Ulasan ASEAN-Economic-Community

Published on April 28th, 2015 | by Arief Rahadian

0

Gerakan Sosial Pemuda berbasis “Asian Values” dalam rangka mewujudkan Integrasi Sosial Masyarakat ASEAN

Integrasi sosial merujuk pada sosiolog klasik, Emile Durkheim, yang menjelaskan integrasi sosial melalui konsep collective conscience, atau kesadaran kolektif. Bagi Durkheim, manusia pada dasarnya adalah makhluk yang egois, namun, kesamaan nilai, norma, dan kepercayaan mengikat mereka menjadi sebuah masyarakat[1]. Berbicara tentang integrasi sosial, dalam waktu dekat ini, kita menghadapi ASEAN Economic Community. Apa itu ASEAN Economic Community, dan apa relevansinya dengan konsep integrasi sosial?

ASEAN Economic Community

ASEAN Economic Community merupakan hasil kesepakatan dari para pemimpin negara ASEAN untuk mewujudkan ASEAN sebagai wilayah dengan kebebasan transfer barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja. Dengan kata lain, ASEAN Economic Community merupakan kebijakan pasar bebas dengan cara menghilangkan tarif impor bagi sesama negara anggota ASEAN[2]. Lalu apa relevansi dari keberadaan ASEAN Economic Community ini dengan integrasi sosial?

Hilangnya tarif impor, bukan hanya impor barang melainkan impor tenaga kerja dan modal akan menciptakan iklim kompetisi yang sangat kuat. Iklim kompetisi inilah yang dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, negara-negara ASEAN memiliki kebebasan untuk berkompetisi secara setara, namun di sisi lain, layaknya pertandingan olahraga, jika tidak ada nilai yang mengikat para atlit menjadi satu, sebut saja nilai sportivitas, maka kemungkinan besar konflik akan terjadi. Hal ini sejalan dengan kerangka berpikir Durkheim mengenai integrasi sosial. Integrasi sosial tidak akan hadir tanpa adanya kesamaan nilai, norma, atau kepercayaan yang mengikat masyarakat ASEAN menjadi satu. Lalu, apakah ASEAN mempunyai nilai, norma, atau kepercayaan yang dapat mengikat mereka menjadi satu? Kalau iya, seperti apakah bentuk nilai tersebut?

Asian Values

Salah satu bahasan terkait Asian values yang cukup terkenal adalah pernyataan mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew. Bagi Lee, Asian values,  yaitu nilai kerja keras dan kedisiplinan, membuat Singapura dapat maju secara ekonomi[3]. Tokoh lain, Liu Xingque, mengemukakan beberapa karakteristik Asian Values lainnya yaitu collectivism, hierarchy, serta interpersonal harmony[4].

Liu menjelaskan bahwa masyarakat Asia memiliki keterikatan yang sangat erat dengan komunitasnya.Hal ini tercermin dari kedekatan individu dengan keluarganya. Bagi Liu, berbeda dengan masyarakat barat yang individualis, masyarakat Asia relatif lebih menghargai kolektif dibandingkan individu. Liu juga menjelaskan bahwa masyarakat Asia bersifat hierarkis. Masing-masing orang memiliki posisinya sendiri, baik di atas, di tengah, maupun di bawah dalam sebuah struktur sosial. Implikasi dari masyarakat yang hierarkis ini adalah keteraturan dan kemudahan organisasi. Terakhir, Liu menjelaskan bahwa masyarakat Asia mementingkan kedamaian dan harmoni, serta menghindari konflik[5].

Konsep Asian values ini sendiri tidak serta-merta disetujui begitu saja. Amartya Sen menyatakan bahwa masyarakat Asia yang heterogen akan menghasilkan nilai yang heterogen pula, sehingga keberadaan Asian values dianggap terlalu menggeneralisir masyarakat Asia yang beragam[6]. Kritik Sen terhadap Asian values dan heterogenitas nilai masyarakat Asia memperlihatkan kondisi integrasi sosial yang masih terpisah atau segmental, karena alih-alih diikat oleh satu nilai, norma, atau kepercayaan; masyarakat Asia masih diikat dengan nilai, norma, dan kepercayaan yang berbeda-beda. Lalu bagaimanakah cara untuk mewujudkan integrasi sosial dan menciptakan masyarakat ASEAN yang satu?

Gerakan Sosial

Charles Tilly, seorang sosiolog Amerika merupakan salah satu tokoh yang membahas gerakan sosial secara mendalam. Bagi Tilly, gerakan sosial adalah tindakan kampanye yang dilakukan secara berkelanjutan, di mana sekelompok orang mengajukan klaim, atau pernyataan terhadap orang lain[7]. Gerakan sosial feminis dengan klaim kesetaraan gender dan gerakan sosial greenpeace dengan klaim pentingnya menjaga alam merupakan contoh dari gerakan sosial. Sosiolog lain, Manuel Castell menjelaskan bahwa sebuah gerakan sosial memiliki tiga syarat yaitu identitas gerakan, tujuan gerakan, dan lawan gerakan[8].

Identitas gerakan mengacu pada definisi dari orang-orang yang melakukan gerakan tersebut. Lawan gerakan mengacu pada common enemies dari gerakan tersebut, sedangkan tujuan gerakan mengacu pada tatanan sosial, atau kondisi macam apa yang ingin mereka ciptakan dari gerakan sosial tersebut. Melalui konsep ini, Castell menjelaskan bahwa kesamaan identitas tidak serta merta akan membawa perubahan. Diperlukan tujuan, serta musuh bersama disamping kesamaan identitas untuk melakukan perubahan.

Lalu, apakah sebenarnya relevansi antara gerakan sosial dan integrasi sosial masyarakat ASEAN? Gerakan sosial merupakan solusi bagi permasalahan integrasi sosial yang dihadapi masyarakat ASEAN. Gerakan sosial memperkuat identitas kelompok di level makro, atau global. Dengan kata lain, integrasi sosial dapat diciptakan melalui gerakan sosial, bahkan pada kelompok-kelompok sekunder yang memiliki ikatan formal seperti ASEAN. Permasalahan selanjutnya adalah mengidentifikasi identitas, tujuan, lawan gerakan, bentuk gerakan, serta relevansi Asian values dalam gerakan sosial ini.

Identitas merupakan konsep yang kompleks. Sosiolog Richard Jenkins menjelaskan bahwa konstruksi identitas terkait dengan mengklasifikasikan pihak mana yang memiliki similiarity, dan pihak mana yang memiliki difference[9]. Dalam hal ini, Asian values menjadi nilai strategis sebagai basis identifikasi masyarakat ASEAN. Asian values merupakan bentuk similiarity dengan mencerminkan “ke-Asia-an” masyarakat ASEAN, sekaligus merupakan bentuk difference yang membedakan antara nilai-nilai East seperti disiplin dan kerja keras, dengan nilai-nilai West seperti individualisme. Asian values juga memberikan tujuan gerakan, yaitu memperkuat solidaritas masyarakat Asia, yang dalam kasus ini dapat dikhususkan ke konteks masyarakat ASEAN. Selain itu, Asian values juga menyediakan lawan gerakan, yaitu The West, baik kapitalisme barat maupun hegemoni budaya barat. Dapat dilihat bahwa Asian values ternyata relevan dengan konsep gerakan sosial. Asian values menyediakan identitas gerakan, tujuan gerakan, serta lawan gerakan. Lebih lanjut, ketika ketiga syarat tersebut sudah terpenuhi, gerakan seperti apakah yang ideal dalam mewujudkan integrasi masyarakat ASEAN?

Penulis melihat bahwa gerakan pemuda, khususnya akademisi, merupakan bentuk gerakan sosial yang ideal untuk meningkatkan integrasi sosial masyarakat ASEAN. Mengapa pemuda? Dan mengapa akademisi? Sejarah membuktikan, di Indonesia, gerakan pemuda dapat menjatuhkan sebuah rezim dan membawa Indonesia ke era reformasi[10]. Indonesia juga memiliki keuntungan, karena dalam kurun waktu dua tahun, Indonesia akan mengalami bonus demografi, sebuah kondisi di mana jumlah warga negara yang produktif akan melebihi jumlah warga negara yang tidak produktif. Dengan kata lain, Indonesia memiliki kuantitas sumber daya pemuda yang sangat besar[11]. Pentingnya peran akademisi dapat dilihat dari konsep triple helix model yang dikemukakan oleh Etzkowitz dan Etzkowitz[12]. Triple helix model menjelaskan bahwa untuk menciptakan masyarakat yang kreatif dan inovatif, dibutuhkan peran aktif dari tiga aktor utama yaitu negara, industri, dan universitas.

Lalu bagaimanakah bentuk gerakan yang ideal untuk dilakukan? Gerakan ini dapat berbentuk seperti pusat kajian pemuda ASEAN, Kongress Pemuda ASEAN, dan himpunan-himpunan kemahasiswaan di level ASEAN. Isu yang dibawa tentu saja isu mengenai gerakan East vs West. Gerakan-gerakan sosial lain yang basisnya masih kenegaraan, seperti gerakan buruh, feminis, bahkan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender) juga bisa ditarik ke level ASEAN untuk memperkuat integrasi sosial masyarakat ASEAN. Keberadaan ASEAN Economic Community dapat dilihat sebagai sebuah kesempatan, kesempatan untuk memimpin sebuah gerakan menuju masa depan ASEAN yang lebih baik.

Pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah, apakah mungkin gerakan sosial muncul begitu saja? Jawabannya tentu saja tidak. Kenyataan yang terjadi sekarang adalah, kita memiliki Asian values, namun tidak ada gerakan yang terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal masih mengikat integrasi sosial di level negara, bahkan di level etnisitas. Oleh karena itu, dibutuhkan peran aktif dari pemerintah, khususnya pemerintah negara-negara anggota ASEAN dalam mensosialisasikan Asian values kepada warga negaranya. Hal ini juga sesuai dengan triple helix model, di mana selain peran universitas, peran pemerintah juga diperlukan untuk membangun masyarakat yang kreatif dan inovatif.

CATATAN KAKI:

[1]Kenneth Allan; Kenneth D. Allan.”Explorations in Classical Sociological Theory: Seeing the Social World”. Pine Forge Press. p. 137.

[2]ASEAN Economic Community Factbook. http://www.aseansec.org/wp-content/uploads/2013/07/ASEAN_AECFactBook.pdf. Diakses pada tanggal 28 April 2014

[3] Elgin, Molly. “Asian Values”. http://www.stanford.edu/group/sjeaa/journal102/10-2_12%20SeA-Elgin.pdf Stanford University: 2010. Diakses pada tanggal 28 April 2014

[4] Qingxue, Liu “Understanding Different Cultural Patterns or Orientation Between East and West”. Investigationes Linguisticae: 2003

[5] Ibid, P4-7.

[6] Sen, Amartya “Human Rights and Asian Values”. Carnegie Council of Ethics and International Affair: 1997.

[7] Tilly, Charles “Social Movements, 1768-2004”. Paradigm Publishers: 2004.

[8] Ibid, p74

[9] Jenkins, Richard. “Social Identity”. Routledge: 2008

[10]Sherrod, Lonnie R. Youth activism: an international encyclopedia. Greenwood Publishing Group:2006.

[11] Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. “2017-2019 Puncak Bonus Demografi” http://www.menkokesra.go.id/content/2017-2019-puncak-bonus-demografi Diakses tanggal 29 April 2014.

[12] The Triple Helix Concept. http://triplehelix.stanford.edu/3helix_concept. Stanford University

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


About the Author

Arief Rahadian

Mahasiswa Sosiologi 2011. Tertarik dalam isu agama dan isu-isu sosiologis. Terkenal dengan omongan-omongan kontroversialnya yang sering dianggap "tabu" tapi menarik untuk dipikirkan.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑