Film virginsuicides1

Published on February 27th, 2014 | by Redaksi Sociozine

0

The Virgin Suicides

The Virgin Suicides diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama, karya Jeffrey Eugenides. Film ini bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga di masa pertengahan tahun 1970-an di kota Michigan, Amerika Serikat. Film karya Sofia Coppola tahun 1999 ini menceritakan tentang kehidupan lima anak perempuan keluarga Lisbon: Therese (Leslie Hayman), Mary (A. J. Cook), Bonnie (Chelse Swain), Lux (Kirsten Dunst), dan Cecilia (Hanna R. Hall). Mereka hidup bersama kedua orang tuanya yang overprotective, Ronald (James Woods) and Sara (Kathleen Turner).

Perlakuan orang tua mereka yang overprotective pun membuat mereka semua tertekan dan berujung pada depresi sehingga satu per satu anak perempuan Lisbon melakukan bunuh diri (suicide). Cecilia, sang putri bungsu memulai kisah tragis dengan mengakhiri hidupnya. Namun dengan adanya kejadian ini, Ronald dan Sara mencoba untuk memberi sedikit kebebasan kepada anak-anaknya. Mereka mulai memperbolehkan anak-anaknya pergi berkencan.

Namun, kebebasan tersebut digunakan dengan terlalu jauh oleh Lux sehingga Ronald dan Sara meradang. Mereka pun akhirnya memberi hukuman kepada anak-anaknya dengan kurungan rumah dan memaksa mereka berhenti sekolah. Karena perlakuan yang terlalu mengekang mereka, satu per satu gadis Lisbon pun memutuskan untuk mengakhiri nyawanya.

Selain menceritakan tentang keluarga Lisbon, terdapat juga cerita tentang 4 anak laki-laki tetangga keluarga Lisbon yang menjadi stalker dan terobsesi pada keluarga Lisbon. Selain jalan cerita yang tidak pasaran, yang saya sukai dari film ini adalah gaya penyutradaraan Sofia Coppola yang sangat khas di setiap filmnya, seperti Lost In Translation atau The Bling Ring, dan juga soundtrack-nya yang terasa sangat pas untuk setiap scene.

Film ini bisa menggambarkan secara sederhana penelitian Emile Durkheim yang berjudul Suicide. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa banyaknya kasus bunuh diri di masyarakat tidak hanya berkaitan dengan urusan pribadi saja seperti patah hati, kegagalan, dan sebagainya. Tapi angka bunuh diri masyarakat juga berkaitan dengan regulasi. Durkheim mengatakan bahwa tingginya regulasi/aturan bisa mengakibatkan bunuh diri yang disebut bunuh diri fatalistik. Durkheim  mengatakan bahwa dengan banyaknya tekanan, ruang gerak mereka pun semakin terhimpit dan membuat mereka ‘menyerah’ pada ‘takdir’ (fakta sosial) dengan melakukan bunuh diri. Demikian juga dengan anak-anak keluarga Lisbon. Mereka memilih untuk bunuh diri karena terhimpit oleh tekanan-tekanan yang diberikan oleh orangtua mereka.

Hasty Larasati, Sosiologi 2012.

Tags:


About the Author

Redaksi Sociozine



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑