Film the true cost

Published on November 22nd, 2015 | by Tri Apriliani

0

The True Cost

TheTrueCost_Poster_2764x4096Tahun: 2015

Negara Asal: Amerika Serikat

Director: Andrew Morgan

Pemain: Vandana Shiva, Stella McCartney, Safia Minney

 

Dalam posternya, The True Costmengusung sebuah premis “who pays the price for our clothing?” ― Sebuah film dokumenter tahun 2015 yang menceritakan tentang industri fashion. Lengkapnya, The True Cost menceritakan masalah-masalah yang hadir dengan adanya industri fast fashion, yang merupakan koleksi pakaian murah berdasarkan tren terkini dari brand fashion mewah yang secara alamiah merupakan sistem respon yang mendorong disposability (Fletcher, 2008). Fast fashion dianut oleh para retailer dari berbagai luxury brand seperti H&M, Zara, Top Shop, GAP dan sebagainya. Retailer dalam bidang ini berusaha menekan biaya produksi seminimal mungkin agar bisa dijangkau oleh konsumen yang menginginkan luxury brand dengan harga murah. Akan tetapi, kita sebagai konsumen tidak pernah tahu apa yang terjadi pada buruh pabrik yang memproduksi brand tersebut, orang-orang yang terdampak industri ini dan juga lingkungan. Maka dari itu, film ini hadir untuk mengkritik dampak darisisi gelap dunia fashion dan membuka mata kita sebagai konsumen agar lebih bijak dalam memilih dan membeli pakaian.

Ketidakmampuan Amerika dan Eropa untuk memproduksi kebutuhan fashion sendiri membuat negara berkembang turut andil melalui industri outsource. Sehingga, dampak yang ditimbulkan industri fast fashion lebih besar di negara berkembang. Dalam film ini diceritakan bagaimana buruh industri fast fashion di Bangladesh mengalami eksploitasi dengan tidak didapatkannya upah layak akibat pemotongan biaya produksi. Hal ini disebabkan retailer brand banyak meminta reduksi harga. Arif Jebtik, seorang pemilik pabrik garmen menyatakan ketika salah satu toko memesan dan menegosiasikan harga mereka menjelaskan padanya jika;

 “Toko lain menjual pakaian $5 maka saya akan menjualnya $4, jadi kamu harus mereduksi harganya”

 Sedangkan toko lain juga menawarkan harga:

“Toko itu menjual $4, jika kamu bisa menjual $3, maka berbisnislah dengan saya atau kamu tidak dapat apa-apa”

Mereka tidak punya pilihan apapun, sehingga akhirnya mereka menerimanya. Memotong biaya dengan mengabaikan keselamatan dan keamanan pada akhirnya banyak menjadi pilihan dan diterima sebagai bagian dalam industri ini. Terlebih, pabrik tidak difasilitasi dengan sarana yang memadai bagi buruh. Dampak fast fashion pun berimbas pada lingkungan karena bahan baku utama pembuatan pakaian adalah kapuk. Dengan demikian, petani kapuk juga harus bekerja mengikuti kebutuhan industri fast fashion. Pasalnya, perputaran fast fashion sangat cepat sehingga membutuhkan bahan baku yang cepat pula. Sehingga, penggunaan pestisida dalam percepatan produksi kapuk juga menjadi penyebab kerusakan lingkungan dan juga sumber penyakit kelainan fisik pada anak-anak di lingkungan pabrik tersebut.

Cepatnya perputaran fast fashion juga berimbas pada disposability, yaitu pembuangan pakaian secara sia-sia. Fast fashion secara tidak langsung membuat konsumen mengadopsi wasteful culture. Sehingga ketika ada mode terbaru, konsumen akan selalu ingin membeli pakaian karena harga yang murah. Dengan menumpuknya pakaian yang tidak terpakai, pakaian hanya menjadi sampah yang akan dibuang. Selain menjadi limbah yang bisa menyebabkan polusi gas berbahaya, kebanyakan limbah pakaian menjadi komoditas ekspor ke berbagai negara berkembang. Sehingga rantai dari dampak industri fast fashion terus menimbulkan efek domino.

Secara sosiologis, kita bisa melihat adanya dua sisi dari industri fast fashion yang terkait dengan hubungan antara buruh, pemodal, dan negara. Satu sisi, produksi barang-barang fast fashion yang dilakukan di negara berkembang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan negara dan menurunkan angka pengangguran, tetapi di sisi lain justru dengan semakin maraknya produksi barang-barang ini maka semakin meningkat pula eksploitasi buruh.

Banyak iklan memberi sugesti bahwa materialisme dan mengejar kepemilikan barang akan membuat kita bahagia. Salah satunya adalah media yang membuat konsumen tertarik membeli pakaian dari luxury brand dengan harga murah karena mereka menawarkan “the way to solve the problem of your life is through consumption” sehingga orang akan terus menjadi konsumtif. Selain media, perdagangan internasional sebagai efek globalisasi juga berpengaruh terhadap konsumsi. Manusia dituntut untuk semakin mengikuti apa yang sedang terjadi di dunia, bahkan tren fashion sekalipun. Maka tidak heran bagi sebagian orang, barang dari beberapa retailer fashion dianggap sebagai barang mewah dan adalah sebuah prestise jika bisa memilikinya. Uniknya fast fashion berani bersaing dengan menawarkan harga murah sehingga kapasitas konsumen semakin besar untuk dapat membelinya.

Secara keseluruhan, film ini menarik untuk ditonton dan banyak pesan yang disampaikan agar kita tidak hanya melihat sebuah realita dari satu sisi. Penyampaian pesan yang mudah dipahami tidak akan membuat penonton bosan menontonnya. Selamat menonton dan think beyond!

 

 

Sumber:

Fletcher, K. 2008. Sustainable Fashion & Textiles: Design Journeys. Oxford: Earthscan

Our Culture of Waste: Why We Should Stop Wasting (and How to Prevent Waste)http://personalexcellence.co/blog/how-to-prevent-waste/

The True Cost Movie (2015)http://www.imdb.com/title/tt3162938

Tags: , , ,


About the Author

Tri Apriliani

Mahasiswi Sosiologi 2012. Fangirl Panic at the Disco, hobi ngaskus dan baca review apapun di dunia maya. Suka nonton film bergenre misteri dan dokumenter. Belakangan tertarik dengan masalah agama, perubahan sosial dan industri.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑