namun suaranya masuk untuk McCain. Hal ini menunjukkan bagaimana The Simpsons menolak untuk konform dengan norma umum dan tidak memiliki narasi besar yang biasanya ada.

Mungkin para penikmat dari serial tv sensasional ini melihat tayangan The Simpsons menjadi semacam pembebasan dari film-film dan bahkan dunia ini sendiri yang terlalu kaku dan jenuh dengan segala aturan dan kepakemannya. Dunia yang terbolak-balik, tak teratur, dan seakan-akan lari dari kenyataan ini menjadi tayangan yang segar yang membuat kita tersenyum, tertawa terbahak-bahak dan sejenak lupa atau mungkin memang benar-benar lupa akan dunia yang kadang terlalu kaku dan menjenuhkan.

____________

Chandraditya Kusuma, Sosiologi UI 2009

Tags:


About the Author

Chandraditya Kusuma

Mahasiswa Sosiologi UI 2009. Sedang aktif di bidang penelitian sosial. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Sociozine tahun 2012.



0 Responses to The Simpsons: Serial TV Terbaik Abad Ini yang Menolak Konformitas

  1. gr15 says:

    tapi untuk segala bentuk “penayangan” ada skala atau filter…. bolehkah aku tahu, sthe simpsons ini untuk kategori umur berapakah???? apakah semua umur? padahal menurutku banyak kata/kalimat yang “saru” dan terkesan “sangat terlalu jujur”…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑